News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Anak Muda yang Buta Sepakbola

Anak Muda yang Buta Sepakbola















BERI aku tiga orang anak muda maka akan aku rubah dunia. Begitu kesan orang ketika mengingat mantan Presiden RI pertama, Ir. Sukarno. 


Statemen murid HOS Cokro Aminoto itu juga sangat populer di kalangan aktivis muda Indonesia sebagai jargon untuk terus berbuat bagi bangsa dan negara.

Berbicara anak muda memang penuh dinamika. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sendiri, proklamasi tidak akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 sekiranya kelompok muda tidak cerdas dan tangkas menyusun strategi untuk memanfaatkan situasi.

Ide dan gagasan anak-anak muda kala itu ditentang keras oleh kelompok tua. Akhirnya terjadilah beda pendapat yang berujung pada “pengamanan” Ir. Sukarno ke Rengas Dengklok oleh kelompok muda. Belakangan barulah kelompok tua mengerti bahwa ide dan gagasan anak-anak muda saat itu benar-benar brilian.

Tanpa peran anak muda yang cerdas, tangkas, agresif dan progressif mungkin Indonesia tidak akan mencatatkan sejarah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Boleh jadi masih akan menjadi bulan-bulanan Jepang yang sedang bangkrut karena menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Atau bahkan bisa dijajah kembali oleh Belanda, yang sangat berambisi menguasai Indonesia selama-lamanya.

Semangat untuk merdeka mengantarkan anak-anak muda saat itu berani mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk menjadi bangsa yang berdaulat. Harta bahkan jiwa mereka pertaruhkan demi cita-cita kemerdekaan. Hingga saat Belanda datang ke tanah air dengan niat menjajah kembali Indonesia, barisan muda inilah yang menghadapi negeri kincir angin yang terkutuk itu.

Sepuluh November satu di antara sekian banyak bukti semangat muda melawan penjajah Belanda. Bung Tomo bersama arek-arek Suroboyo bersatu padu menghadang gempuran Belanda, negeri yang sangat bengis dan biadab selama menjajah negeri ini. 

Demikianlah kekuatan anak muda dalam pentas sejarah kemerdekaan Indonesia, sangat patut diteladani. Wajar jika kemudian lahir lagu nasional berjudul ‘Bangun Pemuda Indonesia’. Berikut kutipannya;

Bangun pemuda pemudi Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara terus kerja keras
Hati teguh dan lurus
Pikir tetap jernih 
Bertingkah laku haus hai putra negeri

Sebuah lagu yang sangat inspiratif dan memompa adrenalin anak muda saat itu. Sayangnya lagu-lagu semacam ini sudah tidak lagi diajarkan di bangku SD. Saya sendiri mampu menyanyikan lagu tersebut, setelah kakak kandungku yang SMP mengajariku setiap usai mandi sore untuk memotivasiku agar segera berangkat mengaji ke pesantren.  

Estafet Perjuangan
KH. Zainudin MZ dalam satu kesempatan ceramahnya pernah mengatakan, “Jika ingin tahu masa depan sebuah bangsa maka lihatlah pemudanya. Jika baik, maka baiklah masa depan bangsa. Sebaliknya, jika buruk maka runtuhlah sebuah bangsa”.

Ungkapan tersebut bukan sekedar untaian kalimat indah, tetapi lebih pada sebuah aksioma. Sesuatu yang bersifat mutlak dan tidak bisa dihindari. Sayangnya banyak orang tua di Indonesia masih kurang kemauan untuk memberdayakan anak-anak muda, terutama mereka yang menjadi pejabat. Lihat saja bursa calon presiden 2014 rata-rata diisi oleh wajah-wajah tua.

Ungkapan mendiang KH Zainudin MZ itu justru diambil oleh para pelatih sepak bola. Mereka umumnya menyadari bahwa sejarah hanya akan bisa berubah jika ada kekuatan anak-anak muda yang cerdas dan handal yang diberi ruang dan kesempatan. 

Pelatih Spanyol Vicente del Bosque misalnya menempatkan anak-anak muda dalam ajang Piala Eropa. Hasilnya spektakuler. Satu di antara pemain mudanya, Jordi Alba, berhasil membobol gawang Gianluigi Buffon dalam ajang final yang memompa spirit pasukannya.

Seketika Jordi Alba pun menjadi headline media dunia. Bahkan karena usianya yang masih muda ia dimungkinkan masuk dalam skuat Spanyol yang akan berlaga di Olimpiade London 2012. Tidak saja itu, ia juga telah dinobatkan menjadi pemain baru Barcelona dengan menduduki posisi Erik Abidal yang diprediksi tidak prima lagi.

Pelatih Valencia, Unai Emery mengatakan bahwa Jordi Alba adalah pemain muda berbakat yang sangat mungkin menjadi bintang sepak bola masa depan. Kemampuannya sangat memungkinkan Alba menjadi pemain yang terus berkembang, apalagi ketika ia akan bergabung dengan klub raksasa Catalan, Barcelona.

Wajar jika kemudian klub-klub raksasa sepak bola Eropa selalu berburu pemain muda setiap bursa transfer dibuka. Itulah mengapa pemain sepak bola banyak gantung sepatu pada usia 30–35 tahun. Mereka mengerti betul bahwa usia itu sangat berat untuk bisa berkompetisi dalam lapangan hijau yang sangat padat dan menguras energi.

Sayang sungguh sayang negeri ini tidak berpikir seperti itu, malah terbalik. Mereka yang sudah tua terus ingin jadi pejabat atau pemimpin.  Jika situasi seperti ini dipertahankan maka bangsa dan negaralah yang dikorbankan. Hukum alam tidak bisa dilawan, bahwa setiap zaman membawa masing-masing manusia unggulan, notabene dari anak muda. 

Pemuda Indonesia
Pemuda di zaman kemerdekaan memang inspiratif, tetapi tidak dengan yang sekarang. Itu kalau melihat daftar koruptor belakangan yang banyak diisi oleh wajah-wajah muda. Selain itu mayoritas anak muda di negeri ini memang dalam kondisi memprihatinkan.

Bayangkan, energi yang begitu besar dan kuat hanya digunakan untuk nongkrong di malam hari. Ada yang hanya menggunakannya untuk jalan-jalan, mabuk-mabukan, atau bahkan suka bergonta-ganti pasangan. 

Bahkan ironisnya, sebagian dari mereka yang menjadi aktivis banyak yang suka menjadi "pengamen parlemen". Sebuah istilah untuk anak muda yang suka membuat program yang sebenarnya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi. 

Maka dari itu standar prestasi dan kehebatan pemuda hari ini berbeda jauh dengan prestasi pemuda masa kemerdekaan. Sekarang siapa yang dekat dengan pejabat, jadi staf ahli di DPR dianggap hebat. Sementara yang tidak seperti itu, meskipun terus-menerus memproses diri menjadi pemuda tangguh dianggap biasa-biasa saja.

Ada masalah tidak ringan dengan pemuda Indonesia. Lalu bagaimana, apakah dengan seperti itu anak muda tidak lagi berdaya?.

Tidak! Sekali lagi tidak! Anak muda tetaplah orang yang punya visi, punya misi, dan punya energi. Jika ada anak muda yang terseret kasus korupsi dengan statusnya sebagai politisi muda, maka itu sama sekali tidak mewakili wajah keseluruhan anak muda. Masih banyak anak muda hebat di negeri ini. Sayangnya pejabat tidak mau turun gunung.

Anggota DPR tidak menjamin masa depan mereka. Belum ada Undang-Undang yang secara eksplisit melindungi moral dan iman para pemuda. 

Televisi dibiarkan dengan bebas menampilkan acara anak muda yang miskin edukasi, miskin moral, dan miskin perjuangan. Setiap saat mereka dicekoki dengan lagu cinta, lagu keluhan, dan lagu yang tidak sepantasnya dinyanyikan. Termasuk film dan sinetronnya. Keduanya hanya berbicara cinta, perselingkuhan, perkelahian, dan seterusnya. 

Maka tidak heran jika pemuda hari ini akrab dengan pacaran. Siapa yang jomblo (tidak punya pacar) dianggap kuno dan nggak gaul. Sebuah sudut pandang yang sama sekali tidak berdasar ilmu dan logika. 

Bangkitlah!
Tidak ada yang menjamin pemuda akan menjadi pemimpin masa depan selain dengan usaha keras dan doa yang khusuk kepada Tuhan. Itulah yang dicontohkan oleh Ir. Sukarno, KH Agus Salim, Ahmad Natsir dan yang lainnya. 

Belajar dan pahamilah bahwa pemuda unggul yang direkam sejarah adalah pemuda yang siap menderita demi cita-cita. Bukan pribadi tetapi negeri, tidak sempit tapi luas. Bukan sekedar diri dan zamannya tetapi sepanjang waktu bergerak mengiringi perjalanan hidup manusia. 

Begitulah yang membudaya di lapangan hijau. Mereka yang terukir namanya sebagai pemain muda hebat adalah pemain yang sanggup berlatih setiap saat dengan penuh kesungguhan dan kedisiplinan. Tanpa itu, seorang Messi, Ozil, dan Mario Balotelli tidak akan pernah mampu menjadi pemain yang berprestasi. 

Jangan sampai pemuda Indonesia menonton sepakbola tapi buta sepakbola. Buta karena sama sekali tak mampu mengambil pelajaran dari sepakbola lalu kemudian segera bangkit dari keterpurukan sebelum diri benar-benar menjadi tua.

Berjuanglah, bekerjalah, berusahalah wahai pemuda negeri. Agar hidup dan matimu memiliki nilai guna bagi bangsa, negara, bahkan dunia. Belajarlah dari perjuangan pemuda Indonesia yang mempelopori Proklamasi RI pada 17 Agustus 1945 yang akan selalu dikenang sepanjang sejarah bangsa tercinta. 

Bangkitlah pemuda Indonesia, keunggulanmu ada pada hati dan jerih payahmu. Jika tidak ada figur yang bisa membantumu, maka bersiaplah untuk menjadi figur bagi diri sendiri yang akan difigurkan banyak orang. Selamat berjuang pemuda Indonesia!.

*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.