Biaya Mandiri, Sekolah-Sekolah ini Latih Gurunya Sendiri Pembelajaran MIKIR

TENGGARONG - Strategi pembelajaran memakai pendekatan MIKIR yang dikenalkan Tanoto Foundation rupanya menarik sekolah-sekolah di Kalimantan Timur untuk segera mengadopsinya secara menyeluruh dengan menularkannya ke guru-guru yang belum mendapatkan pelatihan langsung dari Tanoto Foundation.

Belum genap sebulan atau pertengahan Oktober setelah dilakukan pelatihan secara terbatas, beberapa sekolah langsung tancap gas secara mandiri menyelenggarakan pelatihan yang sama untuk guru-guru yang belum berkesempatan ikut di pelatihan awal.

Empat sekolah mitra Tanoto Foundation di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu SDN 03, 07, 08, dan 027 menyelenggarakan pelatihan pembelajaran mengadopsi program PINTAR Tanoto Foundation selama tiga hari (12-14 November).

Pelatihan ini tersebut diperuntukkan bagi 34 guru yang belum dilatih secara langsung dengan skema pembiayaan oleh Tanoto Foundation dan dipusatkan di SDN 027 Tenggarong Seberang. 

Kepala Sekolah SDN 027 Tenggarong Seberang, I Dewa Made Oka, yang merupakan sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation, mengatakan agar kualitas guru meningkat secara merata, pihaknya berinisiatif untuk segera mengadopsi pelatihan ini ke semua guru di sekolah dengan mandiri memakai biaya BOS Nasional.

"Pertengahan Oktober yang lalu, yang dilatih dengan pembiayaan dari Tanoto Foundation terbatas hanya untuk rata-rata 12 orang per sekolah, sedangkan guru sisanya belum,” ujar Dewa.


Pelatihan pembelajaran yang dilakukan oleh Tanoto Foundation merupakan pelatihan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran aktif, atau pembelajaran yang berpusat pada siswa dan tidak lagi pada guru. 

“Paradigma belajarnya berubah. Kalau dulu kegiatan siswa selama belajar lebih banyak to listen atau mendengarkan guru, sekarang  lebih banyak to do, atau melakukan sesuatu dan guru didorong memiliki kemampuan fasilitasi yang baik,” ujar Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kalimantan Timur.

Bahkan Sekolah SD 007 Muara Jawa lebih cepat lagi dalam mengadopsi program ini. Pada akhir bulan Oktober atau kurang lebih setengah bulan setelah dilatihkan program ini ke sekolah mitra, selama tiga hari (27-29 Oktober), sekolah yang bukan mitra Tanoto Foundation ini, menyelenggarakan pelatihan bagi seluruh guru yang berjumlah 22 orang di sekolah tersebut.

“Saya segera melakukannya karena saya yakin dengan model pembelajaran ini, guru menjadi lebih termotivasi untuk kreatif dan siswa menjadi lebih cepat menyerap pembelajaran daripada sebelumnya,” ujar Ketut Arta,  Kepala Sekolah SDN 007 Muara Jawa yang pernah menjadi juara dua kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi Kalimantan Timur ini.

Pelatihan di SDN 007 sebagian dibiayai secara mandiri oleh para guru peserta sebanyak 75 ribu per orang, sisanya diambilkan dari dan BOS nasional. 

Dengan model pembelajaran aktif memakai strategi Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi atau MIKIR, pembelajaran lebih mengarah untuk mengaktifkan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Siswa difasilitasi untuk terlibat melakukan percobaan, bekerjasama dalam tim, melakukan analisis dan membuat laporan yang tersetruktur dan panjang.

“Dengan metode ini, ketrampilan lunak atau soft skill seperti kemampuan berkerjasama, kreatif dan berpikir analitis yang sangat dibutuhkan untuk hidup bersaing di masa mendatang, kita asah semenjak dini,” ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation.

ERWIN MADDUPPA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel