Kesetaraan Gender dan Beginilah Islam Memuliakan Wanita

Oleh  Dwi Rahayuningsih, S.Si, Praktisi Pendidikan sekaligus anggota TAKTIK Wilayah Jateng dan DIY



LAGI, tuntutan kaum feminis bergaung kembali. Adanya kesenjangan sosial antara laki-laki dan perempuan membuat pejuang feminis ini merasa termarginalkan.

Beberapa adat masih menganggap perempuan berada di bawah laki-laki (subordinatif), perempuan itu lemah, perempuan tidak memiliki hak untuk memilih calon suami tetapi menunggu untuk dipilih, dll.

Mereka menganggap bahwa makhluk bernama perempuan selalu dinomor duakan dalam beberapa hal, baik dalam urusan domestik maupun urusan publik. Dalam ranah domestik perempuan lebih sering berkutat dalam urusan sumur, dapur, dan Kasur.

Sementara di ranah publik, perempuan lebih sering menjadi objek seksualitas dan tidak mendapat posisi sejajar dengan laki-laki.

Jika laki-laki bisa menjadi pemimpin kenapa perempuan tidak. Jika laki-laki bisa berkarir dan berpolitik kenapa perempuan tidak. Jika laki-laki bisa berpakaian sesukanya kenapa perempuan harus dibatasi dengan pakaian yang mengungkung tubuh indahnya. Kenapa?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang sering muncul dan menjadi duri dalam hidup perempuan sekarang. Perempuan juga butuh kebebasan sebagaimana halnya laki-laki.

Perempuan tidak boleh dianggap lemah sehingga sering menjadi korban pelecehan dan ketidak adilan. Karena posisi perempuan yang selalu dibawah inilah yang menyebabkan perempuan tidak pernah bisa sejajar dengan laki-laki.

Kekeliruan paradigma

Ide feminisme yang menuntut adanya kesetaraan gender berasal dari paham kapitalis sekuler. Perempuan ditempatkan pada posisi objek.

Sebagai pemuas nafsu syahwat laki-laki, dieksploitasi agar menghasilkan uang, tidak diberi hak suara, tidak diberi hak memiliki dan mengelola hartanya, dll. Hal ini yang mengakibatkan kaum perempuan memberontak dan menuntut hak yang sama.

Sayangnya, Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim mengadopsi paham ini. Dan menjadikan paham feminis ini sebagai pegangan hidupnya.

Ideologi kapitalis demokrasi yang diadopsi negeri ini turut andil dalam memperbesar bola panas feminis terus bergulir hingga kini. Maksud mereka hendak menyelesaikan berbagai problem perempuan dengan paham ini, apa daya justru makin besar masalah yang menyangkut perempuan.

Program-program yang digulirkan seperti pemberdayaan ekonomi perempuan, justru menambah derita kaum perempuan. Mereka dieksploitasi, dipaksa bekerja diluar jam kerjanya, merelakan pengasuhan anaknya kepada orang lain. Tidak peduli yang penting bisa menghasilkan uang. Karena materi adalah tujuan utama.

Bahagianya dinilai dari tercukupinya segala kebutuhan hidup. Tanpa memandang halal dan haram. Karena aturan Tuhan dianggap sebagai kungkungan. Islam membatasi kebebasan perempuan. Terlalu banyak aturan yang mengekang perempuan.

Kembali Pada Islam

Islam datang untuk memuliakan kaum perempuan. Jika sebelumnya perempuan hanya dijadikan sebagai budak seks pada masa jahiliyah, maka Islam datang untuk menghapuskannya.

Islam dengan seperangkat aturannya bukan untuk mengekang atau membatasi kaum perempuan, justru sebaliknya. Untuk mengembalikan fitrah perempuan pada posisinya.

Aturan menutup aurat dalam Islam adalah untuk melindungi dan menjaga kemuliaan perempuan. Bukankah pelecehan seksual, pemerkosaan itu terjadi karena adanya objek rangsangan? Perempuan yang mengumbar auratnya bisa menjadi objek rangsangan bagi laki-laki.

Lalu bagaimana mungkin perempuan akan selamat dari pelecehan ini sementara mereka hamper telanjang di depan laki-laki?

Jangan salahkan Islam atas segala masalah yang terjadi pada perempuan. Karena akar masalah yang sesungguhnya adalah diterapkannya paham kapitalis sekuler. Yang mengagung-agungkan kebebasan.

Islam justru memberikan kemuliaan kepada para wanita. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa wanita memiliki derajat 3 tingkat lebih tinggi disbanding laki-laki.

Secara fisik, psikis, dan hormonal, laki-laki dan perempuan berbeda. Dan perbedaan ini juga menjadikan perannya dalam kehidupan juga berbeda.

Perempuan secara fitrah adalah seorang Ibu dan pengatur rumah tangga, sementara laki-laki sebagai Ayah dan pencari nafkah. Jika keduanya berjalan pada posisinya masing-masing, maka akan terjadi keseimbangan alam.

Islam menghapuskan segala bentuk diskriminasi. Semua memiliki hak yang sama dalam kehidupaan. Hak untuk berpolitik, hak untuk mendapatkan Pendidikan tinggi, dan hak-hak lainnya. Silahkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya tanpa harus menabrak aturan Allah.

Silahkan untuk berpolitik, tapi politik yang benar. Karena Islam membolehkan perempuan untuk melakukan muhasabah kepada penguasa. Sebagimana zaman Khalifah Umar Bin Khathab.

Islam sangat memuliakan perempuan. Bahkan menganggap perempuan adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” (HR. Muslim)

Islam juga menjamin perempuan untuk bisa masuk surga melalui pintu manapun yang ia suka. Yaitu bagi wanita yang menjalankan solat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, menjaga harga suaminya dan taat kepada suaminya.

Masih kurang apa lagi dari surga yang dijanjikan itu? Kebebasan dunia hanya akan menjerumuskan kepada kemaksiatan. Dan kemaksiatan akan menuntun ke neraka.

So, campakkan paham feminisme. Ganti dan kembalilah pada Islam yang akan melindungi kaum perempuan. Karena dengan Islam perempuan mulia dan masuk surga.*

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel