Advertisement

ads here

Romantisme Penuntut Ilmu, Raih Gelar Doktor dan Wisuda Bersama



BOGOR (NASIONAL NEWS) - Sembilan ratus orang wisudawan mengikuti rangkaian acara sidang terbuka wisuda ke-63 program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor Universitas Ibn Khaldun Bogor, Jawa Barat, pagi menjelang siang akhir November lalu (23/11/2016).

Di tengah ratusan sarjana yang memadati Gedung Braja Mustika, Jl. DR. Semeru, Kel. Menteng, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor, tersebut, terdapat pasangan suami istri yang sukses menorehkan sejarah tersendiri.  

Dialah Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar yang juga anggota DPD RI dan istrinya, Sabriati binti Abdul Aziz. Keduanya sukses menyelesaikan pendidikan doktoralnya secara bersamaan dengan segala suka dukanya.

Selain telah diwisuda bersama dengan 900 mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA) lainnya, kedua pasangan ini juga mengikuti rangkaian ujian doktoral masing-masing dengan waktu yang juga relatif berdekatan.

Aziz mengikuti sidang terbuka doktoralnya pada Kamis (31/12/2015) akhir Desember 2015 lalu yang diuji tim dipimpin oleh Rektor UIKA, Dr. H. Ending Bahruddin dengan predikat "sangat memuaskan" (summa cum laude).

Sementara itu, Sabriati lulus sidang terbuka doktoral dengan predikat yang serupa sebulan berikutnya, atau tepatnya pada awal Januari (04/01/2016) lalu.

Terus Belajar

Kesibukan yang luar biasa sebagai senator dan punggawa di sejumlah institusi yang berkedudukan di pusat dan daerah, tak membuat Aziz lantas abai menuntut ilmu. Tensinya justru semakin kencang.

Kendati pula usianya yang tak lagi muda, ia tetap meluangkan waktu untuk menyelesaikan studinya. Ia bahkan secara teratur menulis berbagai catatan dan pandangan-pandangannya kendatipun belum semua dipublikasikan.

"Setiap hari menulis. Biasa disela-sela kesibukan, seperti kalau di sedang di bandara menunggu penerbangan. Insya Allah rutin," kata Ustadz Aziz yang juga kolumnis tetap di harian lokal yang terbit di Makassar ini.

Selaras dengan itu, Sabriati, sang istri, pun memiliki semangat yang tak kalah tinggi dalam menuntut ilmu. Tak jarang ia terlihat mengendarai motor untuk keperluan tersebut.

Ibu yang juga Ketua Presidium Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam Indonesia (BMOIWI) ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Kurikulum Pendidikan Adab Bagi Keluarga Muslim (Analisa Pemikiran Para Mufassir Terhadap QS. Al-Tahrim [66]: 6)” di hadapan dewan penguji yang diketuai oleh Rektor UIKA, Dr. H. Ending Bahruddin.

Sebuah kesyukuran tersendiri bagi dia sebab sidang terbuka tersebut mengantarkan Sabriati meraih doktor pendidikan ke-106 di kampus UIKA.

Dalam penelitiannya, Sabriati membedah urgensi keluarga muslim memiliki kurikulum pendidikan yang baku dalam mendidik anggota keluarga. Terlebih dalam Islam ibu atau keluarga adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“Dalam hal ini, kami secara khusus menggali pemikiran para ulama tafsir mengenai kurikulum pendidikan adab yang terdapat dalam surah al-Tahrim ayat keenam,” ucap Sabriati.

Menurut Sabriati, selain kurangnya pemahaman orang tua, ketiadaan kurikulum pendidikan yang baku disebutnya menjadi salah satu faktor hilangnya ruh pendidikan dalam sebuah keluarga Muslim.

“Selama ini kurikulum hanya dikenal berlaku di sekolah dan lembaga pendidikan formal. Padahal rumah adalah institusi terpenting dalam pendidikan kepribadian anak dan seluruh anggota keluarga,” papar ibu 7 anak ini.

Disertasi Sabriati tersebut menuai pujian dari intelektual muslim Adian Husaini. Menurut Adian, temuan dalam objek kaji dalam disertasi tersebut merupakan terobosan baru dalam meretas persoalan pendidikan keluarga. Sebab di saat yang sama konspirasi kesetaraan gender kian marak menyerang kaum muslimah.

Buah pemikiran Aziz yang menyoroti konsep pendidikan jiwa juga disambut baik oleh tim penguji. Disertasinya yang berjudul “Konsep Pendidikan Jiwa dalam Perspektif Hamka dan Aplikasinya dalam Membangun Jiwa Bangsa” disarankan untuk dibukukan.

Salah satu tim penguji, Prof Dr Didin Hafidhuddin, menilai kajian tersebut sebagai satu dobrakan untuk mengurai beragam persoalan bangsa.

Bahkan Prof Didin mengusulkan agar konsep dan silabus pendidikan jiwa yang digagas Aziz ini diberi nama “Konsep Pembangunan Jiwa Merdeka”.

Sementara itu menurut Aziz, membangun bangsa Indonesia harus diawali dengan mengenal sejarah bangsa terlebih dahulu. Terutama mengkaji peran dan pemikiran para tokoh Islam ketika merumuskan konsep dasar dan tujuan bangsa ini.

“Di sinilah pentingnya menggali pemikiran Buya Hamka, seorang tokoh bangsa yang pemikirannya dikenal banyak terkait dengan pendidikan jiwa,” ucap Aziz.

Menurut Aziz, mengurai persoalan bangsa ini harus dikembalikan kepada akar masalah yang benar. Sebab ia tak cukup hanya dengan membangun fisik di mana-mana dan melupakan unsur lainnya yaitu membangun jiwa bangsa.

Berbagai persoalan moral dan krisis adab hari ini, menurutnya, disebabkan karena jiwa bangsa yang kering dari sentuhan agama.

Ia pun berharap agar tidak lagi membenturkan agama dengan Pancasila. Sebab yang merumuskan dasar negara tersebut tak lain adalah para pemimpin bangsa yang notabene adalah tokoh-tokoh Muslim dahulu.

“Cuma yang perlu diluruskan adalah memahami Pancasila tersebut sesuai dengan pandangan Muslim, bukan pandangan sekular apalagi anti agama,” ungkap Aziz.

Mengapa demikian, sebab, jelas Aziz, Sila Pertama adalah Ketuhanan yang Mahaesa yang karenanya umat Islam harus terus membangun bangsa Indonesia secara bersama-sama, bukan justru untuk dijauhi apalagi dibenci.

Wasiat Menuntut Ilmu

Kitab Kasyf adz-Dzunun karya Musthofa bin Abdullah (1/52) memuat ungkapan populer, "tuntutlah ilmu pengetahuan itu mulai dari buaian sampai keliang lahat" .

Nukilan terkenal tersebut tak lain merupakan penekanan semata sebagaimana pesan Nabi tentang pentingnya ilmu. Bahwa ia adalah sebaik-baik bekal terbaik agar selamat dunia dan akhirat. Ilmu bekal sebelum beramal.

Spirit itu pulalah yang juga melekat dalam diri Aziz sekeluarga. Bahkan dari penelusuran sejarah yang dilakukan, Kahar Mudzakkar, ayahandanya Aziz, diketahui adalah merupakan sosok pemburu ilmu utamanya ilmu agama.

Saking tinggi minatnya pada ilmu, Kahar Mudzakkar yang juga merupakan pahlawan dan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia namun digelapkan sejarahnya ini, seringkali berpesan agar anak-anaknya menempuh jalan pembelajaran setinggi mungkin ketika ia kelak meninggal untuk kemudian ilmunya dibaktikan kepada umat dan agama karena Allah Ta'ala semata.

Tak heran, seraya sibuk belajar, suami istri asal Palopo ini pun terus mendorong anak-anaknya menjadi pembelajar. Kini, diantara anak-anak pasangan romantis ini ada yang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Mesir dan di ISTAC Malaysia. (ybh/hio) 
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()