Advertisement

Mengenal Bapak Optik Pertama Dunia, Sosok Muslim Ilmuan Sejati


Ilustrasi

SIAPA yang tidak kenal kaca mata? Tentu semua tidak asing dengan benda yang sering digunakan untuk mendeskripsikan hasil pertandingan bola yang berakhir tanpa gol itu. 

Ya, mungkin ada di antara pembaca yang kini sedang atau mungkin sudah sejak lama menggunakan kaca mata, baik minus, plus, maupun silinder. 

Tapi, pernah tidak ya kita bertanya, siapa penemu pertama ilmu tentang kaca mata seperti itu yang disebut dengan optik?

Pernah mungkin, tapi sempat ketemu, tidak?. Nah, sekarang kita akan bahas penemu optik pertama di dunia. Dia adalah Ibn Haitsam yang wafat pada tahun 1039 Masehi.

Ia adalah seorang sarjana Muslim yang disegani baik di Timur maupun di Barat. Dia ahli matematika dan fisika ulung yang memberi sumbangan signifikan bagi kedua disiplin ilmu tersebut. 

Dia juga berpengaruh luas terhadap para ilmuwan dunia sejak abad XI hingga abad XX. Ahli sejarah dari Harvard University, George Sarton, yang juga penulis buku A History of Science, menyebut Ibn Haitsam sebagai The greatest Muslim physicist and one of the greatest students of optics of all time.

Artinya, Ibn Haitsam adalah fisikawan Muslim terbesar dan salah seorang ilmuwan optik terbesar sepanjang zaman. 

Sarjana yang bernama lengkap Abu Ali al-Hasan bin al Hasan bin al-Haitsam al-Bashri al-Mishri ini juga dikenal dengan nama latin: Alhazen. 

Penemuannya tentang problem optik dengan persamaan matetamika tingkat empat sampai sekarang disebut dengan Alhazen’s Problem.

Problem itu berisi; “Sebuah kaca yang berbentuk silinder cekung bulat atau cembung bundar, dapat digunakan untuk mencari di mana letak sebuah benda. Dari kaca tersebut dapat diperoleh pentulan cahaya pada mata yang tertentu letaknya.”

Ibn Haitsam juga telah berhasil mengubah telaah optika yang sebelumnya didasarkan atas teori Euclide dan Ptolemeus menjadi sains yang baru. 

Ibn Haitsam menolak teori Euclides-Ptolemeus yang berpendapat bahwa benda terlihat karena mata memancarkan sinar kepada benda. 

Ia justru berpendapat atas dasar eksperimennya yang mendalam bahwa, sinar cahaya bergerak mulai dari objek dan berjalan menuju mata. Artinya, benda terlihat oleh mata karena dia memantulkan sinar ke mata. 

Singkatnya, Ibn Haitsam adalah sarjana berpengaruh yang cukup revolusioner. Menariknya, ia juga mampu melakukan telaah anatomi dan penyakit mata. 

Atas jasa Ibn Haitsam, manusia modern yang mengalami gangguan penglihatan, tetap dapat beraktivitas secara normal dengan bantuan kaca mata. 

Bayangkan jika tidak ada penemuan optik yang dilakukan oleh Ibn Haitsam. Wah, pasti akan banyak kendala. Terimakasih Ibn Haitsam. Berkat jasamu, semua mata tetap “normal”. (NN)
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()