News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Menyongsong Kemerdekaan Hakiki

Menyongsong Kemerdekaan Hakiki














SAYA terkaget. Dalam perjalanan keluar kota ke Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, saya dikejutkan dengan pemandangan biasa di negeri ini. Gerombolan massa turun ke jalan. Ya, ada kericuhan di sana.

Tetapi ini menjadi tidak biasa karena “kebiasaan” (baca: ricuh) itu justru terjadi di Bulan Ramadhan di kawasan yang terbilang desa lagi. Ironi, tapi inilah fakta. Di Bulan yang semestinya umat Islam khusyuk beribadah justru sebagian terlibat kerusuhan.

Gerbang pabrik yang berada dipertigaan menuju Kalapa Manunggal itu dipenuhi banyak orang. Puluhan polisi terlihat sigap mengendalikan situasi. Jalanan pun menjadi macet karena meluapnya demonstran yang begitu besar.

Ketika tidak ada temu kesepakatan, bentrok pun tak terhindarkan. Beberapa kaca mobil menjadi sasaran amuk massa. Jalanan mulai menjadi tidak aman bagi pejalan kaki, pecahan kaca mobil melingkupi hampir semua badan jalan tepat di depan gerbang pabrik.

Setelah coba menelisik ke seorang warga yang kebetulan bersama saya dalam kendaraan umum, ternyata, kata sumber saya tersebut, semua itu akibat kebijakan pabrik yang memberlakukan jam lembur meski di bulan puasa. 

Tragis memang, demi keuntungan materi yang bernama omzet pemilik modal bangga bisa menari di atas keringat dan derita buruhnya sendiri. Namun, berita terakhir yang saya ikuti, pemicu terjadinya bentrok itu rupanya karena kesalahpahaman semata.

Itu di Indonesia. Lebih mengejutkan lagi kalau kita terbang ke benua biru Eropa. Di saat London sedang dipenuhi warna kemeriahan Olimpiade, di Spanyol kerusuhan sosial tak terhindarkan. Bukan karena bintang muda kesebelasan mereka yang takluk di babak penyisihan, tetapi karena bencana kelaparan.

Sebagian warga Spanyol mulai tidak tahan lagi dengan situasi ekonomi yang menghimpit dan memaksa mereka hidup dalam kelaparan. Mereka menjarah toko, minimarket, bahkan ada yang membobol tong sampah untuk mendapat makanan. Entah makanan sisa atau kadaluarsa, yang penting bisa makan. Memprihatinkan, bukan?

Ke depan boleh jadi Liga Spanyol akan menjadi liga yang paling awal mengalami pailit, sebelum akhirnya disusul oleh Jerman, Prancis, Italia, Belanda dan Inggris. Apa sebab? Eropa sedang dilanda krisis moneter luar biasa. Dan, krisis keuangan itu telah merambah pada krisis sosial yang menjadikan Spanyol kini negeri yang paling rawan huru-hara.

Jadi mau ke mana sekarang, hampir seluruh dunia dipenuhi masalah. Mau ke Mesir atau Timur Tengah semuanya sedang bermasalah. Di Indonesia korupsi merajalela, di Eropa krisis ekonomi menggejala, di Amerika, pengangguran kian menggila. Lalu, mau ke mana kita agar tetap bisa berjaya?.

Tahun Istimewa
Ada dua momentum besar yang tidak lama lagi akan menyapa rakyat Indonesia dan umat Islam seluruhnya. Pertama, hari kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus 2012 yang akan jatuh pada Jum’at pekan depan. Persis seperti hari kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 yang juga terjadi pada hari Jum’at.

Kedua, hari lebaran (Hari Raya Idul Fitri 1433 H) yang diperkirakan akan jatuh pada 19 Agustus atau dua hari pasca peringatan hari jadi bangsa Indonesia. Jadi sangat istimewa. Selain akan memadukan dua kegembiraan sekaligus, secara historis akan mengingatkan peran dan kontribusi umat Islam dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tetapi apakah dua momentum besar itu benar-benar berarti besar, penting, berharga dan istimewa bagi kebanyakan bangsa Indonesia? Sepertinya tidak. Lah, kok tidak. Ya, dua momentum itu lebih banyak hanya akan bermakna formal dan tidak akan bermakna fungsional. Pasalnya, elit negeri ini kebanyakan banyak yang masih bermental budak daripada mental merdeka.

Emha Ainun Najib mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa besar sebesar burung garuda. Tapi nyalinya atau mentalnya tidak lebih besar dari burung emprit. Burung kecil yang hanya pandai berkicau. Pantas kalau elit negara kita banyak yang suka ber-twitter ria. Karena bisanya cuman berkicau.

Berarti kemerdekaan nanti masih akan menjadi acara formal belaka. Ia tidak akan banyak berperan bagi perbaikan kondisi bangsa kedepannya. Kecuali jika elit bangsa sudah memiliki mental ksatria dan berani tegak di atas landasan konstitusi negara. Jika tidak, ya seperti tahun sebelumnya, hari kemerdekaan itu hanya sibuk menyiapkan rapinya pasukan pengibar bendera dan seterusnya, selesai.

Bagi umat Islam juga demikian. Syukur kalau nanti ternyata Idul Fitri itu serempak. Awal puasanya saja sudah berbeda. Umat Islam sebagai mayoritas bangsa masih belum mampu menjadi contoh bagi yang lain. Kekuatannya sangat rapuh. 

Tahu bahwa soal awal puasa itu soal furu’iyah, soal idul fitri soal furu’iyah tetapi tidak pernah mau saling tenggang rasa dan menghargai. Akibatnya umat Islam selalu pecah belah dan tidak pernah utuh dalam persatuan dan kesatuan.

Belum lagi lebaran yang dimaknai sebatas baju baru, mobil baru, cat rumah baru, handphone baru, dan segenap tetek bengek pernak-pernik kebendaan. Padahal menurut Malik Bennabi, komunitas yang masih gandrung terhadap benda-benda adalah komunitas yang belum beradab. Alias komunitas bayi. Komunitas itu tidak mampu berpikir tapi memiliki rasa penasaran tinggi terhadap benda-benda.

Pada mereka komuniats semacam ini Malik Bennabi memberikan sindiran keras. “Tidak akan pernah mungkin terjadi seorang baduwi mendapat hadiah nobel keilmuan”. Artinya kalau kita tarik dalam konteks ke-Indonesia-an kekinian dapat dikatakan, “Mustahil umat Islam Indonesia akan berprestasi kalau mementum ibadah pun menjadi perayaan benda-benda”.

Semua itu menunjukkan bahwa bangsa ini belum merdeka secara hakikat. Bahkan merdeka secara politik pun tak lebih dari sekadar proxy belaka. Kebijakan negeri ini banyak diintervensi kepentingan asing. Jadi wajar jika peringatan HUT RI belakangan kehilangan arti. Dan, perayaan hari raya Idul Fitri juga tidak memberikan fungsi penting bagi kemajuang bangsa.

Tiga Kemenangan Mutlak
Selamanya Indonesia tidak bisa dikatakan merdeka secara hakiki sebelum benar-benar mampu meraih tiga kemenangan mutlak. Pertama, kemenangan konstitusi, kedaulatan berada di tangan rakyat. Kedua, penerapan ekonomi humanity bukan kapitalisme seperti sekarang. Ketiga, Indonesia bebas dari pemikiran sesat yang menegasikan Tuhan dan memuja kesesatan.

Pemerintah hendaknya benar-benar mewujudkan konstitusi negara yang mengatakan secara gamblang bawa kedaulatan di tangan rakyat. Tetapi mengapa sumber kekayaan yang melimpah di negeri ini tidak mensejahterakan rakyat. 

Sukabumi contoh kecil, yang beberapa waktu lalu saya sambangi, bagaimana sumber air yang luar biasa di wilayah ini ternyata hanya mendatangkan uang bagi para pemodal.

Demikian dengan Kalimantan Timur, yang merupakan penghasil batu bara tetapi setiap hari listriknya rajin padam. Apalagi dengan Papua yang punya tambang emas. Bukannya rakyat sejahtera, setiap saat negeri Cenderawasih itu rawan huru-hara.

Sederhananya kita ingin mengutarakan begini, bahwa selagi pemerintah masih belum berhasil dan tidak berkemauan keras untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, dari pada dituduh tidak pro rakyat, maka sebaiknya segera pindah negara saja dan cari negara yang mengatakan bahwa kedaulatan ada di tangan pemodal. Jadi, tinggalkan negeri ini.

Kemudian sisi ekonomi. Harus disadari dan dipahami dengan benar, keprihatinan yang melanda Spanyol bukan karena penduduk mereka yang sumber daya manusianya rendah, tetapi karena sistem ekonomi bunga (riba) mereka sendiri. 

Jadi, ekonomi kira-kira, buble economy dan electronic money itulah yang menjadi biang kerok kebangkrutan mereka. Tidak lama lagi, situasi serupa akan menyongsong di negara Eropa lainnya, termasuk Amerika Serikat secara keseluruhan.

Apabila Indonesia mau selamat dari musibah serupa, sejak sekarang harus melakukan konferensi ekonomi nasional yang melibatkan para agamawan, ilmuwan, intelektual, dan praktisi ekonomi yang berwawasan kenegaraan. 

Seperti sering diungkapkan oleh banyak tokoh bahwa penyangga ekonomi nasional yang paling kuat adalah ekonomi sektor riil yang banyak digerakkan oleh UKM. Lalu pertanyaannya, mengapa itu hanya sampai pada statement dan tidak segera dilakukan penguatan terhadap UKM. 

Kita harus ingat bahwa kelambanan dalam menyikapi kasus ini akan mengundang masalah besar dan tentu penyesalan yang mendalam. Selagi belum terjadi, mari kita bersinergi bersama. Pemerintah, ilmuwan, praktisi, dan rakyat secara keseluruhan bahu-membahu membangun bangsa.

Kucurkan segera kredit kepada pengusaha kecil. berdayakan mereka yang miskin dengan mempermudah akses modal. Jika tidak, maka yang miskin akan tambah miskin dan yang kaya akan bertambah kaya.

Bagaimana tidak, orang miskin tidak punya akses modal karena tidak punya agunan. Sementara mereka ini adalah mayoritas bangsa. Jika mayoritas bangsa kelaparan, apakah keliru jika kemudian mereka melakukan penjarahan untuk mendapat makanan? Sekali lagi, kasus Spanyol jangan diimpor ke Indonesia.

Terakhir, amalkanlah sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam seluruh sisi bidang kehidupan. Insya Allah Indonesia akan benar-benar merdeka, apalagi jika umat Islam puasanya tahun ini benar-benar berbuah takwa, tentu semua idealitas negara akan menjadi nyata.

Dengan begitu maka patutlah kita bersorak gembira menyambut hari kemerdekaan dan hari lebaran. Mungkin tidak tahun ini, tetapi kita semua tetap optimis semoga bisa diwujudkan di tahun tahun mendatang. 

Selamat HUT RI ke 67 dan selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Bersama mari kita raih kemenangan, mohon maaf lahir dan bathin.[]


*Imam Nawawi adalah penulis tetap www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.