News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Hilangnya Nilai Kemanusiaan dan Kehancuran Adab Republik Tercinta

Hilangnya Nilai Kemanusiaan dan Kehancuran Adab Republik Tercinta















ADA ungkapan cukup menggelitik: Di Cina koruptor potong kepala, di Saudi pencuri potong tangan, di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanan. Malah lebih gila lagi, bisa dapat bonus tambahan yakni ‘sangat diperhatikan’.

Siapa yang tidak jengkel dan marah ketika tiba-tiba kita mendengar SBY membalas surat pribadi Nazarudin, sang koruptor yang sempat membuat heboh bangsa ini?

Koruptor langsung diperhatikan suratnya dibalas pula. Sementara masyarakat Sidoarjo, para korban lumpur LAPINDO itu, sampai sekarang nasibnya terkatung-katung. Bahkan nyaris terlupakan. Di sisi lain sudah pasti, para koruptor, ditangkap atau tidak, mereka tetap terhormat dan akan dihormati, setidaknya oleh presiden.

Lalu, di mana pengamalan Pancasila sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab? Sungguh, SBY telah menciderai rasa kemanusiaan paling hakiki di negeri ini dan berani bertindak tanpa adab. Kalau begitu wajar negeri kita ini menjadi surganya para koruptor dan neraka bagi kejujuran.

Hampir seluruh pelaku tindak korupsi, nyaris tak bisa dilumpuhkan. Lihat saja Nunun Nurbaeti, dia perempuan tapi hebat. Nazarudin saja kalah. Walaupun Nazarudin lebih hebat lagi, sebab tertangkapnya menjadikan dia sebagai koruptor pertama yang mendapat balasan surat dari presiden SBY.

Sementara hampir seluruh rakyat Indonesia, sengaja dibiarkan hidup tanpa kesejahteraan. Tidak usah negara dituntut untuk memikirkan nasib anak-anak balita hari ini, sekedar untuk urusan mudik, siapa yang lemah fisiknya siap-siaplah pingsan di stasiun kalau tidak gagal mudik karena tidak kebagian tempat di atas kereta ekonomi yang penuh sesak, bak kandang ayam ras itu.

Di akhir pekan ini, menjelang hari raya, melalui pemberitaan di media bangsa ini dikejutkan oleh pernyataan pejabat negara yang tidak semestinya. Terakhir, Marzuki Ali ketua DPR RI punya gagasan, bagaimana kalau dana kampanye partai saat pemilu ditanggung oleh negara. Bagaimana logikanya?

Semua itu terjadi karena betapa kuatnya tarikan kekuasaan yang berbau dengan segala kenikmatan. Sangat nikmat memang, sampai semua orang lupa bahwa hari kiamat dan kematian itu ada!

Perilaku demikian bukan tanpa sebab. Satu sebab utama ialah, komposisi DPR. Komposisi DPR RI itu sudah kurang sehat, setidaknya jika itu dilihat dengan akal sehat kita. DPR di isi oleh advokat, artis, pengusaha dan lain sebagainya. Di mana masing-masing anggota DPR masih aktif menjalani profesi sebelum jadi anggota DPR. Satu kursi ‘empuk’ masih kurang. Jadi ingin beberapa kursi ‘empuk’ sekaligus.

Kursi ‘empuk’ memang membuat akal sehat politisi negeri ini terserang ‘demam materialisme’ yang begitu kuat. Asal ada kursi kosong, parpol ingin mendudukinya. Lihat saja rebutan kursi kedutaan untuk Italia?

Waktu pilpres usai, masing-masing sibuk ingin duduk di kursi menteri. Sekarang ada kursi duta besar kosong, masing-masing parpol ingin duduk rame-rame. Kalau begitu mana untuk rakyatnya? Berarti tuntutan rakyat yang diwakili Iwan Fals lewat lagunya “Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat,” belum juga dipenuhi. Sungguh lambat sekali respon untuk rakyat!

Apa Yang Salah
Negara ini tentu tidak dibangun atas landasan yang rapuh. Sebaliknya cukup kuat. Cukup kuat untuk menjadi negara yang lebih maju, cukup kuat untuk mencerdaskan penduduknya, juga cukup kuat mensejahterakan seluruh rakyatnya. Makanya ada sila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tetapi belakangan landasan yang kuat itu sudah mulai ditinggalkan. Politisi di Senayan sudah bukan lagi orang yang cerdas. Mereka buta sejarah terhadap bangsa sendiri, buta sejarah dunia, dan paling memprihatinkan adalah, buta kondisi rakyatnya saat ini.

Apa sebab dari semua ini? Rendahnya kualitas keilmuan politisi dan diberlakukannya sistem yang memungkinkan orang bertindak tanpa filter akal sehat dan nurani. Inilah demokrasi ugal-ugalan.

Katakanlah hari ini rakyat marah dengan para politisi. Tetapi tatkala masa kampanye tiba, siapa yang siap hadir di lapangan dalam acara kampanye maka partai A akan memberikan hadiah masing-masing hadirin akan mendapatkan Rp. 100.000,- siapa yang tidak tergiur. Apalagi disertai dengan penampilan artis yang mengajak semua peserta berjoget bersama.

Menuju Kehancuran
Satu hal yang tidak bisa disangkal oleh siapapun ialah, pengabai nilai kejujuran tidak akan menuju kemana-mana selain pada kehancuran.

Fakta akan hal ini sudah cukup banyak. Bagaiman raja Luis XVI di Perancis dihukum mati oleh rakyatnya seketika setelah revolusi Perancis berakhir. Demikian pula dengan Suharto saat tuntutan rakyat sudah membuncah. Presiden kedua RI itu jatuh dan tak pernah bisa bangkit lagi untuk selamanya.

Sama halnya dengan pola pemerintahan otoriter yang diterapkan oleh Gereja beberapa abad sebelum renaisance. Sama pula dengan tenggelamnya Fir’aun di tengah laut beserta bala tentaranya, juga sang pencinta harta, Qarun yang tenggelam ditelan bumi.

Fakta tadi adalah bukti empiris kajian sejarah dan bukan cerita kosong. Namun demikian watak penguasa yang bermental kerdil memang lebih mendahulukan khayalannya dari pada nalarnya. Seperti pada sejarah Musa dan Fir’aun. Musa hidup dengan nalarnya sementara Fir’aun gembira dengan khayalannya.

Bisa kita bayangkan, demi untuk kelanggengan kekuasaanya, Fir’aun berani mengambil keputusan membunuh seluruh bayi laki-laki di tanah Mesir. Sementara sebagian rakyatnya tetap berada dalam kebodohan, kemiskinan dan pengangguran.

Cukup menarik apa yang disampaikan oleh John Renard yang mengkaji senandung cendekiawan Muslim, Jalaludin Rumi dalam karyanya ‘All The King’s Falcon: Rumi On Prophets and Revelation’. Di sana dikatakan;


“Karena raja adalah pendendam dan juga penyayang; ia menganugerahkan jubah kehormatan maupun memerintahkan ke penjara. Raja itu menaruh orang ke tiang gantungan, lalu menggantungnya di tempat yang tinggi di tengah-tengah rakyat yang berkumpul. Ia pun dapat menggantungnya di dalam gedung, tersembunyi dari rakyatnya, dengan gantungan yang rendah; tetapi perlulah bagi rakyat untuk melihat dan mengambil peringatan. 

Ketika Tuhan Yang Mahatinggi hendak menghukum seseorang. Ia menganugerahinya pangkat tinggi di dunia dan kejaraan besar, sebagaimana dalam kasus Fir’aun dan Namrud dan yang sejenisnya. Semua kedudukan yang terkemuka itu adalah seperti tiang gantungan di mana Tuhan Yang Mahatinggi menaruh mereka (para raja), supaya semua rakyat dapat melihat mereka.” (hlm 127).


Jadi, kekuasaan pada hakikatnya dan hal ini berlaku universal, tidak lebih dari sebuah sarana uji mental menjadi pemimpin sejati. Siapa yang lalai dan terbuai dengan kenikmatan kekuasaan maka waktu akan mengantarkannya pada situasi yang sangat memprihatinkan.

Sebaliknya yang mampu menjaga diri, nafsu, dan keluarga dari praktik hidup hedonis, konsumtif, dan materialis, niscaya dia akan menjadi pemimpin yang akan abadi bersama perjalanan sejarah. Tidakkah cukup bagaimana dunia tak mampu menemukan celah pada kepemimpinan Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, Umar, dan Umar bin Abdul Azis?

Prototype pemimpin yang terakhir disebutkan adalah pemimpin-pemimpin yang bergerak atas landasan nilai kejujuran, keberanian, dan tentu semangat menegakkan keadilan yang tangguh. Tanpa spirit tersebut dan tidak dalam rangka tujuan mulia itu, siapapun anda, sejarah akan menghukumnya.

Jernihkan Hati dan Pikiran
UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara telah menyebtukan bahwa bangsa ini harus bergerak atas landasan hakiki peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh karena itu dalam sila kedua kalimatnya berbunyi, Kemanusiaan yang Adil dan Bearadab.

Tingkah polah beberapa pejabat nasional, termasuk presiden (khusus kasus membalas surat Nazarudin) sungguh telah menyimpang dari landasan negara. Koruptor itu sama saja dengan penjajah. Dia mengambil uang hak rakyat untuk kepentingan pribadinya.

Dan, bahaya para koruptor jauh lebih besar dari bahaya bom bunuh diri yang katanya dilakukan para teroris. Bukan saja rakyat yang hari ini menyaksikan dan merasakan dampak buruk praktik korupsi, tapi keturunan bangsa ini akan malu punya pemimpin, punya leluhur yang suka mencuri. Bahkan mereka akan sangat membenci karena mereka lahir dan besar di tengah kesengsaraan yang mereka yang bukan dari hasil perbuatan mereka.

Oleh karena itu, kepada para pejabat negara, berpikirlah secara jernih. Nyalakan pelita iman, pelita pikiran anda dan baca ulang itu dasar-dasar negara. Kalau memang anda tidak bisa memahami dan memilih apa yang mestinya dipilih, sebaiknya mundur dan jangan banyak tingkah. Sebelum waktu akan menghancurleburkan semuanya.[]


*Penulis adalah kolumnis tetap www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.