News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Sekolah itu Binatang!

Sekolah itu Binatang!

KALTIMTODAY -- AYAM. Anda tahu, kan, siapa dia? “Beliau” adalah jenis binatang unggas yang hebat. Ia banyak mengajari kita tentang bagaimana hidup dan menjalaninya secara seksama. Nah, loh!. Tak perlu panik, sebab dia memang mengajari kita tentang banyak hal.

Kita akan bahas satu persatu, silahkan nanti Anda konstruk lagi lebih mendalam. Mari kita mulai dari yang paling sederhana dulu yang ada pada dirinya. Ayam merupakan hewan yang punya suara yang bagus.

Pernahkah suara lengkingan ayam berkokok membuat Anda muyak dan bersumpah serapah?. Mungkin pernah, tapi bisa jadi saat itu situasi memang lagi runyam sehingga membuat Anda tak nyaman mendengar suara gaduh untuk sementara waktu.

Suara ayam memberi manfaat. Di subuh hari, di saat anak manusia masih terlelap, ia senantiasa bangun lebih awal lalu berkokok kencang menyanyikan lantunan merdu mengajak kita untuk segera menyambut hari dengan penuh harapan dan percaya diri.

Cobalah untuk membandingkan ketika kita tinggal di tengah kota, yang tak ada kandang ayam, tak ada pohon tempat ungggas ini bermalam. Maka acap kali kita merindukan suara merdunya itu.

Di siang hari, di saat Anda sedang berleha-leha menghilangkan kepenatan selepas banting tulang, kokokan ayam terasa lebih nikmat di telinga ketimbang menyimak lantunan musik-musik impor dari Barat yang berseliweran itu.

Namun ayam juga nakal, kadang-kadang. Sering kali buang air sembarangan. Aromanya pun sangat menusuk penciuman. Tapi di sisi lain ternyata kotoran ayam adalah sumber pupuk kandang yang berkelas. Jadi kita tidak perlu terlalu sakit hati ketika menemukan ayam membongkar muatannya yang busuk itu di sembarang tempat, he-he-he.

Keunikan lainnya, rasa-rasanya apa saja yang keluar dari bagian lubang ayam ada manfaatnya untuk manusia. Dari pantatnya keluar telur, manfaatnya besar sekali untuk manusia. Bahkan kulit telur itu sendiri. Cekernya yang berkuku pun rajin dijadikan santapan sop kaki ayam yang gurih.

Apalagi? Bulu ayam adalah bahan inti untuk permainan olahraga shuttlecock (bulu tangkis). Sehingga nyaris semua bagian dari ayam memberi manfaat yang besar kepada manusia. Meski pun juga ada beberapa bagian darinya tak mengenakkan bagi yang lain.

Kita telah mendapati pada diri hewan bernama ayam banyak pelajaran berharga setiap waktu bahwa keberadaan ayam ternyata sangatlah berarti untuk kelangsungan hidup manusia. Sehingga dengan itu ia dihadirkan oleh Tuhan di bumi.

Namun belakangan muncul isu flu burung. Akibatnya ratusan ribu ekor ayam dibakar hidup-hidup dan dihabisi karena adanya kabar penyebaran flu burung yang mematikan ini. Tapi semua masih spekulatif dan belum jelas.

Flu burung oleh sebagian kalangan dinilai sarat konspirasi. Pasalnya, seperti kita ikuti, pemaparan fakta-fakta oleh Ibu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari saat mengisi kuliah umum di Kampus ITB (18/3/2008) sangat mencengakan. Siti Fadilah yang saat itu masih menjadi menteri Kabinet Gotong Rorong Pemerintahan SBY Jilid I mengaku pernah kedatangan seorang salesman vaksin dari negara maju (Negara maju ini konon adalah Amerika). Si Sales menawarkan vaksin flu burung strain Vietnam.

Namun setelah ditelisik pihak Menkes ketika itu, diketahui ternyata mereka mendapat benih virus dari Pusat Kolaborasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO-CC), yang berasal dari virus liar milik negara penderita yang mengirim virus.

Dengan kata lain, jelas Fadilah Supari, negara maju dengan keunggulan teknologi dan ahli-ahlinya memproduksi dan menjual vaksin dengan memanfaatkan benih virus yang diambil dari negara penderita.

Mekanisme semacam ini, lanjut Menkes, menjadi tidak adil karena paten vaksin sepenuhnya dikuasai oleh negara maju. Dengan kata lain, virus flu burung sesungguhnya adalah sebuah proyek kapitalisme. (Baca: Menkes: Tangan Tuhan dibalik Flu Burung, laman resmi ITB, 19 Maret 2008).

Baiklah, kita tinggalkan saja persoalan itu. Sekarang kembali kepada kita. Apakah kita sudah mengambil pelajaran dari binatang unik ini?. Meski pun ia dituding penyebar virus flu burung, tapi ayam sedikit banyak telah mengajari kita bagaimana menjalani hidup dan lalu mati dengan meninggalkan kesan yang baik.

Apakah suara kita memberi manfaat kepada banyak orang atau hanya memantik kegaduhan. Apakah keberadaan kita efektif dalam sebuah komunitas atau hanya menjadi benalu yang kehadirannya meresahkan banyak orang.

Kita rasanya harus senantiasa merenungkan hal-hal yang mungkin dianggap sepele di sekitar kita. Sebab pada prinsipnya belajar tidaklah melulu harus kepada manusia, kita pun harus belajar kepada alam, kepada hewan, kepada binatang, kepada keadaan dan kondisi yang ada di sekitar kita.

Sehingga, tak salah jika kita coba perhatikan tingkah induk kucing yang rajin menyusui bayi-bayinya penuh kasih saying. Ia rela menelusuri dapur demi dapur demi secerca makanan untuk anak-anaknya. Sifat yang mungkin kadang kala tak dipunyai manusia yang bahkan tega menelantarkan anaknya yang sedang butuh kehangatan.

Jangan pernah menyepelekan keberadaan hewan dan binatang lain di sekitar kita. Mereka sebenarnya adalah bagian dari sekolah kehidupan kita, tempat di mana kita belajar dan memetik banyak nasihat. Dan, tempat kita untuk lebih menghayati kebesaran Tuhan.[KTC]

Redaksi kaltimtoday.com.

Foto: Ilustrasi/Google.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.