News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Stop, Jangan Tuduh Islam Sebagai Ancaman!

Stop, Jangan Tuduh Islam Sebagai Ancaman!

Oleh Yacong B. Halike*

JAUH hari sebelum perayaan Paskah digelar, berbagai pemberitaan mengetengahkan ihwal kesiapan pihak keamanan mengawal kegiatan tersebut. Tak ketinggalan presenter atau anchor televisi dalam setiap penampilannya selalu mengingatkan akan adanya bahaya aksi terorisme di hari hari suci umat agama Kristen tersebut. Seraya memutar kembali video video aksi serentetan bom biadab sebelumnya, penyiar mengingatkan bahaya gerakan kelompok Islam yang dijuluk sebagai lempok “garis keras” itu.

Namun rupanya tak hanya menjelang Paskah atau Jum’at Agung yang sudah dirayakan beberapa saat lalu. Menjelang Natal, menjelang Hari Raya Waisak, menjelang Nyepi, dan hari hari besar suci agama lainnya, media acap selalu sibuk mengangkat tema tentang bagaimana kesiapan aparat keamanan untuk mengamankan situasi dan kondisi hari perayaan.

Memang harus kita akui bahwa perayaan hari hari besar agama agama dan sejenisnya memang selalu dikaitkan dengan bahaya aksi peledakan bom, bahaya aksi teror, bahaya aksi durjana kelompok yang dicap sebagai golongan garis keras. Dan jelas, telunjuk sudah pasti menyerempet kepada Islam yang sering dianggap sebagai biang keladi dari aksi aksi bengis itu semua.

Tapi seperti ada yang aneh, di mata kita. Kalau kita perhatikan betul, keadaan seperti itu jutsru sangat kontras ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri atau hari hari besar Islam lainnya seperti Maulid, Isra Miraj, dan lain lain. Sama sekali tak segegap gempita pemberitaanya tentang berapa personil kepolisian yang akan turun mengamankan perayaan sebagaimana perayaan perayaan lainnya.

Dari sini, mungkin hati kecil kita berkata, apakah Islam benar benar adalah ancaman, kok sampai sebegitu penggambarannya yang mencuat?. Ini tidaklah berlebihan. Aksi ledakan bom bunuh diri di Masjid Adz Zikra Mapolresta Cirebon, misalnya, tanpa data dan fakta yang benar benar kuat, sejumlah media mainstream langsung mengarahkan telunjuk bahwa aksi itu berkaitan dengan kelompok lama. Kelompok lama di sini saya tidak tahu, tapi mungkin yang dimaksud itu kelompoknya Amrozi, Cs atau Boim, Cs.

Sayangnya tudingan tudingan itu sering hanya dilengkapi komentar dari orang orang yang sering disebut sebagai analis, pakar terorisme, atau ahli. Pertanyaannya, siapa yang mendapuk mereka sehingga dikenal sebagai analis, pakar, atau ahli? Ya, pendapuknya tentu media itu sendiri, yang sudah melanggannya. Jadi seperti ada ketimbangan dalam laporan dan kaidah jurnalitik pun terkesampingkan.

Inilah yang kemudian rasanya kurang adil, media kerap tak menampilkan suara narasumber dari kelompok yang dituding kecuali hanya secerca dan sepotong sepotong. Saya sendiri sangat mengutuk aksi biadab membunuh anak manusia tanpa alasan yang jelas itu. Tapi tindakan langsung menuding ke mana mana dan menebar macam macam steorotip akan membuat masalah semakin runyam. Dan barangkali tak akan pernah selesai.

Seperti aksi bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, misalnya, ada yang gegabah yang langsung mengaitkan bom di markas polisi itu dengan Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo pimpinan Abu Bakar Baasyir karena pelaku diduga sebagai alumni Ngruki. Tapi ini ternyata juga pun tidak terbukti. Sementara itu sejak pagi pagi Abu Bakar Baasyir sudah menolak keras dikaitkan dikaitkan dengan bom tersebut dan menyebut pelaku bom bunuh diri sakit jiwa.

Bahkan Media Center JAT atau departemen informasi dan hubungan masyarakat Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), organisasi pimpinan Baasyir, menyebut aksi Muhammad Syarif itu itu adalah tindakan haram yang tak ada dalam fikih jihad. Dan orang yang melakukan bom bunuh diri itu, kata Media Center JAT, berarti tidak mengerti perkara jihad yang sesungguhnya.

Jadi bagaimana mungkin aksi tersebut bisa langsung dikaitkan dengan ajaran Islam karena jelas sekali bertolak belakang dengan nilai nilai Islam. Menurut JAT, pasti ada aktorintelektual yang menjadi penunggang dari aksi itu yang sengaja mau membuat kacau. Siapa penungganya, ini yang selalu susah disatroni dan tentu tidak bijaksana kalau semata menebak-nebak. Teka teki yang runyam, memang.

Kampanye Hitam

Dari gelapnya pemahaman saya untuk dapat mencerna motif sejumlah aksi teror akhir akhir ini, saya jadi teringat dengan rumus propaganda yang diterlurkan Joseph Goebbels, konon dia adalah tokoh propagandis tulen Jerman yang dimiliki oleh pimpinan organisasi NAZI, Adolf Hitler.

Bagi Goebbels, definisi situasi dapat dibentuk dan digunakan untuk mengendalikan massa atau orang ramai. Ia menyatakan bahwa suatu kebohongan akan diterima sebagai kebenaran jika terus menerus ditiupkan dalam kesadaran masyarakat.

Agaknya teori itulah yang coba dimainkan kalangan phobia Islam hari hari ini, tentu saja dengan sokongan penuh media media pro kebebasan lagi permissif. Dari upaya upaya itu maka dibentuklah sedemikian rupa kesan Islam yang temperamental, sadis, doyan tebas menebas, adalah agama teror, dan penggambaran Islam yang satanic, agama yang menakutkan lagi gemar menumpahkan darah.

Selaku orang awam, jujur saja saya sama sekali tidak paham apa motif sejumlah aksi bomber akhir akhir ini. Namun lagi lagi sebagai orang awam, saya hanya bisa berkesimpulan, meski ini sangat prematur tampaknya, bahwa aksi aksi itu sangatlah aneh di mata saya dan rasanya, kok, sarat dengan kepentingan kepentingan kalangan tertentu.

Islam yang saya pahami adalah Islam yang tak sewenan-wenang, bukan pula Islam yang suka menebar teror dan kebencian. Barangkali pandangan saya ini tidak popular di kalangan atau kelompok Islam tertentu, tapi adanya bom bom yang tak jarang menewaskan orang orang tak berdosa itu membuat saya juga menjadi prihatin.

Dari aksi bom bom yang misterius itu banyak kemudian masyarakat yang awam terhadap syariat Islam memicingkan pandangan terhadap muslimah yang bercadar. Muslim bercelana cingkrang pun dicap sebagai orang yang beraliran Islam keras, sementara saudara muslim kita yang menjaga hijab dianggap tak suka bersosialisasi di masyarakat. Bahkan tak sedikit yang mengaitkan aksi kekerasan dengan Wahabi, padahal apa dan siapa Wahabi sendiri belum dipahami secara jelas.

Fenomena yang berdampak terhadap umat Islam lainnya tersebut tidak lepas dari peran beberapa terduga pelaku teror yang memang kerap ditemukan bercelana cingkrang, istri bercadar, dan relatif menjaga diri dari pergaulan pergaulan bebas. Namun ternyata ini kemudian berimbas kepada saudara saudara Muslim kita yang lain yang tak tahu apa apa, tak terlibat sedikit pun, bahkan mengutuk aksi aksi semacam itu.

Berangkat dari semangat dan dalih pengkafiran, maka meledaklah bom. Bagi saya, hal itu adalah tafsiran yang gegabah dan hanya akan merugikan Islam dan umat Islam sendiri di negeri ini. Tapi yang sampai hari ini terus menjadi tanda tanya, siapa sesungguhnya yang bermain di balik lakon lakon beringas itu? Ini teka teki yang tak pernah terjawab. Selalu ada sekat hitam yang sungguh berat dihilangkan.

Lantas, demikian juga kenapa stigmatisasi Islam sebagai terorisme seperti sudah mengakar sangat dalam di kepala khalayak ramai? Bahkan ini bukan saja di Indonesia tapi sudah mendunia. Barangkali betul apa yang dibilang Goebbels, bahwa suatu kebohongan akan diterima sebagai kebenaran jika terus menerus ditiupkan dalam kesadaran masyarakat.

Artinya, Islam sebagai agama yang mengayomi, mengedepankan kasih sayang hatta itu kepada binatang, namun kemudian selalu digambarkan sebaliknya secara terus menerus oleh media sebagai agama kekerasan, penindas, dan teror, maka pelan tapi pasti akan terciptalah kondisi yang dikehendaki itu sebagai sebuah kebenaran di mata orang orang. Inilah yang dilakukan oleh media, setiap pagi, setiap hari. Karena sebagaimana kita ketahui penguasa media dunia hari ini adalah kalangan yang memang phobia, yakni mereka yang rajin memelihara ketakutannya terhadap Islam dan tak berusaha untuk memahaminya secara benar.

Itulah mengapa setiap menjelang peringatan hari hari besar agama lain, aparat keamanan selalu sibuk membuat brigade kemanan. Media juga tak mau ketinggalan uring-uringan mengetengahkan perihal kesiapan aparat untuk mengawal perayaan perayaan itu. Bahwa dikhawatirkan ada aksi peledakan bom dari kelompok kelompok radikal, yang ujung-ujungnya adalah Islam. Dan rasanya pengkondisian semacam itu justru seperti jelas sekali menempatkan Islam sebagai ancaman.

Selain polisi dan aparat pemerintah, tentu kita sebagai warga negara yang baik juga harus terlibat dalam menjaga kondisifitas dan kemanan di sekitar masyarakat dari aksi aksi sadis para peneror. Tapi yang kita harapkan juga adalah media jangan serta merta seperti menempatkan kelompok atau agama tertentu sebagai ancaman. Toh, konklusi prematur tanpa akurasi data yang bisa dipertanggungjawabkan dengan mencoba mengaitkan aksi aksi teror dengan agama Islam justru akan memperkeruh suasana dan rentan sekali menciptakan ketidaknyamanan.

Saya pun menjadi semakin khawatir jangan jangan bom yang ada di dekat gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang, yang sempat menggemparkan kita beberapa waktu lalu yang terduga pelakunya sudah ditangkap, itu akan dikaitkan-kaitkan dengan Islam lagi.

Kesimpulan sementara pihak kemananan memang menyebutkan bahwa kelompok itu tidak masuk ke dalam jaringan lama, tapi pola yang digunakan adalah pola lama. Peran media yang kadang suka memaksakan kehendak untuk memutarbalik fakta jelas selalu ada, dan itu niscaya, bahwa akan selalu ada propaganda di dunia ini, sebagaimana teori yang dicetus Goebbels.

Sebagai orang awam, saya menyatakan, saya tidak setuju dengan aksi aksi bom dan membunuh anak manusia tanpa alasan yang jelas. Saya benar benar mengutuknya. Dan kepada media, mohon, stop kampanye hitam terhadap Islam!. Tapi yang terakhir ini sepertinya mustahil karena memang perang akan terus berlanjut dengan berbagai rupa tendensi dan juga harga diri. Inilah dunia yang tak pernah selesai bertikai.


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.