News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ironi Dunia Modern

Ironi Dunia Modern


Oleh Dalle Oktarius*
KALTIMTODAY -- ILMU itu bebas nilai. Demikian propaganda Barat dalam melancarkan agenda internasionalnya ke berbagai negara di belahan bumi. 

Untuk itu, mereka membangun universitas, melakukan studi, dan membiayai banyak ilmuwan untuk memberikan argumentasi “ilmiah” bahwa ilmu itu memang benar-benar bebas nilai.

Jangan dikira kalimat pendek itu tidak berdampak serius. Rusaknya kebudayaan, punahnya khazanah budaya pada beberapa tempat di dunia ini, termasuk runtuhnya nilai-nilai moral kemanusiaan itu terjadi karena jargon yang berdasar pada filsafat modern yang materialistis dan atheis.

Nama-nama tokoh filsuf Barat pun berhamburan di berbagai macam buku –baik yang dikaji di program kuliah  sampai pada buku paket anak-anak, teman-teman kita di bangku SMP dan SMA– seperti, Descartes, Nietsczhe, dan Kant, yang notabene mengajak generasi bangsa memiliki frame berpikir Barat dalam memandang kehidupan.

Kejadian mencengangkan terjadi pada akhir tahun 80–an memasuki awal 90–an. Anak-anak yang ketika kecil sangat rajin belajar, rajin mengaji, dan gemar mendatangi sholat berjama’ah di masjid, begitu menginjak bangku SMP langsung enggan melanjutkan tradisi mulia yang telah dilaluinya sewaktu SD.

Muncul sebuah anggapan bahwa semua itu (mengaji, ke masjid, dan belajar Al-Qur’an) bukan lagi suatu kebutuhan dan jelas tidak menguntungkan. Karena begitu derasnya arus westernisasi itu, akhirnya mindset orang tuanya pun mulai luntur dan bergeser. 

Hari ini sudah tidak banyak orang tua yang gelisah ketika anaknya tidak sholat, tidak membaca Al-Qur’an. Mereka hanya khwawtir kalau anaknya tidak naik kelas dan tidak diterima kerja.

Hari ini lebih parah lagi. Kehidupan remaja di era 2000–an sudah banyak yang melampaui batas. Pergaulan bebas sesama mereka menjadi trend dan gaya hidup. Lebih menyayat hati lagi, ternyata juga tidak sedikit orang tua yang semestinya menjadi teladan juga terjerumus dalam praktik hidup binatang itu. Perselingkuhan di mana-mana. Bahkan bagi sebagian keluarga itu dianggapnya biasa, itulah modern.

Prinsipnya, dunia telah mengalami penegasian terhadap ruhani, terhadap nilai, terhadap norma, dan tentunya terhadap agama dan Tuhan. Semua itu tidak lain sebagai akibat dari jargon ilmu itu bebas nilai. Maka dari itu semua hal yang mengikat, mengatur, dan membatasi ruang gerak manusia harus dimusuhi dan dijauhi.

Sekalipun ada nilai-nilai kemanusiaan yang hadir, tidak lebih dari sebuah kamuflase belaka. Segala bentuk pandangan hidup yang tidak relevan dengan pandangan hidup Barat maka itu dianggap salah. HAM hanya monopoli Barat. Tidak ada yang boleh mengatakan menjadi korban kemanusiaan jika Barat tidak mengiyakan anggapan itu. Dunia kini makin dipenuhi ironi.

Rohingnya adalah bukti terupdate akan hal ini. Pembantaian ribuan manusia dianggap bukan apa-apa. Sementara, satu orang dianggap sebagai teroris, dua negara harus luluh lantak. Setidaknya itulah yang terjadi pada Afghanistan dan Irak. 

Di dalam negeri, kita dihadapkan dengan banyak masalah. Satu di antaranya adalah masalah anak. Dalam definisi formal negara kita, kategori anak-anak itu berada pada usia di bawah 18 tahun. 

Oleh karena itu, kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang berada pada usia 18 atau dibahwahnya tidak dikenakan sanksi hukum. Suatu definisi yang sangat berpotensi menjadikan anak-anak Indonesia memiliki satu pandangan bahwa berbuat jahat asalkan masih anak-anak itu boleh. Kalau ada sanksi baginya, lapor saja ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Demikianlah ironi dunia, realita yang irasional terus terjadi dan akan terus berlangsung sebagai akibat kita menjadikan pandangan hidup Barat yang bersumber pada kalimat pendek dan sederhana, “Dunia itu Bebas Nilai”. 

*Penulis adalah blogger Kaltim, peminat masalah sosial, filsafat dan kajian perbandingan agama

Foto: Ilustrasi/DesignerScarvesByMarlena

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.