News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Inilah Cara Salin Tempel Dari Internet, Mau?

Inilah Cara Salin Tempel Dari Internet, Mau?


Oleh Yacong B. Halike


MALAM INI sebelum tidur, saya mau menulis tentang trik dan tips melakukan kopi dan paste (kopas) atau salin tempel data data yang bersumber dari internet.

Barangkali kita sudah sering mendengar kalimat, misalnya, "Googling, aja", atau "Tanya Google!". Nah, itulah beberapa selentingan seputar rangkaian acara “Ngopi” data dari internet menggunakan mesin pencari sebangsa Google, Bing, dan lainnya.

Saya menulis ini karena berangkat dari pengalaman, dan juga beberapa pengalaman rekan. Selain itu, masih ada sebagian orang yang alergi internet. Kita tidak menyangkal masih banyak kalangan yang mengaggap kopi paste artikel atau data data dari internet sebagai tindakan bodoh, tidak mencerminkan keilmiahan, dan dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Pandangan tersebut terasa janggal dan ketinggalan di era di mana internet pelan pelan telah menjadi mainstream (arus utama) baca dan menulis masyarakat kita. Orang orang cerdas semua sudah beralih ke internet. Mereka menuang gagasan di sana. Forum forum diskusi dengan tradisi kritis yang tinggi dan kadar ilmiah yang mumpuni sudah cukup jauh berkembang di dunia internet.

Kita tentu tidak asing dengan mendengar sebutan Digital Natives atau Net Generation. Julukan julukan tersebut adalah slogan menggambarkan gempitanya dunia internet sekarang ini. Inilah zaman di mana masyarakat telah sangat akrab dengan beranekaragam barang berteknologi tinggi. Bahkan ada julukan baru untuk gaya laku generasi manusia model ini: Generasi Z atau Generasi Multimedia.

Apa yang ada di internet tidak semua buruk, dan tidak semua unresponsible. Ada juga banyak data yang sangat ilmiah yang digagas orang yang berkompeten. Sehingga pada kesempatan yang singkat ini, saya akan sedikit menulis tentang bagaimana melakukan kopi paste yang baik, legal, dan bisa dipertanggungjawabkan, yang ini menurut saya pribadi. Berikut ini caranya:

  • Author
Ini yang harus diperhatikan, memperhatikan siapa penulisnya (author). Seonggok data akan semakin valid dan bernilai tinggi jika didapat langsung dari sumber yang memang ahli di bidangnya. Jika Anda membutuhkan data tentang pemasaran, maka carilah di internet tulisan tulisan Bapak Hermawan Kertajawa, yang dikenal sebagai ahli pemasaran. Atau kalau tentang politik, cari tulisan hasil gagasan Miriam Budiardjo yang ahli politik kawakan.

Untuk saat ini mencari tulisan dan gagasan dari para ahli sudah terbilang gampang. Sebab biasanya orang orang gede yang telah diakui dalam dibidangnya masing masing itu sudah punya web atau blog sendiri yang memuat tulisan mereka, ini akan memudahkan kita untuk melakukan pencarian untuk kelengkapan data paper atau makalah kita.

Saya berikan contoh, kalau Anda butuh artikel dan data ilmiah di bidang kependidikan, Anda bisa langsung, misalnya, membuka website pribadi pakar pendidikan Profesor Imam Suprayogo di www.imamsuprayogo.com. Web tersebut adalah web resmi yang dikelola langsung oleh sang pemilik atau orang lain yang ditunjuk. Masih banyak web pakar lainnya, ada Rhenal Kasali yang pakar bisnis dari Universitas Indonesia di www.rkse.co.id, dll

  • Primary URL
Plagiator atau penjiplak karya orang lain sangat banyak yang telah malang melintang di internet. Jumlahnya sangat banyak dan sudah menjadi budaya. Maka tak jarang sebuah karya bisa saja dikopi berulang kali kali kemudian di republish di banyak web atau blog. Maka pekerjaan kita sebagai pencari data untuk penelitian ilmiah kita adalah mencari sumber pertama dari sebuah data yang sudah kita dapatkan.

Primary URL atau link (alamat) utama website di mana kita mendapatkan data harus benar benar valid. Jangan sampai terjadi kasus kita melakukan kopi sebuah karya yang sesungguhnya ditulis oleh professor, tapi kita mendapatkan data itu di sebuah blog yang nama pengaranya telah diubah oleh pemilik blog. Sehingga seolah olah karya tersebut adalah hasil kerja blogger plagiator. Ini jelas akan merugikan penulis pertama sebagai pemegang hak cipta.

Untuk mengatasinya, diantara cara yang bisa dilakukan adalah melakukan pencarian ulang di mesin pencari. Silahkan kopi judul artikel yang mau kita cari sumber aslinya. Pada hasil pencarian biasanya sudah banyak link berbeda yang memuat artikel yang kita cari itu. Maka ketelitianlah yang harus diterapkan di sini.

Tapi tetap perhatikan saja, biasanya para akademisi menuangkan gagasannya di wadah resmi seperti di situs universitasnya tempatnya mengajar, situs berita, atau di web/blog pribadi dengan alamat domain yang resmi.

  • By Credit
Semua orang tentu mau dihargai, pun begitu dengan penulis atau akademisi yang telah menelurkan gagasan cemerlang, tentu dengan usaha yang ekstra keras mereka. Maka seorang siswa, mahasiswa, atau siapapun kita yang mengambil seluruh atau sebagian hasil karya orang lain untuk penelitian atau tulisannya, maka kewajiban kita (tidak bisa tidak) adalah menyebutkan sumber itu. Yang paling aman tentu saja adalah meminta izin langsung ke pemegang hak cipta.

Kalau data itu didapatkan dari internet, maka sebutkan sumber data itu, kapan dan di situs apa. Secara umum, format penulisan daftar pustaka referensi yang bersumber dari internet adalah seperti berikut: Judul; Penulis, Sumber, Waktu, dan URL.

Berikut contohnya:

Inilah Cara Salin Tempel Dari Internet, Mau?; Yacong B Halike, Kaltimtoday.com, Selasa, 13 Maret 2012, http://www.kaltimtoday.com/2011/03/inilah-cara-kopas-yang-legal-dan.html


Di samping manfaat internet yang bisa memudahkan kita, patut juga kita mengakui kalau internet pun memang sering disalahgunakan para mahasiswa, termasuk kita barangkali (lo aja kali, gw kagak :)).

Sehingga kondisi inilah yang sempat dikhawatirkan dan membuat berang Profesor Brabazon dari University of Brighton. Brabazon mengeluhkan bahwa internet membuat otak pelajar tumpul alias bodoh. Adanya situs mesin cari semacam Google misalnya, kata dia, membuat mahasiswa menjadi malas dalam menyusun penelitian.

Untuk itu, ia pun melarang penggunaan Google dalam membuat tugas kuliah. Sang profesor menganggap, banyak mahasiswa menyusun tugas yang tak bermutu karena mengandalkan mesin cari internet.

Menanggapinya, juru bicara Google, Oliver Rickman yang berbicara pada BBC Radio membantah anggapan Profesor Brabazon tersebut. Rickman mengatakan, internet telah menjadi sumber informasi yang revolusioner sehingga merupakan sesuatu yang sangat berguna.

Mengenai anggapan Google menyediakan sumber informasi yang tak berbobot, Rickman berkilah bahwa seharusnya para pelajar mampu melakukan penyaringan.

"Tentu saja sangat penting bagi pelajar untuk mampu memilah-milah bobot informasi dari sumber yang berbeda-beda," tandas Rickman yang dikutip detikINET dari DirectNews, Jumat, 25 Januari 2008 lalu.

Sekarang, tinggal kita yang menentukan. Data semua sudah tersedia, tinggal kita mau kritis atau tidak. Sebab, seperti kata profesor tadi, adanya mesin pencari membuat mahasiswa menjadi malas. Tapi perhatikan juga pesan Google: Seharusnya para pelajar mampu melakukan penyaringan.

Sehingga saya perlu tegaskan lagi, silahkan kopi paste data dari internet, tidak ada yang salah dari itu semua. Namun jangan lupa yang tadi, kita harus mampu memilah-memilah bobot data dari sumber yang berbeda beda. Serta perhatikan tiga cara yang sudah saya terankan di atas. Tengkyu.

*Penulis adalah seorang blogger asal Bontang, Kaltim

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.