Suatu Siang di Bus Lorena

Ilustrasi 


MENJELANG siang, Bus Lorena jurusan Madura-Jakarta yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan terminal Pamekasan. Udara cerah, langitpun rata membiru.

Aku duduk di barisan nomor empat, di kursi yang terletak di jajaran kiri. Teman dudukku adalah seorang lelaki muda yang bisa dibilang lumayan tampan. 

Tak lama aku duduk, ia baru saja memasuki bus ini sesaat sebelum kereta berangkat, hampir saja ia terlambat.

Ia mengenakan kemeja kotak-kotak biru dongker dengan celana terusan rapi berwarna serupa pula. Dan yang membuat aku kurang nyaman berada di dekatnya, dia mengenakan songkok haji yang bertengger di kepalanya. 

Lelaki berparas bujangan itu kulirik sekilas, Aih!, betapa sejuk memandang wajah teduh lelaki itu. Subhanallah! 

Terus terang, aku malu pada diri-ku sendiri, aku yakin dia lebih muda dariku dan lebih tampan lagi. 

Namun, ia sudah punya ketetapan hati untuk memeluk kebenaran yang hakiki. Sedangkan aku? Bercelana jeans ala rocker jaman sekarang yang berbolong di tengah lutut dengan kaos oblong bergambar tengkorak dan rambut gondrong yang membuat penampilanku jadi menakutkan dipandang orang. 

Apa yang salah dengan diriku? Beberapa bulan yang lalu memang terbersit dalam hatiku untuk memeluk keyakinan yang hakiki itu, karena selama ini aku hanya menyandang gelar Islam KTP saja tanpa melaksanakannya. Akan tetapi, rupanya, jiwa dan ragaku belum cukup tegar untuk mempelajarinya.

Kulempar pandanganku keluar. Di sana pohon-pohon, bangunan-bangunan, gunung-gunung, tampak seperti bergerak. 

Kurasakan bus bergerak semakin cepat, ya, cepat sekali. Seakan menyembunyikan parasku ini dalam awan hitam yang menggumpal penuh noda.

***************

AKU seorang tunarungu, tak dapat mendengar deru mobil bus dan suara orang-orang yang berbincang-bincang di sekitarku. Telingaku tuli semenjak masih kecil karena kecelakaan lalu lintas yang kualami waktu itu. 

Sekalipun begitu, aku tetap bersyukur bahwa kini masih bisa bercakap-cakap dengan siapapun, asal saja aku memperhatikan lawan bicaraku, gerak bibirnya waktu ia berbicara, dan segala isyarat anggota badannya. 

Tak sia-sialah pendidikan sistem komunikasi total yang kuterima selama bertahun-tahun di sebuah lembaga pendidikan tunarungu di kotaku. 

Bus terus bergerak, cukup lama aku dan lelaki itu berdiam diri, ketika akhirnya kami sama-sama menoleh dan bertemu pandang. Aku memalingkan pandanganku seraya tersenyum, ia membalas senyumku pula.

“Adik pergi ke Jakarta?” ucapku lirih sembari memperhatikan gerak bibir-nya.
“Saya pulang ke Bandung. Saya baru mengunjungi bibi saya di Madura” sahutnya. Ia memandangiku, lalu balik bertanya.

“Kakak sendiri pulang atau pergi?” 
“Pergi. Saya akan mengunjungi adik saya di Jakarta,” jawabku
“Adik turun di mana?”
“Lebak Bulus, kak. Dan kakak?”
“Tanjung Priok.”
“Sering ke Jakarta?”
Ah, sekali-kali saja, kalau ada keperluan. Adik tinggal di Bandung?”
“Iya.”

Tampak gigi-giginya yang berderet rapi, putih dan bersih. Ah, kalau saja aku seorang wanita, pastilah aku akan jatuh cinta padanya. 

Meski aku tak dapat mendengar, bisa kuduga bahwa suara tawanya merdu, semerdu kicau murai di pagi hari. 

Malah aku berani bertaruh, kalau ia sedang mengaji pastilah alunan suaranya lebih merdu daripada tawanya. Sayangnya, aku tak bisa dan takkan pernah bisa menikmati kemerduan suara itu.

“Dari hari ke hari tampaknya semakin banyak saja wanita yang mengenakan jilbab, terutama di kota-kota besar,” ujarku.

“Tapi mungkin ada saja orang yang sinis dan mencemooh kaum wanita yang mengenakan pakaian itu,” balasnya.

“Bagaimana adik tahu?”

“Kakak saya pernah mengalaminya. Beberapa kali, bahkan beliau di ejek seperti “lemper” dan “astronot”. 

Bahkan, seorang kerabatpun pernah terheran-heran mengapa kakak saya mengenakan baju gamis tebal dan jaket di tengah ibu kota yang begitu panas. 

Saya hanya berdiam diri saja. Biar sajalah mereka berpendapat begitu. Mereka tidak mengerti meskipun mengaku beragama Islam. Saya malah kasihan kepada mereka atas kejahilan yang mereka perbuat terhadap agama mereka sendiri.”

Lelaki itu memandangku lagi, seakan ia ingin menyelidiki pendapatku tentang atribut agama tertentu yang dipakainya. Pandangannya nyaris membuatku kikuk. 

Dulu, aku memang memiliki pandangan negatif terhadap wanita berjilbab. Kupikir waktu itu mereka yang kurang pergaulan, rendah diri, dan tidak laku di mata lelaki. 

Nyatanya, dari waktu ke waktu, makin banyak juga wanita yang cantik, cerdas, dan dari kelas menengah yang mengenakannya. Kuakui ini adalah masalah keimanan. Sekali lagi, aku hanya belum memiliki keyakinan yang memadai untuk mengenakannya. Itu saja.

Aku tetap awas membalas pandangannya. Aku harus tetap memperhatikan gerak bibirnya. Aku tak ingin ia mengetahui bahwa aku seorang tunarungu. Ya, aku tak ingin tampak bodoh di hadapannya.

Bus Lorena terus melaju di atas jalan raya. Banyak terminal yang sudah kami lewati, dan mungkin besok pagi kami akan sampai di terminal Lebak Bulus. Kami menyantap hidangan makan malam yang sudah dibeli di restoran langganan Bus Lorena yang telah kami singgahi tadi sore. 

Pandanganku selalu siaga untuk menatap gerak bibirnya. Aku menahan diri untuk tidak berbicara, khawatir bahwa aku takkan bisa memahami ucapan-ucapan yang dikatakannya. 

Agak sulit memang menangkap kata-kata orang yang sedang makan, apalagi bila mulut orang itu terhalang oleh sesuatu, makanan, sendok garpu, atau tangan yang bersangkutan.

Dalam beberapa kesempatan aku pernah terpaksa berbicara dengan orang-orang yang sedang makan seperti itu, malah dengan kepala yang sesekali menunduk. 

Akibatnya, aku tidak dapat melakukan pembicaraan secara wajar. Seorang lawan bicaraku akhirnya mengetahui bahwa aku tunarungu. 

Bila hal itu sampai terjadi, terkadang harus berterus terang bahwa aku memang seorang tunarungu, dan aku hanya bisa diajak berbicara bila ia memperlihatkan gerak-gerik mulutnya dengan jelas saat berbicara.

Lantas, apakah lelaki bersongkok putih itu sudah tahu bahwa aku seorang tunarungu? Entahlah. 

Tetapi aku berdoa, mudah-mudahan saja ia tidah tahu dan takkan pernah tahu tentang ketidakberesan telingaku. 

Tak mengenakkan memang menaruh belas kasihan kepada salah seorang yang salah satu organ tubuhnya cacat atau tidak dapat berfungsi.

Untunglah lelaki itu tak mengucapkan satu kalimatpun selama ia makan. Jadi aku tak perlu bersusah payah untuk mengenali ucapan-ucapannya. Seusai acara makan malam itu, kami melanjutkan obrolan mengenai beberapa hal. 

Obrolan kami terasa lebih santai dan lebih leluasa. Memang suasana malam itu benar-benar hening, penumpang-penumpang yang bereda di sebelah kanan, belakang maupun depan kami sudah terlelap dalam dingin-nya malam. 

Keadaan ini pun menguntungkan bagiku, bayangkan saja, betapa repotnya aku kalau harus berbicara kepada dua orang atau lebih di sampingku, ini bisa menelanjangi cacatku. 

Aku memang bisa frustasi bila ada orang yang berbicara atau memanggilku dari arah yang tidak aku ketahui, apalagi dari belakang. Ini bisa membuatku benar-benar dungu.

Sedikit demi sedikit kami mengurangi obrolan, lelaki itu tampaknya mengantuk. Ia mulai memejamkan matanya, beberapa lama kutatap wajah teduh itu, wajah itu begitu lugu, damai, seperti wajah bayi yang tertidur pulas.

Bus Lorena yang kutumpangi terus melaju melewati melewati alur-alur jalan raya, jam menunjukkan pukul 02:55 WIB, esok pagi kami akan sampai ke tempat tujuan. Jakarta. 

**************


WAKTU subuh sudah tiba, seorang kernet bus menagih ongkos lelaki yang sedang terlelap itu, karena ia terburu naik bus kemarin siang membuatnya tak sempat membayar ongkos. 

Tanpa sepengetahuan teman seperjalanku yang sudah terlelap itu, aku sekalian membayar ongkosnya. 

Lucu juga, sedari aku bersenda gurau dengan lelaki itu, tapi kami belum mengetahui nama kami masing-masing. 

Agak siang kami tiba di Jakarta. Tak lama lagi bus akan sampai ke terminal Lebak Bulus. 

Lelaki itu masih tertidur usai sembahyang duduk shubuh tadi. Ah!, aku harus membangunkannya. Baru saja kupanggil dengan pelan, secara spontan mata yang terpejam itu terbuka. 

“Oh, maaf. Saya tertidur tadi,” ujarnya.
“Sebentar lagi kita akan sampai ke Terminal Lebak Bulus, adik akan turun di sana, bukan?” kataku. Ia mengiyakan.

Eh, saya belum membayar ongkos,” katanya. Aku tersenyum
“Sudah saya bayar tadi,” jawabku.

“Kalau begitu...kalau begitu...?” lelaki itu membuka tasnya dan mencari sesuatu. 
Ah, tak perlu adik ganti. Toh hitung-hitung sedekah dari apa yang saya dapatkan,” kataku.

“Tapi... itu tak sedikit, kak?” ucapnya terheran-heran.
“Itu tak seberapa, lagipula jarang-jarangkan ketemu adik lagi,” ucapku.

“Tapi kak... saya benar-benar tidak nyaman,” jawabnya.
Ah, sudahlah!” ucapku menimpali.

“Kalau begitu, terima kasih banyak kak!, saya merepotkan kakak,” ucapnya agak tersipu. 

Bus mengurangi kecepatannya. Aku agak kecewa, karena sebentar lagi akan berpisah dengan lelaki bermata teduh itu di siang terik ini. 

Perlahan bus memasuki area terminal Lebak Bulus, lelaki itu berdiri dan bersiap-siap turun. Kubantu ia menurunkan tasnya yang cukup besar dari bagasi penyimpanan barang yang berada di atas tempat duduk kami.

“Terima kasih atas segalanya, kak!” ucapnya sesaat sebelum ia berlalu.
“Sama-sama,” sahutku. Kami bertatapan dan sama-sama tersenyum.

Eh... bolehkah saya tau nama adik?” kataku.
“Anwar,” jawabnya tanpa ragu-ragu.

Kuperkanalkan juga namaku kepadanya. Kuantarkan ia sampai pintu keluar bus. Di ambang pintu itu, kami saling mengucapkan salam.

“Sampai ketemu lagi kapan-kapan, kak!” ucap Anwar.
“Ya, sampai jumpa lagi!” balasku.

Dan kamipun berpisah. Aku sedikit menyesal karena tidak menanyakan alamatnya. Aku kembali menuju tempat dudukku. Dan tiba-tiba...

Mataku tertuju pada sebuah dompet yang tergeletak di kursi tempat duduk Anwar. Celaka! rupanya dompet Anwar ketinggalan. 

Secepat kilat kubuka dompet kulit itu. Benar saja, di dalamnya ada KTP dan sejumlah uang. Bergegas aku keluar dengan membawa tas untuk menyusul Anwar dan mengembalikan dompet itu padanya. 

Teburu-buru aku menuju area terminal yang sangat ramai dipadati para pemudik itu. Di penghujung terminal, agak jauh di sebelah sana, tampak Anwar hendak menyeberangi jalan yang cukup padat dengan kendaraan.

“Dik Anwar! Dik Anwar!” teriakku. Ia tak menoleh terus saja menyeberangi jalan. 

“Dik Anwar! Ini dompet adik ketinggalan,” sekali lagi aku berteriak memanggilnya dari belakang. 

Ia terus saja berlalu. Barangkali suara kendaraan yang lewat terlalu berisik, sehingga ia tak mendengar suaraku.

Aku menyeberangi jalan dan mengejar Anwar. Ia terus berjalan menjinjing tasnya tanpa menghiraukanku yang sedari tadi memanggilnya, bahkan langkahnya semakin cepat membuatku tambah sulit mengejarnya. 

“Dik Anwar, tunggu!” teriakku lagi dari belakang. Ia tetap tak menoleh. Jarakku begitu dekat darinya. Kupercepat langkahku. 

Kutepuk bahu Anwar dari belakang. Ia menoleh. Begitu berhadapan, ia nampak seperti orang terkejut, wajahnya memucat.

“Oh, kakak!” jeritnya di tengah bingar suara kendaraan yang begitu ramai. Anwar nampak terkesima seakan melihat hantu.

“Ini dompetmu tertinggal di kereta, Dik. Tadi beberapa kali saya berteriak-teriak memanggil Adik. Tapi Dik Anwar tak mendengar panggilan saya rupanya,” kataku. Kutatap wajah Anwar yang pucat. Tiba-tiba saja aku menaruh kecurigaan padanya. 

“Oh, maaf,” ujarnya seraya menerima dompetnya dengan tangan yang rada gemetar. 

“Maaf, saya tidak mendengar panggilan kakak, saya...saya...saya seorang tunarungu, kak,” tanpa disadari, kata-kata itu meluncur dari mulut Anwar. 

Aku seperti orang linglung tak tau arah tujuannya, pikiranku tak menyatu dengan ragaku, tak di sangka dan tak kuduga lelaki itu seorang tunarungu. 

Ah, pantas saja, selama pembicaraan kami di bus, ia terus memandangiku. Dengan seksama, ternyata aku dan Dik Anwar! Sama-sama seorang tunarungu...

[Nini Afriyanti MZ, penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Wanita penyuka kajian sastra dan bahasa ini berasal dari Bangka Belitung. Sumber foto ilustrasi: Sisko07 Wordpress].

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel