News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Merindukan Pejuang Pembela Pedagang

Merindukan Pejuang Pembela Pedagang


KALTIMTODAY -- SEMUA pasti kenal Ir. Soekarno. Presiden pertama RI itu memang luar biasa, terkhusus kala sedang berpidato atau berorasi. Kelihaiannya dalam merangkai kata dan menempatkan intonasi yang khas menjadikan setiap pidatonya mampu menyihir ribuan massa yang mendengarnya. Boleh dikatakan Soekarno termasuk seorang agitator.

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar (SD) Pribumi di Singa Raja, Bali. 

Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Tapi, tahukah Anda, bahwa Sukarno ternyata adalah seorang murid dari HOS Cokroaminoto?

Bahkan Soekarno muda sangat mengidolakan tokoh Syarikat Islam itu. Bung Karno selalu menyebut nama Cokroaminoto sebagai guru sekaligus pujaannya di kala muda. Bung Karno tidak pernah menafikkan peran Cokroaminoto yang menggembleng Sukarno muda dengan sekeras-kerasnya.

Bung Karno sering membuntuti Cokro yang ketika itu berusia 30-an tahun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, menjadi guru ngaji, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan, tebaran-tebaran semangat untuk merdeka, lepas dari penindasan bangsa Belanda.

Bersama Cokroaminoto, minat baca Soekarno tumbuh pesat. Di saat teman seusianya banyak menghabiskan waktu untuk bermain, sejak usia 15 tahun Soekarno sudah menenggelamkan diri dalam lautan buku. Dari tradisi membacanya itu Soekarno mulai mengenal nama-nama tokoh besar dunia. Pertanyaannya adalah siapa gerangan sosok HOS Cokroaminoto itu?

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Cokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam (SI).

Sebagai pimpinan Sarekat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam.

Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik. Dan, pada akhirnya tahun 1912 SDI berubah menjadi Sarekat Islam.

HOS Cokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergenakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis.

Kata-kata mutiaranya seperti “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik, dan ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia. H.O.S. Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun.

Itulah sekelumit tentang guru bangsa, HOS Cokroaminoto. Sayangnya, upaya melindungi pedagang lokal dari pedagang asing tidak ada yang melanjutkannya secara serius. Akhirnya kini bangsa Indonesia menjadi negara yang paling tergantung dengan pasar luar negeri. Sudah tahu, kan, kemarin kita baru impor kedelai untuk buat tahu dan tempe?. 

Perdagangan di dalam negeri kita sering kacau di bawah kendali spekulan jahat, pedagang kita dieliminir, sementara pemerintah tak perduli dan masih melupakan elemen penting penyangga negara di dasar gunung, bahkan terkesan hanya mementingkan kepentingan sendiri. Di saat kondisi seperti ini, kita merindukan lahirnya sosok baru Cokroaminoto. 

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.