News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Menemukan Diri, Tuhan dan Kebenaran

Menemukan Diri, Tuhan dan Kebenaran


Menemukan Diri, Tuhan dan Kebenaran
KALTIMTODAY -- SEKALIPUN seseorang telah berusia 25, 35, atau bahkan 50 tahun, belum tentu ia mengerti dengan benar tentang siapa manusia, Tuhan dan kebenaran. Hal ini dikarenakan tradisi berpikir dalam kultur bangsa Indonesia boleh dikatakan masih rendah.

Semua itu bisa dibuktikan dengan rendahnya produksi intelektual yang dihasilkan putra-putri bangsa ini. Kalaupun ada masih terbilang sederhana dan belum menyentuh aspek mendasar dari kehidupan itu sendiri.

Fakta terbalik memang terjadi di negara bahkan benua lain. Katakanlah seperti Jepang, Eropa dan Amerika. Ketiganya adalah tempat di mana produksi intelektual dalam bentuk konsep sosial-politik dan teknologi berlangsung sangat dinamis. Tetapi pada saat yang sama ketiganya adalah tempat di mana Tuhan telah "disingkirkan". Mereka hidup dengan Tuhan berupa akal dan hawa nafsu.

Dengan demikian maka ada satu hal penting yang keberadaannya mutlak diperlukan yaitu tentang siapa manusia, Tuhan dan kebenaran. Sebab Jepang, Eropa juga Amerika, di tengah kecanggihan teknologinya, kini mereka sedang dilanda krisis moneter yang tidak ringan. Artinya, konsep dan produk intelektual mereka lemah dan karena itu pasti tidak benar.

Mengapa tidak benar? Pertama, mereka menegasikan Tuhan. Tuhan itu jelas ada sebab mustahil dunia ini hadir tanpa pencipta. Secara nalar tidak ada makhluk di bumi ini yang kecerdasannya melebihi manusia. Dan, manusia itu adalah ciptaan. Maka pasti pencipta manusia itu jauh sangat cerdas dari manusia dan karena itu harus diketahui dan diakui.

Kedua, karena menegasikan Tuhan, intelektual (ilmu) di Barat berpisah dengan moral. Akibatnya pergaulan bebas merajalela. Jadi, akal tidak sedikit pun mampu melindungi jiwa dan rasa kemanusiaannya pada koridor yang manusiawi. Sebab pergaulan bebas itu sejatinya adalah pergaulan dalam dunia binatang.

Ketiga, karena ilmu terpisah dari moral, maka praktik kehidupannya jauh dari keberkahan. Contoh, mereka berhasil memproduksi industri otomotif, tetapi alam terancam dengan polusi otomotif. Jalanan macet di mana-mana, akibatnya psikologi manusia terganggu, dan yang terparah adalah, lapisan ozon pun terancam musnah karena setiap hari asap mesin-mesin di jalanan mengeluarkan gas beracun C02. 

Bahkan ekonomi kapitalis, yang awalnya dianggap sebagai sistem ekonomi terbaik, kini telah menunjukkan wajah aslinya. Eropa sebagai kampung halaman kapitalisme kini dilanda krisis ekonomi yang tidak ringan. Begitu pula dengan Amerika, negeri penuh kontroversi dan ambisi.

Lalu siapa manusia itu? Manusia jelas adalah ciptaan Tuhan. Ia lahir tanpa mengerti apa-apa dan tanpa kekuatan apa-apa. Lalu Tuhan anugerahkan kepadanya indera untuk menangkap sinyal-sinyal kebenaran dari Tuhan. Sayangnya tatkala menjadi orang dewasa, kebanyakan manusia gagal menggunakan akal dan inderanya, akhirnya jadilah ia penentang Tuhan yang paling nyata.

Adanya kelahiran dan kematian merupakan satu indikasi nyata bahwa manusia dalam kondisi bagaimanapun sama sekali tidak punya kekuatan yang berarti. Manusia bisa lahir di mana saja dan dari rahim siapa saja. Lebih dari itu manusia bisa mati kapan saja dan di mana saja. Berarti ada yang berkuasa penuh pada diri manusia yaitu Tuhan.

Berarti Tuhan adalah sumber segala-galanya. Tanpa Tuhan tidak ada kehidupan, tanpa Tuhan tidak ada kebahagiaan. Oleh karena itu tidak ada jalan menuju pada kebenaran selain mengikuti petunjuk Tuhan.

Jika ada manusia yang menegasikan Tuhan tunggu saja saat di mana ia akan jatuh berantakan. Jika ternyata sebaliknya? Jangan bangga sebab Tuhan tidak pernah tergesa-gesa menghukum para pembangkang. 

Setelah semua kriteria pembangkangan terpenuhi, saat itu hukuman Tuhan tidak bisa dinegosiasikan. Maka dari itu gunakanlah akal sehat kita untuk memahami masalah mendasar ini. [KTC]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.