News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Pahlawan dan Zaman

Pahlawan dan Zaman

KALTIMTODAY -- WAKTU bergulir terasa begitu cepat. Tanpa terasa kini kita memasuki bulan istimewa plus-plus. Plus pertama ini adalah Bulan Ramadhan. Plus kedua, ini adalah Bulan Agustus, bulan kemerdekaan, bulan di mana para pahlawan bangsa menapaki start awal perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Jika diruntut pada sejak berdirinya Syarekat Dagang Islam oleh KH. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1908 maka kemerdekaan itu baru terwujud kira-kira tiga dekade kemudian. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa perjuangan itu tidak instan. Oleh karena itu mereka yang mampu bersabar di atas perjuangan disebut dengan pahlawan.

Di zaman awal kemerdekaan ada sederet nama pahlawan bangsa. Di antaranya adalah Ir. Sukarno dan Drs. M. Hatta. Keduanya adalah bapak proklamator bangsa.

Selain itu, ada juga nama-nama hebat lainnya. Satu di antaranya adalah KH. Agus Salim. Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak.

Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan surat kabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Agus Salim dikenal sebagai diplomat ulung bangsa Indonesia. Dia memiliki kemampuan berbahasa sebanyak delapan bahasa dunia. Kefasehannya dalam berlogika menjadikan diplomasi KH. Agus Salim jarang terbantahkan. Bahkan KH. Agus Salim mampu menjadikan lawan politiknya tunduk dengan bahasa yang sangat elegan tanpa disadari sang lawan.

Berarti bicara ada ilmunya. Semakin pandai bicara dan diarahkan untuk kebenaran akan semakin cepat proses diplomasi untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Itulah yang dicontohkan oleh KH. Agus Salim. Hebatnya, KH. Agus Salim tetap hidup sederhana dan bersahaja.

Bicara setengah abad lalu, bangsa ini dipenuhi wajah para pahlawan dan rakyat pejuang. Tetapi hari ini di zaman modern wajah pahlawan itu tiada ke permukaan. Hampir semua penguasa umumnya gila jabatan. Bahkan karena sangat gila sampai-sampai tidak mau meninggalkan jabatan. Setidaknya itulah yang bisa kita lihat dari Soeharto sebagai presiden.

Nah, di bulan suci dan di bulan kemerdekaan ini sangat bijaksana jika kita semua meneladani sifat-sifat kepahlawanan para pendiri bangsa. Jangan sampai kita lupa dengan sejarah sendiri. Jika itu yang terjadi maka apa yang bisa dibanggakan lagi dari negeri ini, jika generasi mudanya mengidolakan artis Korea dan Eropa, sementara mereka lupa dengan pahlawan mereka sendiri?.

Selagi masih ada kesempatan, yuk! kita kembali membuka literatur sejarah untuk mengikuti jejak para pendiri bangsa. Rela berkorban demi kemerdekaan. Rela berjuang demi kebahagiaan kita semua. Sadarlah wahai bangsa Indonesia. Tanpa mereka (para pahlawan) dan berkat Allah SWT, kita tidak akan pernah ada.

Persembahan Kaltimtoday.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.