News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Kaltim Silicon Valley Selanjutnya, Kenapa Tidak?

Kaltim Silicon Valley Selanjutnya, Kenapa Tidak?


Oleh Yacong B. Halike


KALTIMTODAY -- BEBERAPA waktu lalu dalam sebuah diskusi lepas seputar internet dengan beberapa kolega, ada satu kesimpulan diskusi itu yang menurut saya cukup menarik.

Bahwa untuk menjadi startup digital kita tidak harus menciptakan teknologi, atau harus ahli teknologi, tapi kuncinya adalah cukup punya kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. Inilah kesimpulan yang saya garisbawahi.

Mungkin masih ada yang bertanya, apa sih startup digital itu? Menurut saya, startup digital sama dengan technopreneurship. Atau sederhananya perusahaan rintisan berbasis Internet dan yang menjalaninya disebut technopreneur.

Yang menarik, dalam diskusi bersama kawan-kawan yang sebagian besar adalah aktivis blogger itu sempat muncul pandangan bahwa ada kecenderungan klasifikasi perusahaan berbasis internet ini dibatasi hanya pada usaha di bidang web aplikasi saja. Ada semacam status quo menurut mereka bahwa yang bisa disebut perusahaan berbasis internet hanya seperti raksasa Google dan Yahoo si mesin pencari, Facebook si penghubung orang-orang secara realtime, atau si Paypal yang bisa dipakai jual beli online.

Apakah benar demikian? Teman-teman diskusi menyimpulkan, tidak. Sebab jika yang demikian yang berlaku, bagaimana dengan Amazon, eBay, Blogger, YouTube, atau kalau di Indonesia ada GantiBaju, Sribu, BukuKita, dan lain-lain, apakah mereka ini bukan perusahaan berbasis internet?.

Jadi kesimpulan selanjutnya, semua usaha (atau perusahaan) yang berbasis internet yang dapat menghasilkan keuntungan bagi pengelolanya, baik dia berupa toko online, situs berita, situs aplikasi, jual beli, situs forum, dan sebagainya, maka dia masuk dalam kelompok pengusaha (orangnya) dan perusahaan (bidang usahanya) sebagai perusahaan berbasis teknologi internet. Ini kesimpulan diskusi kami malam itu, Anda boleh saja tidak setuju.

Dari kesimpulan obrol-obrol ringan itu, kita kemudian dapat mengatakan bahwa perusahaan berbasis internet baik yang startup (rintisan) maupun yang sudah tingkatan bonafid, sama sama menggunakan teknologi. Perbedaannya, ada yang menggunakan teknologi seraya menciptakan inovasi teknologi dan ada yang memang sekedar memanfaatkan teknologi.

Dalam melihat dua masalah di atas, saya lebih segendang-sepenarian dengan Amir Sambodo dalam ulasan dia di Republika belum lama ini yang mengatakan bahwa kekuatan terbesar dari para technopreneur adalah pada PEMANFAATAN TEKNOLOGI.

Jadi untuk menghadirkan usaha berbasis berbasis internet kita tidak selalu melulu harus MENCIPTAKAN TEKNOLOGI. Dan, tentu saja, tidak harus pula dimulai dengan menunggu adanya modal jutaan rupiah.

Mengintip Peluang Startup Digital Lokal Kaltim
Sepertinya kita memang harus jujur. Dibanding dengan startup lokal wilayah lain seperti di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta, Kaltim masih menempati posisi nihil bahkan sangat nihil dalam ledakan startup digital di Indonesia. Bukan hanya Kaltim sebetulnya, wilayah-wilayah lainnya jika kita cermati juga masih belum mempertontonkan gairah yang bagus dalam bidang ini.

Hal itu bisa jadi dilatari berbagai macam persoalan. Dugaan yang timbul mungkin diantaranya masih lemahnya penguasaan dan juga minat teknologi para netizen. Atau barangkali masih adanya semacam frame yang mencecah bahwa untuk mendirikan perusahaan rintisan berbasis internet harus punya kemampuan dan otoritasi IT lebih dulu. Padahal tidaklah demikian. Jika seseorang sudah bisa memanfaatkan teknologi, kata Amri Sambodo, dalam hal ini teknologi internet, maka dia sudah punya modal cukup untuk merintis usaha berbasis internet.

Seperti yang kita lihat, startup digital di Indonesia sendiri masih didominasi pada bidang webstore (toko online) dengan spesifikasi produk masing-masing. Sebutlah diantaranya yang sudah cukup besar di bidang fashion ada Blibli, Bejubel, TanaAbang, dan Kemana, di bidang elektronik ada Okecom dan Bhinneka, di bidang iklan jual beli ada Kaskus, Berniaga dan Tokobagus. Sementara di bidang web aplikasi ada MaceTer.us, DealKeren, Kaspay, dan lain-lain. Semua perusahaan yang disebutkan tersebut berkantor dan beroperasi di kota-kota besar saja.

Lalu, bagaimana Kaltim menyikapi keberlangsungan industri teknologi internet yang rasa-rasanya ke depan akan semakin gegap gempita ini. Sebagaimana kita tahu, Kaltim adalah wilayah yang punya kekayaan dan keanekaragaman kreatifitas tak kalah hebatnya yang berpotensi meraih sukses di internet jika memang dikelola dengan “lapak” yang profesional.

Tapi sejauh ini masih sedikit atau bahkan belum ada startup digital Kaltim yang memulai secara serius menangkap market ini. Melihat pengembangbiakan ikan nila di Kaltim, misalnya, yang disebut-sebut terus melonjak naik beberapa waktu ini ternyata belum tergarap secara maksimal dari sisi pemasaran dan pengelolaannya.

Belum lagi di bidang kelautan lainnya. Budidaya udang galah dan udang windu misalnya. Akan sangat luar biasa jika bahan kuliner lezat ini dikembangkan secara inovatif dengan dikemas menjadi satu produk kreatif Kaltim yang bisa dikirim ke seluruh dunia dan dinikmati dengan cita rasa yang tinggi. Luar biasa, bukan?!.

Kita bisa melakukan promosi dan penjualan melalui internet. Manfaatkan internet, manfaatkan teknologi. Tapi dalam dugaan saya, sebetulnya sudah ada yang mencoba menangkap peluang ini, namun mungkin saja masih menunggu perkembangan yang ada, wait and see!. Di bidang-bidang lainnya pun demikian.

Dan, mungkin kita mengira Kaltim tidak punya sesuatu yang bisa dijual, bahkan bisa dipasarkan mendunia melalui internet. Padahal tidaklah demikian. Jangan-jangan kita hanya belum kreatif dan serius saja untuk menggali potensi-potensi yang ada.

Andi S. Boediman, mantan Chief Innovation Officer (CIO) Plasa.com dalam #Startuplokal Meet Up v.23 yang bertema E-commerce, Kamis (08/03/2012) lalu, menyampaikan ide yang bagus. Dia mengatakan, mengapa eBay (situs belanja berpusat di Amerika) bisa memiliki transaksi 5 juta dollar dari Indonesia saja? Karena eBay punya barang yang orang Indonesia tidak bisa jual.

Sehingga, dalam pandangan saya, startup digital Kaltim pun juga harus bisa seperti itu, yaitu menjual produk yang orang di Jakarta, orang di Banglades, orang di Bandung, orang di Kanada, atau orang yang di Surabaya tidak punya produknya. Di Kaltim misalnya melimpah ikan kering biji nangka yang terkenal enak rasanya yang orang Jakarta tidak punya atau susah mendapatinya, maka inilah market yang bagus untuk dikembangkan bahkan hingga ke mancanegara. Pada intinya pengusaha berbasis internet hadir untuk memecahkan masalah.

Maka saya merasa sangat senang sekali ketika beberapa waktu lalu membaca berita bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sedang serius terhadap perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk mewujudkan Kaltim 2013 Melek Informasi di wilayah ini.

Ini tentu berita bahagia nan menggembirakan. Teknologi informasi dan komunikasi memang selalu dinamis. Selain sebagai sarana untuk membangun usaha berbasis internet, sudah pasti segenap masyarakat Kaltim juga membutuhkan saluran-saluran transmisi yang bukan hanya dari beberapa sumber saja agar tak mudah terjebak pada propaganda-propaganda politis yang terang saja tak perlu mencuat. Yang paling penting tentu dobrakan pemerintah ini akan menopang kesinambungan pemanfaatan teknologi agar kelak lahir juga startup digital andal dari Benua Etam ini.

Sebagai penutup, saya akan melanjutkan pesan-pesan bagus dari acara Panel Discussion “Making Indonesia as the Next IT Hub" di perayaan ulang tahun Startup Lokal kedua di Gedung Multimedia Telkom Jakarta, Sabtu (7/4/2012) lalu.

CEO Kauffman Fellows USA, Phil Wickham, yang berbicara dalam panel itu sebagaimana dikutip laman Kompas, menganggap bahwa anak muda di Indonesia kini sudah berani menciptakan startup-startup yang memungkinkan untuk go-international.

Lebih lanjut Wickham berpesan startup lokal yang muncul di Indonesia itu perlu ekosistem, memperkuat pemikiran (mindset) tentang wirausaha, kemampuan untuk mengakses pendanaan hingga dukungan dari berbagai pihak. Yang paling penting, kata dia, adalah dukungan ekosistem dan keunikan masing-masing startup. Semakin unik dan berbeda, itu yang mampu bersaing.

Saya kira, dan ini adalah bayangan saya di masa depan, Kaltim akan menjadi Silicon Valley** selanjutnya atau katakanlah sejenis “Silicon Valley” sebagaimana juga telah mulai dan akan terus berkembang di sejumlah kota besar di Indonesia. Jelas dukungan pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi-potensi startup digital Kaltim yang akan memulai action-nya.

Awalnya untuk tulisan ini saya ingin menggunakan judul, “Kaltim Silicon Valley Selanjutnya, Mungkinkah?”. Tapi kemudian saya berfikir ulang lalu untuk kata terakhir, “Mungkinkah”, saya ubah menjadi “Kenapa Tidak”. Dua kata tersebut dalam pandangan saya berbeda substansi dan ekspektasinya.

Menurut saya, frase “Mungkinkah” (jika kemudian judul ini yang dipilih) maka ia menyiratkan pesimisme, keterombang-ambingan, penuh keragu-raguan, ketidakyakinan, tidak siap, dan sarat ke-utopia-an. Sedangkan frase “Kenapa Tidak” dengan tanda tanya yang kemudian saya putuskan menjadi judul mengalirkan spirit optimisme, keunggulan, jiwa besar, keyakinan yang mantap menuju capaian yang membanggakan, dan kemenangan sejati, penuh selera.

Saya yakin, lima atau sepuluh tahun yang akan datang startup digital Kaltim lahir dengan karya-karya kreatif mereka. Saya memang bukan ahli IT, bukan pula pakar di bidang teknologi, namun saya punya harapan dan mimpi besar orang-orang yang ahli di bidang ini, khususnya mereka anak-anak Kaltim, akan menggebrak Benua Etam dengan layanan-layanan dan karya kreatif mereka untuk dimanfaatkan segenap manusia penjuru dunia. Selamat datang di dunia usaha digital, selamat memecahkan masalah!




*Penulis adalah blogger asal Bontang, Kaltim
**Silicon Valley: sebuah kawasan di daerah California AS, tempat beragam industri teknologi informasi berkumpul untuk menjalankan aktivitas bisnisnya yang bermula dari startup seperti Google, Facebook, Yahoo, HP, Intel, Oracle dan lain-lain.

Gambar: komplek Silicon Valley, California. Guardian.co.uk

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.