Advertisement

ads here

Belajar Pada Gadis Tak Perawan di Usia 15 Tahun

Pasangan muda-mudi yang belum tentu pasangan sah sedang bermesraan di sebuah pojok hutan rindang (Foto: Ilustrasi)

ANAK
zaman sekarang, walau masih TK sudah kenal dengan yang namanya pacaran.

Bahkan belum cukup lima tahun pun, sekarang anak-anak pada umumnya sudah kenal pacaran. Itu di Indonesia, bagaimana di Barat?

Kira-kira bagaimana ya di Barat, biar tidak meraba, saya akan kutipkan dari apa yang ditulis oleh Thomas Lickona dalam karyanya, Character Matters:

"Saya kehilangan keperawanan ketika saya berusia 15 tahun. Saya dan kekasih saya berpikir bahwa kita saling mencintai. Akan tetapi, begitu kami mulai berhubungan seks, itu benar-benar menghancurkan cinta yang kami miliki. Saya merasa dia tidak tertarik lagi untuk menghabiskan waktu bersama saya – tertarik menghabiskan waktu dengan tubuh saya." 

Ungkapan tersebut disampaikan oleh seorang wanita yang berumur 22 tahun. Masih ada lagi beberapa ungkapan senada yang disampaikan oleh wanita dan pria.

Kesimpulannya sederhana, remaja di Barat pada umumnya telah melakukan hubungan seks sejak mereka berusia 15 tahun.

Hal itu belum puncaknya, masih ada tradisi buruk lain yang mereka lakukan, seperti minum-minuman keras, mabuk sambil mengemudi, dan terlibat dalam praktik pergaulan bebas.

Intinya, kehidupan remaja di Barat sudah tidak lagi disandarkan pada nilai moral apalagi agama. Tidak ada dosa di sana, yang ada adalah suka-suka.

Mungkin, tradisi inilah yang menyebabkan masyarakat di Barat tidak begitu peduli dengan pernikahan. Termasuk, tidak memiliki perhatian yang tinggi terhadap pendidikan moral anak-anaknya.

Sepertinya, inilah yang secara perlahan mulai terjadi di masyarakat kita saat ini, dimana pacaran sudah dianggap lumrah, bahkan malu rasanya jika tak punya pacar.

Akibatnya, perbuatan mesum pun marak dimana-mana. Semua dibungkus dengan satu kata, pacaran!.

Seperti bom, tradisi pacaran itu pun kini mulai menimbulkan keresahan. Bagaimana tidak, media tanah air sekarang cukup sering menampilkan warta soal pembunuhan, pemerkosaan, sampai pada kasus hukum dan moral yang semuanya diawali dengan yang namanya pacaran.

Belakangan, muncul foto tidak senonoh 2 orang yang diduga anggota polisi di internet yang salah satunya karena pacaran.

Kita tambah dikejutkan oleh pernyataan seorang tokoh publik yang sudah gaek di dunia entertainment, Kamis lalu, yang mengaku mewajibkan anaknya berpacaran.

Sepintas pacaran memang memberikan iming-iming kenikmatan. Karena pada pacaran tidak ada ikatan yang jelas. Sementara antar individu yang berpasangan bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Di sisi lain, ketika hati sudah mulai jemu dan tidak tertarik, seketika hubungan pacar bisa diputuskan. Sangat berbeda dengan pernikahan.

Tetapi, jika dipikir lebih dalam, pacaran pada hakikatnya tidak saja mendatangkan dosa secara psikologi dan ukhrowi.

Tetapi juga hal itu merenggut potensi besar yang ada pada setiap diri remaja. Bagaimana tidak, konsentrasi mereka jadi kabur dan hilang hanya gara-gara pacaran.

Dalam hal ini Lickona dalam bukunya mengutipkan penuturan seorang pemuda yang menyesali perbuatan pacarannya:

"Saya berharap ada seseorang yang menasihati saya ketika saya di SMA. Saat itulah aktivitas seks saya dimulai. Saya bahkan tidak mau memikirkan kuliah saya. Saya berharap saya bisa menyimpan hal ini dari istri saya."

Artinya, pacaran telah merenggut masa paling produktif bagi seorang remaja dalam menempa diri dan menyempurnakan potensi serta talenta yang dimilikinya.

Akibatnya, hidup hanya untuk dua hal, cari uang demi makan dan seks belaka. Mungkin manusia seperti inilah yang dulu dilihat oleh Sigmund Freud hingga ia mengatakan bahwa motivasi manusia melakukan apa pun tidak lebih dari sekedar urusan seks belaka.

Pergaulan dalam Islam
Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan putri-putri kami, apakah mereka harus dikurung di dalam kamar atau dilarang memiliki fasilitas handphone agar tidak terjebak dalam praktik pacaran yang menghancurkan diri dan masa depannya?

Lickona sendiri memberikan tiga poin yang dianggapnya bisa menghnidarkan para remaja dari melakukan aktivitas seks dini.

Pertama, menanamkan keyakinan internal tentang mengapa bisa masuk akal jika melakukan keintiman seksual untuk hubungan yang benar-benar berkomitmen.

Kedua, menumbuhkan kekuatan karakter, seperti penilaian yang baik, kontrol diri, kesederhanaan, tulus menghargai diri sendiri dan orang lain, keberanian untuk melawan tekanan dan godaan seksual.

Ketiga, mendukung sistim untuk penghayatan terhadap komitmen ini, termasuk idealnya, dukungan dari keluarga, komunitas agama, sekolah, dan setidaknya satu teman baik yang telah mengambil keputusan untuk tidak pacaran.

Tetapi, rasanya apa yang direkomendasikan Lickona itu tidak lebih dari sebatas teori. Mengapa, Anda lihat saja sendiri, bagaimana hampir semua tayangan film dan iklan banyak mengeksploitasi wanita. Di sisi lain, pergaulan di masyarakat saat ini sudah sangat permisif.

Lantas, apakah ada solusi lain yang lebih efektif? Jelas ada. Tetapi ini dibutuhkan keterbukaan cara berpikir yang sehat. Umumnya, orang saat ini agak alergi kalau bicara sesuatu yang bersumber dari ajaran agama, apalagi Islam.

Tetapi, mari kita kaji secara teoritik, empiris dan tentunya aplikatif. Apakah semua yang diasumsikan secara umum tentang agama, khususnya Islam benar-benar terbukti?

Di sini, keterbukaan intelektual dan keobjektifan pemikiran dalam melihat Islam perlu diutamakan. Islam mengatur pergaulan pria dan wanita sedemikian rupa.

Wanita tidak boleh memakai busana yang tidak menutup aurat. Kemudian, dalam pergaulan sehari-hari, wanita dan pria yang telah mencapai usia baligh tidak boleh berdekat-dekatan, apalagi pacaran.

Artinya, para orang tua, dan khususnya kaum hawa sendiri harus benar-benar memahami aturan pergaulan dalam Islam. Hal ini penting untuk menjaga dan melejitkan potensi diri agar terhindar dari godaan seks.

Kemudian, secara psikologi, mereka yang tidak berpacaran akan jauh lebih percaya diri dan punya tanggung jawab dalam komitmen kala memasuki bahtera rumah tangga. Remaja semacam ini jelas sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara dalam melanjutkan estafeta pembangunan.

Dengan kata lain, seharusnya pemerintah bersegera melakukan inisiatif untuk mengatur pola pergalan remaja pria dan wanita sesuai aturan Islam.

Hal ini bukan untuk menafikan agama lain atau mendirikan negara Islam, tetapi penting dan mendesak bagi eksistensi generasi bangsa itu sendiri.

Hakikat Masa Depan
Jika di dunia saja, pelaku pacaran sudah menyatakan penyesalan. Kira-kira bagaimana di hari akhirat. Hari dimana manusia harus mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Jelas, dalam Islam, pelaku zina termasuk pelaku dosa besar. Jika tidak segera bertaubat, jelas akan menerima siksa di neraka.

Secara makro, pacaran yang membudaya di suatu negara juga akan mendatangkan masalah yang tidak ringan. Apalagi kelak ketika setiap jiwa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan.

Ironisnya, tidak saja mereka yang melakukan perbuatan amoral tersebut, para pemimpin pun akan dipanggil Tuhan, terkait kepemimpinannya. Mengapa masalah moral tidak segera diatasi.

Jadi, mari kita buka pikiran kita, siapa pun, yang hidup di negeri ini, punya tanggung jawab terhadap masalah pacaran dan masa depan.

Lebih dari sekedar masa depan seorang remaja, masa depan bangsa dan negara juga ditentukan oleh kualitas remaja saat ini.

Jika sekarang saja, mereka anak muda sudah buruk secara moral, adakah yang masih bisa kita harapkan darinya tentang masa depan bangsa dan negara?.*

______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitan beliau di @abuilmia
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()