News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Melahirkan Generasi Emas, Sejauh Mana?

Melahirkan Generasi Emas, Sejauh Mana?



Oleh Nurcahyani Arifin*


KALTIMTODAY -- “PENDIDIKAN nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Pendidikan merupakan pilar utama tegaknya kedaulatan dan kemandirian bangsa . sebab melalui tradisi ilmulah kekuatan bangsa dapat tegak sehingga mampu menjadi negeri yang bermartabat lagi disegani.

Oleh karena itu, sudah seharusnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya tanggung jawab individu peserta didik sendiri. Tanggung jawab tersebut harus dimulai dari pemerintah sebagai pelaku kebijakan penyelenggaraan pendidikan, sebelum menekankan kepada guru sampai pada para orangtua.

Salah satu ciri bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Maka dengan demikian, sejatinya pendidikan mampu membawa peserta didik yang semula tidak berdaya menjadi berdaya, tidak menggantungkan hidup pada orang lain, sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya, baik secara individual, secara sosial maupun secara susila.

Dan sebaliknya, apabila peserta didik tidak mengalami perubahan tingkah laku dan persepsi atau bahkan cenderung berprilaku negatif maka sejatinya penyelenggaraan pendidikan yang diberikan telah gagal.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2012 beberapa bulan lalu mengambil tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia”. Tema tersebut sesuai dengan rencana besar Kemendikbud untuk menyiapkan emas hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 2035 nanti.

Mengutip pernyataan Mendikbud Muhammad Nuh, tahun ini dianggap sebagai masa “menanam” generasi emas tersebut. “Dari 2012-2035 Indonesia mendapat bonus demografi, d imana jumlah penduduk usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua,” ujarnya.

Dengan pernyataan Bapak Menteri tersebut, mengindikasikan bahwa kami para anak bangsa adalah salah satu dari generasi emas yang akan dipersiapkan untuk membangun Indonesia kedepannya.

Bangkitnya Generasi Emas
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah anak didik sekarang telah siap untuk menjadi generasi emas? Sementara jika kita melihat salah satu semboyan Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarsa sungtulada (yang di depan memberi teladan). Maksudnya adalah apakah para pemimpin kita telah menjadi teladan bagi anak-anak didik hari ini?.

Karena selalu saja ada ironi yang kita saksikan. Para pemimpin kita saat ini justru rajin mempertontonkan perilaku hal yang bertentangan dengan semboyan tersebut. Jika ingin menyalahkan suatu kondisi seperti saat ini terjadi, maka kesadaran kita harus seimbang dalam menarik kesimpulan.

Misalnya, mengapa begitu banyak korupsi terjadi di Indonesia dan seakan sangat sulit untuk mengahapus dan memberantasnya, kemudian yang terbaru di mana para pejabat plesir dengan alasan study tour yang dianggap telah banyak menghabiskan uang Negara.

Jawabannya sudah pasti. Yaitu bahwa semua ini terjadi karena masa lalu pendidikan kita sangat buruk baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, belum lagi ditambah dengan sistem pengelolaan birokrasi pendidikan yang carut marut dan lemah dalam menjaga visi dan misi pendidikan nasional.

Bagaimana cara mengatasi dan memperbaikinya? Jawaban idealnya adalah harus ada perbaikan sistem pada seluruh aspek yang mengalami kerusakan mentalitas masyarakat. Hal itu salah satunya dapat dilakukan dengan proses pendidikan yang baik dan benar secara berkelanjutan.

Kesadaran tentang perlunya perbaikan pada seluruh aspek dan sendi pendidikan harus menyatu dalam kesadaran kita sehingga kita percaya bahwa hanya pendidikan dengan proses yang baik dan benarlah yang akan mampu mengubah seluruh kerusakan yang terjadi saat ini.

Lantas, pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada peserta didik? Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa tidaklah cukup jika hanya diberikan dengan cara menceramahi dan mendiskusikannya dalam kelas, tetapi akan lebih tepat jika nilai-nilai karakter tersebut langsung diterapkan pada semua aktivitas yang direncanakan dan diselenggarakan baik secara formal maupun informal. Dengan atau tanpa bisa disadari bahwa nilai-nilai karakter sebetulnya sudah melekat pada setiap insan ciptaan Allah SWT yang paling beradab ini dengan segala potensi yang telah dimiliki sejak lahir.

Sederhananya, kita harus kembali melihat semboyan dari Bapak Pendidikan kita yaitu ing ngarsa sungtulada (yang di depan memberi teladan). Yaitu bagaimana para pemimpin di negeri ini dapat memberi teladan yang baik kepada seluruh peserta didik.

Dengan memberi tauladan yang baik, ini akan menjadi satu contoh nyata implementasi dari pendidikan karakter yang dengannya diharapkan para peserta didik nantinya tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang dilakukan para pemimpin yang sekarang. Karena pendidikan dikatakan berhasil salah satunya adalah apabila tingkah laku dari peserta didik berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Sudah seharusnya bangsa ini perlu mengembalikan roh pendidikan yang sudah mulai hilang , yaitu buah pemikiran Bapak Pendidikan KI Hajar Dewantara. Yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya.

Itu semua harus tegak dengan didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila dan atas semangat kemerdekaan yang asasi. Kalau bukan dari diri kita sendiri, siapa lagi yang akan mengubah negeri kita ini.[KTC]


*Penulis adalah siswi di SMA Negeri 1 (SMANSA) Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.