News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Sudahlah, Aku Memang Tidak Berbakat Menulis?

Sudahlah, Aku Memang Tidak Berbakat Menulis?




Oleh Yacong B. Halike*


KALTIMTODAY -- MENULIS adalah pekerjaan yang gampang gampang susah. Gampang, jika kita memang sedang enjoy untuk menulis. Susah, kalau virus mood (tidak berselera) datang menyerang. 


Kalau serangan ini datang, untuk sekedar menulis kata pertama pun susahnya bukan main. Inilah kenapa kemudian banyak orang yang berkesimpulan bahwa menulis adalah kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang tertentu saja. Padahal tidaklah demikian, kawan.

Bagi saya, menulis adalah sebuah permainan dan semata hobi. Selama kita menganggap kegiatan menulis hanya bisa dilakukan orang orang yang memang sudah berbakat, sedangkan “Saya sendiri tidak berbakat”, maka selama itu juga kita tidak akan pernah memulai tulisan kita sebait pun.

Jadi untuk selanjutnya, harus kita pahami betul bahwa kegiatan menulis bukanlah bakat. Bukanlah kemampuan yang dibawa sejak lahir. Kegiatan menulis semua orang bisa melakukannya, kapan dan di mana saja. Namun yang banyak disalahpahami orang, mungkin termasuk kita, menulis seolah olah hanya milik mereka yang berbakat. Ini jelas salah besar. Menulis itu adalah seni dan bisa dipelajari.

Jika Anda ingin menjadi penulis, pandangan bahwa menulis adalah bakat atau hanya bisa dilakukan orang orang tertentu, harus segera ditanggalkan. Ambillah laptop, polpen, buku Anda, dan mulailah menulis. Kita jangan menjadi orang yang hanya menikmati khalayan indah tentang menjadi penulis, tapi tidak pernah menulis. Segera bertindak!.

Kita bisa menjadi penulis jika kita terus berlatih dan mengasah diri. Latihan yang kita dilakukan terus menerus, ditambah dengan intensitas dan kuantitas baca yang baik, akan menunjang kemampuan kita untuk bisa lebih baik lagi dalam melakukan aktifitas menulis ini. Lambat laun kita akan terbiasa untuk menuangkan gagasan kita dalam bentuk tulisan yang renyah dan rapi. Cobalah terapkan trik menulis tanpa beban ala saya berikut.

Apa yang akan saya sharing berikut hanyalah pengalaman pribadi yang saya rasakan selama menempukan diri ini dalam dunia tulis menulis. Pengalaman saya menulis untuk blog, menulis untuk majalah, menulis artikel pesanan teman, dan lain lain. Jadi pembahasan ini lebih atas pendapat atau subjektifitas saya semata. Menulis memang adalah proses yang tidak pernah selesai.

Sekedar pengetahuan saja, saya adalah tipe orang yang sering terburu buru, termasuk dalam menulis. Sehingga di banyak tulisan, saya sering kali tidak memberikan ulasan yang mendalam dan sering tidak fokus pada masalah yang sedang dibahas. Sehingga pelajaran pertama untuk kita hari ini sebelum masuk ke poin bahasan kita: Janganlah terburu buru untuk mendapatkan sebuah hasil yang baik dan memuaskan.

Untuk itu, pada kesempatan ini, saya akan sedikit membahas tentang tips menulis. Atau sederhananya, di sini saya akan membeberkan tekhnik menulis tanpa beban, tanpa dosa, dan tentu saja penuh nikmat yang tiada tara. Nah, apakah Anda sudah siap? Oke, ayo kita langsung saja masuk ke pembahasan.

Okeh, lanjut. Ada 3 hal yang selalu saya pegang dalam menulis, agar tulisan yang saya rencanakan itu bisa jadi dan bisa saya kerjakan dengan baik. Pertama, bagi saya, menulis adalah hobi atau kesukaan. Kedua, menulislah sebagaimana engkau bermain. Ketiga, siapkan data. Selanjutnya kita akan bahas satu persatu di bawah ini.

Pertama, menulis adalah hobi. Apa itu hobi? Hobi adalah kesukaan, kegemaran, atau kesenangan. Sesuatu yang apabila kita kerjakan kita merasa suka, senang, dan bahagia. Begitupun dalam menulis, jadikan dia sebagai hobi.

Jadikan kegiatan menulis sebagai hobi, artinya nikmati dan rasakan sensasi yang luar biasa ketika Anda menuang gagasan gagasan Anda. Apa saja pekerjaan atau atifitas yang apabila kita lakoni karena kita sudah hobi dengannya, sudah enjoy, maka pasti akan ada kepuasan yang kita dapatkan di sana.

Kedua, menulislah sebagaimana Anda bermain. Anggaplah kegiatan menulis sebagai permainan. Di situ kita hanya bermain main kata, tuangkan saja apa yang ada di kepala Anda. Hilangkan beban yang terpacak di dalam diri untuk menghasilkan tulisan seperti tulisan professor filsafat yang banyak memakai istilah berat dan susah dimengerti.

Hindari menulis ungkapan ungkapan yang berat hanya karena ingin disebut intelek. Jika Anda paksakan juga, sementara kemampuan tidak mumpuni, Anda akan kesulitan dan akhirnya terhenti. Justru inilah yang kerap membuat penulis pemula itu mengalami stag (mandeg), karena kebelet selalu ingin menuangkan gagasan yang sok ilmiah yang pada akhirnya kata katanya pun menjadi tidak sistematis.

Sehingga menurut saya yang bagus untuk penulis pemuda adalah menulis dengan cara popular. Yaitu menulis dengan tata bahasa yang sederhana saja yang sudah umum dipahami masyarakat. Bukan tulisan ilmiah, tapi kita bertutur saja apa adanya. Ini untuk langka awal, jadi subjektif saja tidak mengapa. Tulislah apa yang Anda lihat, dengar, dan yang Anda rasakan.

Kemudian jelaskan secara sederhana pesan inti yang ingin Anda sampaikan ke dalam kalimat yang tidak bertele-tele. Bermain-mainlah, nikmati, dan tentu saja tetap serius.

Ketiga, dan ini tidak kalah penting dengan 2 poin sebelumnya, siapkan data data untuk menunjang kualitas tulisan Anda. Data itu penting untuk menggambarkan sebuah keadaan. Perhatikan betul data yang akan Anda input, apalagi jika data data itu berupa angka, misalnya tahun kejadian sebuah peristiwa, angka sebuah hasil survey, dan lain lain.

Data menjadi penguat dan cita rasa sebuah tulisan. Sebuah tulisan ilmiah, misalnya, akan semakin berbobot jika disertai data data penunjang yang mengetengahkan analisa yang tajam dan menukik. Jika Anda menulis dengan tema tema fiksi, data juga menempati posisi yang tak bisa dinafikkan sebagai bumbu penyedap.

Ini contoh saja. Orang yang menulis novel tentang kisruh Palestina, untuk membuat lebih apik novelnya, maka sang penulis harus bisa menghadirkan kepada pembaca tentang suasana getir di negeri ini. Penulis harus bisa menghadirkan sebuah kalimat yang bisa membuat kisahnya menjadi lebih hidup.

Datalah yang dibutuhkan dalam mengurai novel semacam ini. Jelaskan letak geografis Palestina, tandusnya Palestina, tentang serangan bom di malam hari, tentang anak anak Palestina, tentang Intifadhah. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh Helvy Tiana Rosa dalam salah satu buku novelnya tentang Palestina. Isinya benar benar hidup seperti nyata, dan seolah olah Helvy benar benar hadir di sana. Nah, itulah pentingnya data.

Namun yang terpenting dari itu semua adalah, seorang penulis atau calon penulis harus banyak banyak membaca. Seperti kata Mulayadhi Kertanegara, seorang penulis produktif, bahwa kegiatan menulis tidak akan pernah berlangsung dan terbangun selama tradisi baca tidak ditegakkan. Jadi untuk menjadi penulis kita harus banyak banyak membaca, mengetahui informasi, dan bisa memetakan hal hal yang penting dan tidak penting.

Dan kita jangan lupa, kegiatan menulis adalah tradisi para ulama dan orang orang besar sebelum kita. Rata rata orang besar yang kita kenal adalah orang-orang yang memiliki tradisi menulis yang luar biasa. Mereka bahkan dapat menyelesaikan tulisan hingga berjilid-jilid jumlahnya. Ini di zaman dulu, di mana segala fasilitas masih sangat terbatas bagi mereka.



Mereka bisa menulis sampai beribu ribu jilid buku dengan gagasan yang tetap aktual sampai hari ini. Bahkan ketika keadaan mereka sedang dalam kondisi dipenjara, mereka tetap menulis. Sebutlah misalnya ada Ibnu Qoyyim Al jauziyyah, Ibnu Taimiyyah, Buya Hamka, atau ada juga tokoh filsuf semacam Derrida, Betrand Russel, dan masih banyak lagi.

Nah, kawan, tunggu apa lagi. Segeralah menulis dan hidupkan kembali tradisi yang pelan pelan mulai redup di kalangan anak muda ini.

*Penulis adalah blogger asal Bontang, Kalimantan Timur

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.