News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ketahuilah, Untuk Apa Sih Kita Puasa?

Ketahuilah, Untuk Apa Sih Kita Puasa?


Untuk apa kita berpuasa ramadhan, ini jawbannya
KALTIMTODAY -- Puasa secara normatif berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah sudah banyak dipahami oleh umat Islam. Tetapi apakah dengan itu secara otomatis mereka mampu memahami puasa secara filosofis?.

Dalam pengertian umum, puasa itu menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagai insan berakal kita wajib mengetahui, mengapa dilarang di siang hari dan dibolehkan di malam hari?

Sebagai orang berakal, kita harus menemukan jawabannya. Terus mengapa orang yang berpuasa itu bisa menjadi orang yang bertakwa. Padahal nyatanya, banyak orang tetap tidak berubah watak dan karakternya sekalipun telah puluhan kali bertemu Ramadhan.

Takwa artinya adalah tunduk secara total kepada Tuhan. Tidak ada yang paling dicintai selain Tuhan dan tidak ada yang paling ditakuti kecuali Tuhan. Apabila seorang Muslim masih ada yang paling dicintai selain Tuhan, maka takwa belum sampai pada jiwa dan akalnya. Begitu pula jika ada yang paling ditakuti selain Tuhan, takwa juga masih jauh dari kesadaran dan pemikirannya.

Kalau begitu apa filosofi puasa itu? Mari kita lanjutkan pada beberapa kalimat berikut ini. Pertama, puasa itu kan tidak makan, minum, dan sebagainya yang berhubungan dengan syahwat atau hawa nafsu. Berarti puasa mengajak manusia untuk mendidik jiwa raganya agar mampu mengendalikan hawa nafsu, sembari terus-menerus berusaha memperbanyak ketaatan kepada Tuhan.

Apabila ada orang berpuasa, tetapi semakin tidak produktif hidupnya, bisa dipastikan orang itu tidak paham tentang mengapa ia berpuasa. Termasuk apabila puasa hanya mengantarkan dirinya menjadi pemalas; tidur pagi, jalan sore, dan nyaris tidak ada peningkatan ilmunya, maka sebenarnya dia tidak sedang puasa, keculai sekedar menahan lapar dan dahaga.

Jadi, puasa itu mendidik manusia untuk mampu menahan hawa nafsu sembari meningkatkan produktivitas dalam segala bidang kehidupan. Mulai dari produktivitas pemanfaatan waktu, peningkatan kualitas berpikir, sampai pada peningkatan kualitas iman dan dzikir. Jika tidak, yah puasanya ketinggalan, dong, hehe.

Kedua, puasa akan membuat kita lapar dan haus. Artinya dengan puasa kita akan merasakan sendiri bagaimana rasanya lapar dan haus. Tuh coba lihat di sana; perempatan jalan, wilayah bencana alam, atau kolong jembatan, banyak sekali manusia yang sepanjang tahun hidup di bawah bayang-bayang lapar dan dahaga.

Puasa mendorong kita untuk peduli terhadap sesama. Oleh karena itu kita harus meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama dengan banyak memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Bantuan apa? Apa saja yang mungkin kita lakukan. Jika kita seorang pelajar maka bisa memberikan sedikit ilmu kepada mereka yang putus sekolah. Jika kita pedagang, bisa dengan mengundang mereka untuk berbuka bersama, dan seterusnya.

Ketiga, puasa itu adalah kunci utama untuk meraih kemenangan. Kemenangan apa? Segala bentuk kemenangan yang mendatangkan kemuliaan jiwa raga karena mampu memberikan yang terbaik buat seluruh umat manusia. Kok bisa, ya karena saat puasa kita akan dididik menjadi orang yang sabar.

Harvard Business School dalam sebuah eksperimen menyimpulkan bahwa 90 % keberhasilan besar seseorang itu dikarenakan bobot kesabarannya yang sangat kuat. Sedangkan 90% penyebab kegagalan seseorang adalah karena bobot kesabarannya yang sangat rendah. Maka, wajar jika Eninstein mengatakan bahwa keberhasilan itu ditentukan oleh 20 % otak dan 80%-nya adalah karena keringat.

Jadi, puasa adalah momentum seorang manusia bisa melatih diri untuk bersiap menjadi orang sukses. Menariknya puasa mampu mengajarkan kita dengan cara mengalaminya bukan sekedar dengan cara memahaminya apalagi sekedar mengetahuinya. Ayo, puasa kita sudah benar, belum?.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.