Advertisement

Membangun Tapi Merugikan














MUNGKIN judul di atas terkesan emosional, tetapi itu bukanlah sebuah luapan kegeraman, melainkan potret asli sebuah peristiwa memilukan dan memprihatinkan yang melanda rakyat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di saat rakyat dilanda oleh kerasnya krisis ekonomi, sosial, dan keamanan yang tak kunjung usai, oknum pejabat justru dengan seenaknya menghambur-hamburkan uang rakyat. Belakangan ditemukan satu fakta bahwa ada sebuah sekolah yang dibangun dengan dana sebesar 1 milyar digusur oleh perusahaan tambang batu bara.

Penggusuran terkesan legal karena memang bangunan sekolah yang didirikan atas dana APBD 2007/2008 itu tidak memiliki siswa barang seorang pun. Usut punya usut ternyata sekolah itu dibangun memang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Akhirnya dengan percaya diri PT Jembayan Muara Bara (JMB) pun dengan segera merobohkan gedung sekolah itu.

Sebuah laman berita populer di Indonesia melaporkan bahwa lokasi sekolah itu cukup mengherankan karena berada di pinggir bukit yang sekitarnya merupakan areal konsesi PT JMB. Hal tersebut tentu sangat mengejutkan, bagaimana mungkin sekolah di bangun jauh dari pemukiman dan justru berada di pinggir bukit yang sudah pasti akan berhadapan dengan kepentingan perluasan areal tambang. Wajar kalau kemudian ada selorohan bahwa sekolah itu adalah sekolah bangsa jin.

Kelumpuhan Nurani
Fakta di atas merupakan satu wujud bahwa telah terjangkit sebuah penyakit yang ingin saya sebut sebagai kelumpuhan nurani. Kelumpuhan hati nurani akan berakibat pada kelumpuhan sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan. Bahkan hal itulah yang menjadi sebab utama terjadinya ironisme dalam kehidupan sehari-hari.

Siapa yang tidak kenal bahwa Kaltim adalah penghasil batu bara yang cukup lumayan besar? Siapa yang tidak tahu bahwa di Kutai Kartanegara tambang ‘dolar’-nya bukan hanya batu bara? Tetapi kehidupan masyarakat sangat jauh termarjinalkan. Mereka harus berjibaku menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang sebenarnya tidak perlu mereka alami, jika para pemimpinnya “sehat” hati nuraninya.

Kelumpuhan nurani pada diri para pemimpin akan sangat merusak dibandingkan dengan kelumpuhan nurani pada manusia biasa. Kejahatan orang cerdas akan bisa merusak seluruh dunia. Sementara kejahatan orang biasa hanya akan merugikan korbannya atau dirinya saja. Ungkapan tersebut nampaknya telah terbukti. Kita lihat bagaimana negeri kaya tapi penduduknya miskin, bodoh dan nganggur.

Dampak terdekat yang masih melekat dalam benak rakyat Kaltim, khususnya Kutai Kartanegara, adalah runtuhnya jembatan yang membelah Sungai Mahakam di Tenggarong. Bagaimana tidak dengan APBD yang konon sebesar APBD provinsi, Kutai Kartanegara bisa kehilangan jembatan andalannya yang belum genap berusia satu dasawarsa. Hal ini tentu sangat mencengangkan publik.

Akan tetapi inilah satu wujud bahwa hati nurani sebagian pemimpin yang berada di Kaltim belum benar-benar sehat dan kuat pembelaannya terhadap kepentingan rakyatnya. Namun, justru rasanya kepentingan pribadi, golongan, dan kepentingan sesaat lainnya masih kental mendominasi arah berpikir dan muara kebijakan para pejabat. Akibatnya jelas, rakyat akan melarat dan sekarat.

Membangun Akhlakul Karimah
Mencermati situasi di atas cukup menarik apa yang disampaikan oleh Bupati Kutai Timur Isran Noor dalam paparannya ketika menjadi nara sumber dialog nasional peradaban di UIN Alaudin Makassar (5/3/2012) lalu.

Ketua APKASI itu menegaskan bahwa bangsa Indonesia perlu kembali menghidupkan akhlakul karimah. Sebuah kepribadian yang mendambakan keagungan hakiki, rela berkorban, dan santun terhadap sesama. Bukan egoisme, etnosentrisme, apalagi nafsu pribadi.

Sekalipun terkesan umum, akhlakul karimah sejatinya adalah masalah mendasar yang memang harus segera dibenahi oleh semua komponen bangsa. Tanpa akhlakul karimah atau keagungan moral, mustahil akan ada kemajuan dan kesejahteraan. Inilah yang menjadi tugas berat kita semua.

Saya akan memberikan satu ilustrasi bagaimana akhlakul karimah ini benar-benar sangat dibutuhkan dalam upaya membangun kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Kejujuran misalnya, nilai ini diperlukan dan dibutuhkan oleh siapapun, termasuk oleh gerombolan penyamun, begundal, pencuri, pencopet atau apapun lainnya yang bergerak di bidang kriminalitas demi terbangunnya kepercayaan di antara mereka untuk mencapai tujuan-tujuannya. Apalagi kelompok manusia yang ingin membangun sebuah peradaban mulia.

Ketua gerombolan tindak kriminal, katakanlah begitu, pasti akan memberikan delegasi, kewenangan, dan kepercayaan penuh kepada siapa saja anak buahnya yang memiliki kesungguhan dalam menjalankan pekerjaannya, alias yang bisa dipercaya. Sangat mustahil bos penyamun akan memilih anak buah yang tidak jujur, tidak loyal dan tidak kredibel.

Jika dalam proses melakukan kejahatan saja; kejujuran, loyalitas, kredibilitas itu diperlukan. Bagaimana mungkin dalam konteks kita membangun bangsa dan negara bergerak tanpa tegaknya nilai-nilai akhlakul karimah? Pasti kehancuran yang akan kita terima.

Jadi benarlah bahwa kita perlu membangun manusia, bukan infrastruktur semata. Malik Bennabi, seorang intelektual abad 20 dari Al-Jazair yang menulis buku “Syurutu al-Nahdhah” (Syarat-Syarat Kebangkitan) menyatakan bahwa unsur utama untuk terwujudnya upaya pembangunan adalah, manusia, tanah dan waktu.

Artinya, fokus dan prioritas kita semestinya adalah membangun manusia baru yang lain. Dengan adanya manusia-manusia unggul maka potensi tanah akan menjadi satu tambahan energi yang sangat besar untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Karenanya dengan dua hal itu, waktu akan menjadi sangat berharga dan sangat menentukan.

Jika Kalimantan Timur, terkhusus Kutai Kartanegara tidak fokus membangun manusia, maka sebesar apapun biaya yang dianggarkan untuk membangun gedung, jembatan, jalan, gedung sekolah, hanya akan berujung pada kemubadziran. Inilah yang saya maksud dengan membangun tapi merugikan.
[KTC]

*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()