News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Belajar dari Semangat Orang Kecil di Sekitar Kita

Belajar dari Semangat Orang Kecil di Sekitar Kita


Oleh Yacong B. Halike


KALTIMTODAY -- SEKITAR pukul dua belas siang kurang sedikit. Matahari bersinar gahar ketika Saya baru sampai di stasiun Depok Baru, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Setelah membeli karcis Kereta Listrik (KRL) kelas Ekonomi, Saya langsung menuju peron tunggu, tepatnya di rangkaian pemberangkatan Jalur I tujuan Jakarta Kota. Dalam duduk itu, seraya membaca koran Media Indonesia yang harganya sangat merakyat itu, saya melihat pemandangan yang sungguh sungguh sangat menggetarkan hati ini.

Ketika itu, saya menyaksikan seorang ibu tua menggendong semacam keranjang berisi rupa rupa jajanan kecil seperti permen, tisu, polpen, dan berbagai merk rokok batangan. Ibu itu berkeliling dari sudut ke sudut, dari kursi ke kursi. Seperti tak ada lelahnya. Ia juga sesekali mendatangi langsung calon penumpang yang duduk kursi besi permanen stasiun untuk menawarkan jualannya.

"Ayo, bu, pak. Yang belum, yang belum. Ayo siapa lagi. Permennya, pak," itulah kata yang acap diujar dia berulang-ulang, ke mana mana, penuh optimisme. Ia juga sigap sekali. Sedikit saja mata calon penumpang kereta siang itu melirik ke keranjang, si ibu akan merespon dengan cepat menanyakan apa yang dibutuhkan. Agresifitas yang luar biasa.

Di sudut pandang yang lain, tampak segerombolan anak anak muda, sekira berumur 20 tahun ke atas, berkeliling ke sana kemari berteriak menawarkan berjenis koran harian terbitan ibu kota. Juga, tak pernah lelah mereka saling berburu naik turun kereta yang berhenti bongkar muat penumpang, untuk sekedar menawar korannya dengan harga murah meriah itu.

Yang juga menggetarkan, siang yang terik itu, tampak juga kakek renta yang sudah bungkuk. Ia terlihat mengecek-ngecek semua tong sampah yang ada di lokasi stasiun. Diintipnya dalam dalam setiap tong, kemudian dikoreknya beberapa gelas kemasan plastik bekas yang kemudian dimasukkan karung yang dikait di pinggangnya. Saya melihat, semua orang orang itu bekerja dengan giat sekali.

Dari pemandangan maujud itu, Saya, mungkin juga kita semua kemudian merenung. Sungguh luar biasa orang orang seperti mereka, terlepas tentang jenis koran apa yang mereka jajakan, juga terlepas berbagai merk rokok yang mereka supply, dan untuk apa penghasilan penghasilan itu kemudian mereka manfaatkan. Tetap pada intinya mereka adalah para manusia yang telah berusaha mengais rejeki halal di atas bumi Tuhan ini, bumi yang yang bisa kita simpulkan tengah berada di "genggaman" sekelompok orang rakus lagi serakah yang ada di atas sana.

Dalam setiap ritme perjalanan kemandirian orang orang yang sering disemat dengan sebutan "orang keci", kita sesungguhnya mendapatkan bergumpal gumpal hikmah dan pembelajaran yang bisa dituai untuk kemudian kita jadikan cemeti menggencarkan spirit berdikari kita yang selama ini sering direcoki dengan laku permissif dan pesimis. Disanalah kita belajar tentang etos kerja, tentang kecintaan terhadap karir, tentang hidup yang tak pernah lepas dari goncangan.

Bekerja Adalah Keberkahan

Beberapa waktu lalu, seorang sejawat dekat bercerita. Kolega ini mengaku sering tidak habis pikir dengan keadaan orang orang yang sehari hari berjualan sesuatu yang tampak remeh temeh, sebutlah seperti kanebo (lap motor).

Sering kita temukan orang berjuakan karet lap itu di sejumlah titik titik lampu merah di Jakarta dengan curah panas matahari yang menyalak persis di ubun ubun. Ada juga orang di sekitar kita, mungkin kenalan kita, yang sehari hari berjualan masker yang harga seribuan. Ada yang berjualan kardus bekas, ada yang menjadi tukang parkir, dan lain lain.

Tapi nyatanya, manusia manusia pekerja keras ini tetap selalu semangat setiap hari melakukan aktifitas berjualan, walaupun tampak dagangan mereka seperti tidak laris laris amat. Kendati begitu, mereka mengais rejeki dari Tuhan terus menerus. Setiap hari.

Sungguh Maha Kuasa Tuhan meliputi setiap usaha usaha hamba-Nya. Tidak ada yang sia sia dari usaha usaha tersebut. Jiwa besar dan semangat yang tak pernah padam akan melahirkan kemenangan demi kemenangan. Kesuksesan demi kesuksesan. Kebahagiaan demi kebahagiaan.

Mungkin setiap hari di sekitar lingkungan aktifitas kita, kita sering menemukan orang orang yang hanya berjualan permen secara direct seeling alias menjajakan langsung, seperti di angkutan angkutan umum atau di kereta, namun luar biasa, mereka bisa eksis pekerjaan pekerjaan dengan itu. Mereka bahagia meski secara lahir mereka tak punya banyak uang.

Mereka juga tampaknya menikmati pekerjaan itu tanpa ada rasa malu. Tanpa rasa hina. Merekalah, bagi Saya, para pemburu rahmat dari Tuhan. Sebab rejeki yang datang kepada kita sesungguhnya adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Tuhan kepada kita.

Coba kita bayangkan. Misalnya, di sebuah lorong atau koridor di dalam sebuah pasar, semua pedagang yang ada di situ menjajakan dagangan yang sama, menjual pisang semua umpamanya. Maka logikanya mereka tentu akan bersaing untuk mendapatkan pembeli.

Sementara itu sering kita temukan koridor yang benar benar sepi pengunjung, sehingga disinilah bisa jadi para pedagang bisa dikata untung untungan. Namun Tuhan tidaklah buta. Siapa saja hamba-Nya yang mau bekerja, pasti akan mendaptkan hasil yang bagus.

Dari pengalaman dengan pandangan mata lahir itu, kita (khususnya buat Saya) seharusnya dapat mengambil pelajaran di sana dan menyentak sanubari kita bahwa masih banyak orang yang tidak mampu di bawah kita, tapi mereka mau bekerja, mereka mau berjibaku dengan pola hidup yang teramat kejam di negeri ini.

Di saat para konglomerat nakal berhasil meraup bergunduk-gunduk harta dari hasil menipu seperti kasus yang menimpa sejumlah petinggi bank dan politisi di negara ini, kita saksikan sebuah kontradiksi yang pahit: Orang orang kecil begitu terseok seok memperbaiki pendapatan mereka untuk menyekolahkan anak anak, menafkahi karib kerabat mereka. Sementara orang orang kaya itu hartanya seperti unlimited, harta mereka terus berbunga, terus bertambah, inilah mereka para perampok bengis itu.

*Penulis adalah blogger asal Kaltim

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.