News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ini Rahasia Manusia Berprasangka!

Ini Rahasia Manusia Berprasangka!


KALTIMTODAY -- USIA keduanya memang sudah tidak muda lagi. Yah, kira-kira 50 tahun lebih-lah

Kedua pasang suami istri ini adalah orang kaya dan cukup terpandang di kampungnya. Tak heran kalau mereka telah berhaji ke Baitullah sebanyak dua kali. 

Kendati demikian, yakni terpandang dan sudah naik haji dua kali, kedua pasangan keluarga ini punya watak yang nyaris tak ada bedanya. Yaitu sama-sama punya kebiasan buruk; mendengki!. 

Haji Muhiddin dan Hajjah Maemunah, nama kedua orang ini, punya sentimen pribadi terhadap salah satu keluarga di kampungnya tersebut yakni keluargnya si Sulam, seorang tukang bubur yang sukses.

Mereka selalu berusaha bagaimanapun caranya agar si Sulam senantiasa menderita dan bangkrut. Berbagai muslihat jahat dan intrik pun dilancarkan. Usaha mereka memang sukses. Dari mempermalukannya langsung di depan umum hingga sukses memasukkannya ke terungku besi melalui penyebaran fitnah dan sejenisnya. 

Tapi yang membuat kita berdecak kagum, si Sulam rupanya tak pernah habis mengerti kenapa dirinya selalu menjadi sasaran kebencian Haji Muhiddin. Padahal kenyataannya, Sulam sama sekali tak pernah menaruh kebencian, dendam, iri hati, dan paras ketidaksukaan terhadap Muhiddin. Justru sebaliknya, si Sulam selalu saja memaafkan setiap kelakukan yang dilakukan Muhiddin terhadapnya.

Justru yang aneh, Muhiddin dan Maemunah ternyata tak pernah bisa menjawab pertanyaan anak semata wayangnya, yang namanya Rumanah, perihal kenapa mereka kok sangat membenci keluarga Sulam dan selalu merasa dirongrong setiap waktu. Setiap ditanya demikian, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala tanda bingung. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. 

Nah, kawan, penggalan kisah di atas adalah cuplikan sebuah sinetron menarik di stasiun televisi RCTI yang rutin tayang setiap malam. Dari sinetron berjudul “Tukang Bubur Naik Haji” ini, sebenarnya kita dapat mengambil banyak pelajaran berharga. 

Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang prasangka. Itu makanya kenapa kita pun coba mengetengahkan cuplikan sebuah sinetron tentang anak manusia yang mengarungi pertarungan melawan perasaannya sendiri.

Sahabat kaltimtoday.com yang baik, inilah salah satu pesannya. Nonton itu jangan asal nonton. Pikirkan dan analisa kembali apa yang sudah ditonton. Jangan terjebak, jangan pula terlena, ambillah pelajaran. 

Kenapa manusia berprasangka dan lebih senang berprasangka buruk?. Memang tidak ada salahnya berprasangka. Tapi sudah sepatutnya prasangka-prasangka buruk harus dieliminir sesegera mungkin. Sebab prasangka buruk hanya akan mendatangkan keburukan. Ini jelas.

Lalu, apa sih itu prasangka? Dalam kajian ilmu sosiologi, prasangka atau prejudice dalam bahasa Inggris, berasal dari kata latian: prejudicium. Pengertian prasangka cukup beragam yang kemudian dapat kita bagi dalam tiga pengertian umum berikut ini. 

Prasangka adalah presenden, artinya keputusan diambil atas dasar pengalaman masa lalu. Itu satu. Kedua, laku pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yang cermat, tergesa-gesa atau tidak matang. Dan, ketiga, prasangka dipersyaratkan pelibatan unsur-unsur emosianal antara suka dan tidak suka dalam keputusan yang telah diambil.

Menurut C.T. Morgan (1966), prasangka menunjuk pada aspek sikap. Sementara sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negarif terhadap orang, obyek atau situasi. Dan, sikap seseorang baru diketahui setelah ia bertindak atau beringkah laku. 

Jadi, prasangka adalah merupakan kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. 

Prasangka dapat pula diartikan sebagai suatu sikap yang telampau tergesa-gesa, bertindak hanya berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, tak berimbang, dan kerap menyederhanakan suatu masalah dan realita. 

Banyak orang yang mudah berprasangka, seperti tokoh Haji Muhidin yang telah kita ulas di atas. Namun, faktanya, banyak juga orang-orang yang lebih sukar berprasangka. Lalu, mengapa terjadi fenomena seperti ini?.

Dalam salah satu catatan reflektifnya berjudul "Mendefenisikan Prasangka" yang enak dibaca, Ahmad Mendatu menyebut bahwa kondisi tersebut karena dipengaruhi faktor kepribadian dan inteligensi. Faktor lingkungan juga cukup berkaitan dengan munculnya prasangka.

Dan, inilah yang menarik. Bahwa ternyata orang yang berintelijensi tinggi itu lebih sukar berprasangka, mengapa? Karena orang-orang macam ini selalu bersikap dan bersifat kritis dalam setiap menilai sebuah realita.

Sederhananya, pada teorinya gampang saja sebenarnya untuk menghindari prasangkan buruk. Yaitu dengan cara tetap kritis dan menggunakan akal sehat dalam setiap mencerna suatu permasalahan, atau dalam menilai orang. Sehingga dengan begitu kita pun akan dapat menimbang, pantas atau usahkah kita berprasangka.

Nah, saatnya kita mengelola prasangka menjadi lebih berdaya guna, berdaya manfaat, dan menentramkan. Prasangka semestinya diletetakkan pada tempatnya secara tepat. Sebab untuk apa berprasangka buruk jika hal itu kemudian membuat diri kita sendiri tersiksa. Buang jauh prasangka buruk dan nikmatilah hidup Anda!. 

     
Foto: Ilustrasi/AmericaSupportsYou

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.