News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Memilih Tetap Normal Sampai Ajal

Memilih Tetap Normal Sampai Ajal

KALTIM TODAY -- SIAPA, sih, yang tidak senang bicara masa depan. Semua pasti pernah membahas dan merumuskan tentang masa depan. Apalagi perusahaan, lembaga pendidikan, termasuk negara.

Namun seringkali manusia sering keliru dalam memahami masa depan. Dipikirnya masa depan itu adalah masa tua, masa tak berdaya, masa pensiun, masa menonton, dan masa menikmati umur menunggu ajal tiba. Jika keadaannya seperti ini namanya tidak normal.

Sekali-kali tidak. Bukan itu masa depan yang sesungguhnya. Masa depan adalah masa di mana manusia telah tinggal nama, tetapi akal, gagasan, dan pemikirannya terus hidup dan mewarnai perjalanan sejarah umat manusia di masa yang sangat jauh ke depan. Ia senantiasa normal dan hidup!.

Kesadaran seperti inilah yang perlu dibangun oleh generasi muda hari ini. Jangan pernah mau kalah dengan Herbert N. Casson.

Melalui bukunya yang berjudul "How to Have Eighty Years of Youth" penulis dari Inggris itu menuturkan tekad besarnya untuk menjadi seorang penulis inspiratif sepanjang zaman.

Atas dasar itu ia sejak remaja telah membiasakan diri untuk memiliki watak jujur, rajin dan dapat dipercaya. Bahkan ia selalu berusaha menjaga kesehatan badan dan pikirannya. Tidak lupa pula ia berusaha untuk menjadi orang yang memiliki karakter sopan-santun dengan prinsip ingin memberikan yang terbaik kepada sebanyak-banyak manusia.

Oleh karena itu, setiap hari Herbert N. Casson selalu mengisi hari-harinya dengan membaca, menulis dan berhitung. Ia juga tak lupa belajar ilmu bumi, kimia dan berlatih strategi.

Casson sangat yakin bahwa apa yang ia tulis kelak akan dibutuhkan banyak orang. Ia berkata, “Salah satu penyesalan-penyesalanku adalah aku tak mungkin hidup cukup lama untuk mengetahui pengaruh dari buku-bukuku. Aku tahu bahwa lebih banyak di antaranya akan terjual setelah aku mati dari pada selama kau hidup, dan aku yakin bahwa buku-buku itu memajukan banyak orang. Sedemikian banyak orang yang kebesarannya disebabkan karena membaca satu buku”.

Casson memberikan beberapa contoh seperti Pitt, Waat, Faraday, Bell, John Mercer, Carnegie, Cecil Rhodes, Leverhulme, Kelvin, dan Henry Ford serta Wright bersauda.

Entah kapan, setiap penulis harus mati, tetapi buku-buku mereka tetap eksis dan ‘berdendang’ dengan perjalanan zaman. “Lihatlah perpustakaan, di sana ada buku yang telah berusia 2000 tahun. Ini adalah suatu cita yang menggairahkan dan menggirangkan bagi setiap penulis yang berani menulis buku yang benar dan berfaedah,” jelasnya.

Itulah cita-cita seorang Herbert N. Casson dalam memotivasi dirinya menuju masa depan yang ia sendiri telah mati. Sebuah cita-cita yang tidak dangkal dan tidak sempit. Dan, itu pula yang telah dilakukan oleh para pemikir-pemikir Muslim sejak 14 abad yang lalu.

Fakhruddin Al-Razi misalnya, ia tidak pernah lelah dan lengah dalam belajar. Seumur hidup hanya dua hari yang ia lewatkan dengan tanpa belajar. Yakni pada hari di mana ayahnya meninggal dunia dan pada hari di mana ia mengakhiri masa lajangnya (pernikahan).

Demikian pula halnya dengan Imam Ghazali. Ia merelakan segala atribut berupa pangkat, jabatan, ketokohan, kekayaan, dan segala-galanya, demi mencari makna hidup yang sejati.

Ia pergi meninggalkan hiruk pikuk dunia untuk menemukan hakikat hidup dan memberikan hasil temuannya dalam konsep yang utuh untuk mengantar umat manusia pada sistem kehidupan yang Ilahiyah, sehingga tercipta perdamaian, ketentraman, dan keadilan.

Terbukti, setelah bertahun-tahun ‘berkelana’ Imam Ghazali melahirkan sebuah buku yang diberi judul ‘Ihya Ulumuddin’. Sebuah buku monumental yang melahirkan sebuah kesadaran baru dalam bidang pendidikan yang setengah abad kemudian menjadi pembentuk karakter ksatria sejati pada seorang Panglima Besar Umat Islam, Shalahuddin Al-Ayyubi.

Mari bangun hari ini untuk masa depan. Masa depan yang tidak saja memberikan keuntungan pribadi, tetapi juga kelangsungan kehidupan manusia menuju kegemilangan hidup yang sesungguhnya.

Seperti Nabi Muhammad yang selalu dikenang karena energi positif yang senantiasa dipancarkan sepanjang hidupnya. Seorang Nabi yang akan terus menjadi inspirasi segenap manusia di seluruh bumi, di segala tahap generasi dan di segala zaman.

Milikilah masa depan sebagaimana beliau-beliau di atas telah teladankan. Selamat berjuang, selamat menyongsong masa depan. Mari memilih tetap normal hingga ajal datang menjemput![KTC]

Redaksi kaltimtoday.com.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.