News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Pilih Mana, Berfikir Atau Mati?

Pilih Mana, Berfikir Atau Mati?


KALTIMTODAY -- “SETANN..!!”. Pagi belum beranjak benar ketika seorang ibu tiba-tiba berteriak demikian lalu marah-marah kepada anak laki-lakinya yang masih belia. Si anak yang senang main balap-balapan itu pun tampak ketakutan.

Dan, dicubitlah anak itu, persis di kulit perut bagian pusar. Cukup lama. Anak kecil ingusan itu hanya bisa menangis seraya memekik histeris tak kalah keras dengan teriakan ibunya tadi karena menahan sakit.

Maaf, kata “setan” di sini memang sepertinya terkesan sangat kasar, tapi demikianlah yang terjadi. Sebab, faktanya, meskipun sudah berstatus orangtua, rupanya masih ada sebagian dari kita yang tak dapat berfikir dengan jernih sebelum melakukan sebuah tindakan, lebih lebih kepada anak.

Sepintas mungkin tindakan kasar semacam itu bisa dimaklumi. Apalagi dengan melihat kondisi si ibu yang sudah kelelahan dengan seabrek pekerjaan rumah tangga. Maka wajar saja rasanya jika kemudian sang anak dipeteng sebagai ajang menumpahkan kejengkelan.

Jadi, kenapa ada orang yang penuh marah? Kenapa ada orang bunuh diri? Kenapa ada orang stres?. Persoalan utamanya sebenarnya ada pada akal. Seperti bunyi sebuah iklan, Think Again!. Apakah benar akal kita sudah benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat pula dengan baik membaca dan menyergap tanda-tanda. 

Sebab, sejatinya, setiap apa yang ada adalah tanda-tanda dari Tuhan, dan, beruntunglah orang yang dapat membaca tanda-tanda. Tidak ada logikanya orang yang berfikir memilih menjadi stres apalagi bunuh diri. Maka panda-paindailah membaca tanda-tanda. Musibah, kesenangan, kemelaratan, posisi yang bagus, semua itu adalah tanda-tanda.

Oleh sebab itu, anak yang suka ngeyel, memberontak, beringkah, dan bahkan mungkin berprilaku kasar, tidak melulu harus diselesaikan secara adat. Secara adat di sini maksudnya adalah aksi “mengamputasinya” segera agar ia tak lagi berlaku demikian. Karena, seperti yang mungkin sering kita lihat, ada di antara kita yang sering tidak sabar melihat fenomena seperti ini.

Tak hanya orangtua, mereka yang berstatus pendidik atau guru pun getol melakukan aksi amputir seperti ini tanpa benar-benar sebelumnya mengolah dan memikirkan tanda-tanda yang ada. Setiap fakta, realita, dan problema yang ada adalah tanda dan ada penandanya, termasuk di dalamnya murid yang mungkin dianggap abnormal dalan sikapnya. 

Sehingga demikian, realita dan problema harus diselesaikan dengan proses dialektika yang sehat, senada, serta tak jarang harus menempatkan peran akal dalam posisi yang lebih dominan ketimbang perasaan. Inilah pentingnya berfikir.    

Berfikir itu tidak mudah dan akan terasa berat bagi yang tidak membiasakannya. Sarjana dari Ibn Khaldun University, Abu Adnin, dalam salah satu ungkapannya pernah mengatakan, “Seseorang tidak akan dapat membangun rutinitas berfikir selama tidak menegakkan tradisi baca dan menulis”. 

Selain itu, salah seorang tokoh pemikir klasik bernama Fudhail pernah menyampaikan begini, “Berfikir merupakan cermin untuk melihat apa-apa yang baik dan yang buruk pada dirimu”. Pun demikian dengan Hasan Bashri yang dalam penuturannya pernah berkata, “Berfikir sesaat sungguh lebih mengesankan ketimbang beribadah sepanjang malam”.

Tradisi berfikir memang telah menjadi kebiasaan orang besar di masa lalu. Tokoh filosof Yunani yang masyhur, Plato, berpendapat bahwa manusia memiliki tiga elemen dalam jiwa. Pertama, adalah kemampuan menggunakan bahasa dan berpikir. Kedua, elemen raga atau tubuh dalam bentuk nafsu badaniah, hasrat, dan kebutuhan. Dan, ketiga, elemen rohaniah atau kehendak bisa dilihat dengan adanya emosi seperti kemarahan, sindiran, ambisi, kebanggaan, dan kehormatan. Elemen paling tinggi menurut Plato adalah berpikir (akal) dan yang terendah adalah nafsu badaniah (Lavine, 2003:73-74).

“Tubuh memenjarakan jiwa, oleh karenanya jiwa harus dilepaskan dari tubuh dengan dua macam cara yaitu pertama dengan kematian dan kedua dengan pengetahuan,” begitu Plato pernah berkata menyitir bagaimana mendesaknya membangun tradisi berfikir ini. 

Sahabat kaltimtoday.com yang baik, apakah kita sudah memfungsikan akal kita dengan semestinya. Jika belum, yuk, segera kita bangun tradisi ini dengan menegakkan kebiasaan membaca dan menulis terlebih dahulu. Dengan akal, kita akan menyemai ilmu dan menemukan kebenaran. Bersabar dan senantiasa berfikir, maka tidak ada lagi keragu-raguan.  []


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.