News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Saat Indah Mudik ke Sebatik

Saat Indah Mudik ke Sebatik


Oleh: Hasyim Herliansyah

SAAT liburan dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriyyah lalu, saya beserta istri pulang ke Sebatik, kampung halaman tercinta. Tepat pukul 09.32 pada hari Kamis, 9 September 2010, kami meninggalkan Pelabuhan Tengkayu, Kota Tarakan.


Gesekan antar penumpang karena padatnya speed boat yang kami tumpangi membuat detak jantung sedikit berdegup. Betapa tidak, Speed Boat yang maksimal daya tampungnya hanya 50 orang, namun diisi kurang lebih 55 orang penumpang sehingga speedboat menjadi oleng.

Belum lagi ditambah penumpang ilegal yang tidak masuk dalam data manifest penumpang. Ironisnya, sang masinis sanggup menerima semua penumpang tanpa memikirkan besarnya tanggung jawab yang dia emban.

Setelah beberapa menit speedboat berjalan, tiba-tiba berhenti dan sebuah speedboat kecil membawa beberapa penumpang mendekat. Kemudian beberapa orang yang berada di atas speedboar kecil tadi pindah ke speedboat yang kami tumpangi.
Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali.

Namun setelah beberapa menit berjalan, speedboat kembali berhenti di sebuah dermaga dan kembali memuat penumpang ilegal. Kegiatan seperti ini sudah lazim dilakukan tanpa sedikitpun mengindahkan prosedur dan peraturan lalu lintas air.

Sebanyak 4 kali speedboat yang kami tumpangi berhenti sebelum sampai di pelabuhan Sebatik dengan berbagai alasan. Beginilah kondisi transportasi yang ada di wilayah Utara Kalimantan Timur, dan tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain di Indonesia kita tercinta.

Jadi, sah-sah saja apabila terdapat kecelakaan lalu lintas darat maupun air, semua itu karena kita juga. Belum lagi rasa tanggung jawab masinis dan abk yang sangat kurang terhadap para penumpang. Akibatnya, barang bawaan kami yang sempat tercecer tidak secepatnya ditanggapi dan acuh tak acuh ketika kami memintai tolong.

Sudahlah! Daripada kita capek membahas sistim ketransportasian kita dengan segala keburukannya yang entah sampai kapan, ada baik kita lanjutkan tentang liburan ini. Dari kejauhan Pulau Sebatik sudah tampak dengan ciri khas Gunug Menangis (begitu warga Sebatik menyebutnya), sebuah gunung tinggi menjulang di ujung Barat Pulau Sebatik.

Kurang lebih pukul 01.31 kami merapat di pelabuhan rakyat Sungai Nyamuk. Lagi-lagi jantungku berdegup kencang karena speedboat yang oleng oleh ulah para para penambang speedboat tujuan Tawau Malaysia yang mencari penumpang.


pulau sebatik indonesia

Pelabuhan S. Nyamuk - FOTO: Sebatikcom


Tanpa menunggu lama, akhirnya kami meninggalkan pelabuhan menuju rumah. Syukur alhamdulilah, kami masih sempat merasakan buka puasa bersama bersama keluarga.

Pagi hari di Sebatik, melihat matahari terbit sangat indah, sangat menyita perhatian. Seperti biasa, 1 Syawal kami melaksanakan sholat ID di Masjid Syafaat yang berada tepat di belakang rumah kami. Tak lupa di hari pertama kami mengunjungi keluarga-keluarga dekat untuk bersilaturahmi.

Satu yang saya takkan pernah lupa saat berkunjung ke rumah salah satu keluarga yang berada di Peringkat 9. Cukup jauh, permukaan jalan yang tidak rata dan licin cukup menyita tenaga dan waktu, dan tidak jarang saya menurunkan kedua kaki untuk mengimbangi sepeda motor yang saya tumpangi.

Kondisi pemukiman dan infrastruktur yang ada di daerah ini hampir dapat dikatakan tak tersentuh oleh pembangunan. Padahal, jika kita melihat letak geografis daerah ini adalah berbatasan langsung dengan Sebatik Bagian Malaysia karena terletak di desa Aji Kuning.

Kami sempat mencicipi durian asli Sebatik. Durian yang ukurannya cukup besar dari ukuran normal. Untuk 1 buah, tak habis dimakan 1 orang. Kata pemilik durian, biji durian ini tidak dapat ditanam, namun untuk mendapatkan bibit dari durian ini harus dengan cara mengawinkan atau biasa dikenal dengan istilah cangkok.

Di mana perhatian pemerintah pusat maupun daerah terhadap wilayah perbatasan yang saat ini lagi panasnya dipermasalahkan? Apakah harus menunggu negeri jiran kembali mengklaim daerah perbatasan yang sangat rawan ini? Harapan kami sebagai warga agar pemerintah secepatnya menjadikan Sebatik sebagai daerah otonom agar tak lagi kecolongan seperti Pulau Sipadan dan Ligitan.

Di hari ke dua di Sebatik, kami menyempatkan diri mengunjungi Pantai Batu Lamampu. Sungguh panorama alam yang patut disyukuri. Batu yang berukuran cukup besar berada sedikit terpisah dari bibir pantai. Jika sepintas melihatnya hampir mirip Tanah Lot yang ada di Bali. Tapi di Sebatik ada kurang lebih 4 buah batu yang seperti ini.

Namun sayang, keindahan ciptaan Allah yang satu ini disalahgunakan oleh masyarakat setempat yang diyakini batu tersebut bisa membawa keberuntungan. Tak heran, banyak masayarakat yang membawa sesajen, melakukan ritual khusus, bahkan ada yang mengikat benang atau tali pada salah satu pohon segala permintaan akan dikabulkan, dari minta dimurahkan rezeki sampai dipertemukan jodoh. Naudzubillah.

Kami juga menyempatkan berkunjung ke Pos TNI AD dan TNI AL yang ada di Tanjung Aru (S. Bajau). Keramahan dan keakraban kami rasakan di sana meski jauh di dalam lubuk hati mereka harus memendam perasaan rindu saat jauh dari keluarga. Apalagi saat-saat lebaran seperti saat ini. Belum lagi segala beban tanggung jawab yang mereka emban demi keutuhan NKRI.



Tiba di hari ketiga, saatnya kami kembali ke Tarakan. Sebelum berangkat, saya sempat melihat sunrise di tepi pantai Sungai Bajau. Perpisahan dengan keluarga membuat sedih dan rasa rindu yang sangat dalam. Sebatik, tanah tumpah darahku. Tanah kelahiran putra-putri bangsa. Janganlah kau murung, karena kami akan kembali untuk memperjuangkanmu.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.