News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Mitos Seputar Valentine Day

Mitos Seputar Valentine Day


Oleh YAHYA HASAN*

SOBAT MUDA Sebatik, Bulan Februari memang masih lama menjelang. Tapi tak ada salahnya sedini ini saya tulis perihalnya pada postingan kali ini, sekedar untuk berbagi informasi. Bulan Februari jadi istimewa dan penuh cinta lantaran kehadiran Hari Velentine atau VD yang jatuh pada tanggal 14. Nggak heran kalo jutaan remaja diseluruh dunia tak sabar menantinya. Termasuk kita, ... iya khan? Hehe..

Bagi pelaku bisnis, VD berarti momen yang penting untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan produk pernak-pernik Valentine. Remaja berlomba-lomba berburu kado spesial yang menarik sehingga dalam perayaannya ngasih kesan yang mendalam. Ada buket bunga mawar, coklat dalam kotak berbentuk hati, CD lagu romantis, permen, dan lain lain.

Tapi sobat muda Sebatik.com semua, sungguh kita akan benar-benar akan jadi generasi bebek yang cuma ikut-ikutan tren aza. Ikut-ikutan ngucapin ”Happy Valentine’s Day” tanpa mengetahui asal-usul Valentine’s Day yang tidak jelas itu.

Saya mengutip dari The World Book Encyclopedia (1998) yang menuliskan bahwa banyak versi mengenai Valentine’s Day, sebagian memahami sebagai Perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara persucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Menurut data yang tertuang dalam ensiklopedia tersebut, dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta ( Queen of feverish love ) Juno Februata. Pada hari ini pemuda mengundi nama gadis secara acak, lalu setiap pemuda yang mengambil nama yang diacak tersebut, gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan sebagai objek hiburan.

Konon mereka mengadopsi upacara Lupercalia dengan mengganti nama-nama gadis dengan Paus dan Pastur, diantara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregori I (The Encylopedia Britannica, sub judul: Christianty), dan juga upacara Lupercalia diganti menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari ( The World Book Encylopedia 1998).

Namun, sobat- sobat rekan muda Sebatik, nama St Valentine dalam ensiklopedi itu juga tidak jelas siapa yang dimaksud. The Chatolic Encylopedia vol. XV sub judul St. Valentine yang mati pada 14 Februari, dan hubungan ketiga dengan St. Valentine yang martir (mati syuhada) ini dengan hari raya cinta romantis pun tidak jelas, malah kisahnya juga nggak ketahuan yang pangkalnya karna tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Bahkan Paus Gelasius I pada tahun 496, manyatakan bahwa yang sebenarnya tidak ada diketahui mengenai Valentine ini, namun 14 februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus untuk mengungguli upacara Lupercalia.

Sobat muda, dari sejarah aja udah kelihatan kalo Valentine’s Day nggak jelas asal usulnya alias banyak versi dan mitos yang nggak pasti. Nggak heran kalo kini makna VD kian tulalit, lebih kearah kebebasan yang kebablasan untuk nunjukin kasih sayang kepada pasangan yang dicintainya, khusus kalangan remaja. Wah........bahaya tuh!

Pergeseran Moral on Valentine’s Day, Em… sobat muda ini adalagi yang lebih bahaya di Valentine’s Day. Di balik kegembiraan anak muda merayakan VD, ternyata tersembunyi bahaya besar yang yang mengintai para aktivisnya. Mulanya dari penularan HIV/AIDS hingga kehamilan tak dikehendaki. Waduhhhhh....

Ini dikemukakan oleh dr. Andik Wijaya SM, SH, seorang pakar Seksolog dari Surabaya. Kata beliau ”Sekarang Valentine’s Day nuansanya cendrung romantis dan erotis” . Ini bukan omong kosong Lho. Salah satu faktor yang menyaksikan erotisme saat perayan valentine adalah makanan khas valentine phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual.

Bukti lain di Inggris 14 Februari dicanangkan sebagai The National Impotence sebagai The National Condom Week ( Pekan Kondom Nasional ) maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom. Karena tiap perayaan valentine’s day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom 33,3 %.

Fenomena bebas seks on Valentine day dikuatkan juga saat seorang penulis, menjelang valentine day tahun 2004, hasil survei terhadap remaja di pinggiran kota Bandung, dari 413 responden yang menjawab angket secara sah 26,4% diantaranya lebih suka merayakan Valentine day bersama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan, ciuman. ( lihat Samsul Ma’arif, ”Valentine’s day bukan budaya kita, tapi...(Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).

Bahkan lembaga sosial Family Health Internation (FHI) Jabar di kota Bandung, mempubikasikan hasil riset dan suveinya tentang perilaku seks remaja kota Bandung. Dari penelitian disimpulkan bahwa 54% remaja kota Bandung pernah berhubungan seks. (Kompas, 25 Januari 2006).

Sungguh memprihatinkan, kian banyak teman-teman kita yang terjerat. Sobat, kamu juga kudu tau, biasanya kartu Valentine’s day disertai ucapan ”Be My Valentine?” Ken Swiger dalam artikel ”Should Biblical Cristians Observe it ? ( www.koornet.org ) mengatakan Valentine berarti ”Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat” yang ditujukan untuk Dewa pada masa Romawi kuno. Jadi merayakan Valentine’s Day sama juga dengan merayakan suatu tradisi yang bukan berasal dari budaya kita di Indonesia.

Sobat muda.... telah jelas bagi kita bahwa Valentine Day nggak jelas alias tulalit. So... nggak usah minder lagi untuk ngakuin klo Valentine’s Day BUKAN budaya kita, mari kita sempurnakan cinta kita, coz cinta bisa di ungkapkan kapan dan dimana saja dan kepada siapa saja. Sempurnakan cinta kalian buat keluarga kalian,merekalah yang selalu menanti kehadiran kalian.

Dan pasti Kita juga tidak mau Daerah kita ini tempat kelahiran kita Sebatik Island ”We Love U, Sebatik” dirusak oleh budaya-budaya perusak dan masa depan kita hancur karenanya. Dari sekarang. Mari kita katakan ”say No to Valentine’s Day”.

Yang jelas, kita semua, dengan agama dan ras apapun, tetaplah bersaudara dalam ranah tumpah darah Indonesia tercinta ini. Sekali lagi, budaya Indonesia adalah budaya yang beradab. Maka kita berharap jangan sampai terjerumus pada tradisi dan gaya tradisi yang memang bukan berasal dari kebiasaan kita.

Semoga kelak kita bisa membangun Sebatik Indonesia dengan semangat persatuan, kebersamaan, kekompakan, dan juga dengan mensinergikan energi relijiusitas kita dalam keyakinan masing masing. Seperti falsafah negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; Berbeda beda tapi tetap satu jua. HIDUP INDONESIA...!!!

*Penulis adalah putra Pulau Sebatik tinggal di Sungai Aru. Saat ini kuliah di Universitas Borneo Tarakan Jurusan Kedokteran.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.