News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

[Hari] Koperasi yang Terlupakan

[Hari] Koperasi yang Terlupakan


KALTIMTODAY -- TIDAK banyak orang tahu apalagi peduli bahwa kemarin (Kamis, 12/7/2012) adalah Hari Koperasi yang ke-65. Mungkin wajar orang tidak tahu, pasalnya stasiun televisi nampaknya juga tidak ada yang mengabarkannya. Semua tenggelam dengan hiruk-pikuk Pilkada DKI yang mengantar Jokowi-Foke lolos ke putaran kedua.

Koperasi merupakan konsep ekonomi yang ditelurkan oleh Wakil Presiden RI pertama, Drs. Mohammad Hatta. Selain dikenal sebagai bapak proklamator, Mohammad Hatta juga dikenal sebagai bapak koperasi atau bapak ekonomi Indonesia.

Tetapi kini koperasi tidak banyak diminati. Kultur bangsa Indonesia yang dulu memiliki semangat gotong royong kini sudah pudar. Saling tidak percaya bahkan kian membudaya di antara para penduduk negeri. Alih-alih bersama membangun ekonomi lewat koperasi yang terjadi malah bentrokan sana-sini.

Akibatnya jelas, kemakmuran rakyat kecil kian tergerus dan budaya konsumtif semakin menggila. Kepercayaan yang menjadi basis utama pendirian koperasi kini luluh lantak. Bahkan koperasi malah menjadi selimut para penipu untuk meraup uang haram. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, penipuan berkedok koperasi, ya Koperasi Langit Biru. Ratusan milyar uang rakyat kecil ditilep begitu saja.

Padahal secara konseptual koperasi adalah badan usaha rakyat yang memungkinkan manusia menjadi orang-orang yang mandiri, cerdas, dan kreatif. Hal ini sebenarnya telah lama disadari oleh konstitusi negeri ini.

Sayangnya, para pelaku kebijakan di negeri ini tidak ada yang benar-benar mau mewujudkan cita-cita besar bapak Mohammad Hatta untuk memajukan bangsa dan negara melalui koperasi.

Gagasan Mohammad Hatta dengan koperasi ini sebenarnya tidak saja merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem dan ideologi ekonomi asing. Tetapi juga merupakan langkah rasional efektif sebagai negara yang baru merdeka untuk mempertahankan perasaan se-nasib, se-Bangsa, dan se-Tanah Air. Dengan cara seperti itu, maka persatuan dan kesatuan nasional dapat diwujudkan.

Sistem koperasi sangat memungkinkan itu karena memiliki prinsip Triple Co; co-ownership (ikut memiliki), co-determination (ikut menentukan), co-responsibility (ikut bertanggung jawab).

Atas prinsip Triple Co itu, Sri Edi Swasono, Guru Besar Ekonomi UI, dalam opininya di Harian Kompas kemarin menyatakan, “Mestinya Indosat sebagai badan usaha non-koperasi tak dijual ke Singapura (kemudian ke Qatar), tetapi kepada para pelanggan pemegang ponsel, dibayar dengan menaikkan tarif pulsa sebagai cicilan pembelian saham Indosat. Dengan demikian, pelanggan sekaligus adalah pemiliknya, ini ciri khas koperasi”.

Lebih lanjut, Swasono yang juga Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa menambahkan, “BUMN-BUMN seharusnya tak dijual ke asing, tetapi ditawarkan ke karyawan, pelanggan, dan kalangan luas (clienteles) dalam jaringan produksi, konsumsi, dan distribusi terkait, lalu dibangun sistem equity loan. Jadi privatisasi tak berarti asingisasi".

Sayang disayang, kini koperasi tidak dilirik lagi. Ia ada namun tidak begitu bermakna. Padahal, koperasi itu adalah jati diri bangsa. Jika gagasan Wakil Presiden RI pertama saja diabaikan padahal sudah dikuatkan dalam konstitusi negara, mungkinkah aspirasi rakyat diperhatikan? Semoga segera ada yang menyadari.


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.