Notification

×

Iklan

Iklan

Jurnalisme Kita dan Nilai Sebuah Berita

Selasa, 06 November 2012 | 05:30 WIB Last Updated 2022-01-11T06:53:54Z
Oleh Ainuddin Chalik

PADA kesempatan kali ini, saya akan membahas sedikit tentang nilai sebuah berita dalam prinsip-prinsip kerja jurnalisme. 

Namun, sebelumnya, kita harus dipahami dulu apa itu jurnalisme. 

Tentu berbeda definisi substantif dari jurnalisme dilihat dari sudut pandang jurnalisme kapitalistis dan dalam perspektif jurnalisme profetik. 

Kedua kelamin jurnalisme ini memiliki pengertian dan sudut pandang berbeda. Bahkan sangat berbeda. 

Jurnalisme sendiri dalam pengertiannya yang paling umum adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam bentuk surat kabar, majalah, visual, dan sebagainya. Secara sederhana juga bisa kita artikan sebagai kegiatan kewartawanan. 

Namun jurnalisme dalam perspektif dan prinsip kerja jurnalisme profetik tidak hanya sebatas pemahaman tersebut di atas (mengumpulkan, menulis, mengedit). Tapi labih dari itu, jurnalisme profetik adalah pekerjaan dalam rangka mengabarkan kebenaran.

Kode etik pers dalam jurnalisme profetik yang paling utama adalah tabayyun (check and recheck) atau melakukan konfimasi dan verifikasi kepada pihak pihak terkait yang akan kita terbitkan atau laporkan perihalnya. 

Dalam hal ini, sebagai jurnalis, kita harus benar benar mendapatkan suatu penegasan, pernyataan, pengesahan, atau pembenaran dari sebuah masalah dan atau statemen yang akan kita dilaporkan.

Mengedepankan etika verifikasi inilah yang kerap dilupakan media, bahkan tak terkecuali media mainstream sekalipun, yang terkadang hanya berorientasi pada “jurnalisme kuning”, alias media atau saluran transmisi yang semata mengeksploitasi sesuatu untuk merebut perhatian dan minat pembaca dengan muslihat yang membangkitkan emosi tanpa disertai fakta.

Selain itu, media atau jurnalis, berangkat dari spirit jurnalisme profetik ini, harus selalu mengedepankan dan memberikan ruang besar untuk klarifikasi dan verifikasi. 

Hal ini memiliki peranan sangat mendasar dalam prinsip penegakan kode etik Jurnalisme Bijak sebagai upaya untuk penjernihan, penjelasan, dan pengembalian suatu masalah untuk menempatkan opini kepada posisi yang sesungguhnya.

Sampai di sini, saya kira, pengertian jurnalisme sudah cukup jelas. Jadi ada perbedaan yang benar benar mencolok pengertian jurnalisme dari perspektif etika profetik dan dalam sudut pandang kapitalisme. 

Dari sudut pandang etika kerja profetik, jurnalisme adalah pekerjaan mengolah berita dengan prinsip jurnalistik yang independen dengan mengedepankan etika etika Islam seperti kejujuran, kebenaran, menjaga syariat, mengedepankan tabayyun, dan tak sekedar mengejar oplah atau menjadi industri media semata.

Intinya, jurnalisme profetik adalah jurnalisme Islam, dan ia adalah merupakan etika jihad. Yakni etika kerja jurnalisme yang berkomitmen membela hak hak dan kepentingan umat Islam dan kalangan tertindas di mana saja berada. Spirit ini tidak boleh dilupakan oleh praktisi media, di mana pun ia berkecimpung.

Sementara jurnalisme kapitalistis, saya menyebutnya, sebagai jurnalisme setengah hati. Maksudnya, etos kerja profetik acapkali terpinggirkan dan keberpihakan kepada kepentingan pemodal dominan.

Setengah hati dalam arti kata, bahwa di sisi lain media yang "jualan" jargon independen, tidak berpihak, berimbang. Namun, dalam waktu yang sama tampak juga laku hipokrasi sangat mencolok di sana.

Nilai Berita
Oke, kita masuk ke pembahasan inti. Jadi, apa inti dari sebuah berita? Ini pertanyaan yang harus kita jawab, sekaligus untuk membahas tema yang kita bahas saat ini. 

Selain ada sepuluh kriteria (yaitu: Magnitude, Significance, Actuality, Proximity, Prominence, Clarity, Surprise, Impact, Personal Conflict, Human Interest) suatu hal itu bernilai berita, ada hal lain juga yang tak bisa kita lupakan di mana laporan baru benar benar bisa disebut bernilai berita kalau ini ada. Bagi saya secara pribadi, inti atau nilai dari sebuah berita yang terpenting adalah kutipan. Ya, kutipan!

Berita tanpa kutipan adalah opini, atau ia bisa dianggap hanya sebagai pendapat dari penulis atau reporter. 

Meskipun begitu, ia tetap bernilai berita, tapi sangat rendah kalau mau disebut laporan ekslusif. Mengapa demikian? 

Kira kira asumsi dan ilustrasi berikut ini bisa menjawabnya.

HARI Selasa siang, 06 November 2012 pukul 12:00 yang panas, terjadi kebakaran hebat di Mall Doang Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Kebakaran terjadi disinyalir karena ada arus pendek listrik yang bermula dari Lantai 5 gedung tersebut. Kebakaran  ini menewaskan 20 korban. Sebanyak 11 wanita dan 9 laki belum diketahui identitasnya. Para korban diduga tak berhasil lolos dari kepungan asap dan api yang masih berada di dalam gedung saat kejadian berlangsung.

Dari peristiwa tersebut, sang reporter pun langsung buru buru mengirimkan berita ke redaksi karena menilai itu adalah berita ekslusif dan jadilah berita seperti yang diasumsikam di atas. 

Sang reporter segera mengirimnya, karena hanya media dia saja yang kebetulan yang ada di tempat kejadian. 


Dari prinsip jurnalisme, berita langsung (hard news) di atas sebenarnya sudah cukup memenuhi kaidah W5H1 (Siapa, Apa, Dimana, Kapan, Mengapa dan Bagaimana). 

Namun, sayangnya, ada yang dilupakan. Yaitu tidak adanya sumber yang dapat menguatkan terjadinya peristiwa tersebut. 

Pembaca mungkin akan bertanya, benarkah ada kebakaran di Mall Doang? Seberapa hebat kebakaran itu?.

Boleh jadi sang wartawan telah berfikir dalam kondisi seperti itu tak ada lagi pentingnya menemukan narasumber, toh progress news dari peristiwa tersebut selanjutnya akan running di waktu-waktu berikutnya. Apalagi reporter menyaksikan sendiri peristiwa itu. Secara prinsip tak ada yang salah.

Namun, wartawan yang jeli yang tak mau dinilai hanya beropini dalam reportasenya, maka yang harus dia lakukan adalah mencari orang kedua sebagai saksi mata dari kejadian tersebut. 

Saksi adalah penguat berita kita. Saksi atau orang kedua setelah reporter harus  ditempatkan utama di dalam memberitakan kejadian seperti ini.

Memang jelas, sang reporter menyaksikan sendiri kejadian itu. Tapi inilah yang tidak boleh disepelekan bahwa reporter tidak boleh menuangkan "opininya" dalam laporan. Ia hanya boleh menulis fakta. 

Menulis laporan tanpa ada pernyataan akan terasa sekali sangat hambar dan itu tak ubahnya opini. Maka disitulah pentingnya memasukkan kutipan dari saksi mata yang lain agar laporan kita benar benar faktual, bukan opini atau terkesan semata sangkaan.

Bagaimana? 

Tentu berita yang disertai kutipan akan terasa lebih menarik, lebih faktual, ketimbang berita yang hanya bercerita tentang kejadian tanpa ada satupun saksi atau orang kedua yang ditampilkan untuk menguatkan laporan. 

Berita dengan kutipan juga menunjukkan bahwa berita yang kita laporkan adalah ekslusif. 

Nah, itulah inti dan pentingnya kutipan untuk sebuah berita. Karena seorang reporter diharamkan untuk beropini, sedikit pun.

*)Penulis adalah wartawan. Sumber gambar ilustrasi: Keteto.net]
×
Advertisement Link di Sini