Antara Supermall dan Superman

"KALAU semuanya konglomerat. Pasti tak akan ada pembangunan. Karena kalau semuanya kaya. Lalu siapa yang mau bekerja. Kalau semuanya orang berpangkat. Pasti tak ada pemerintahan. Karena kalau semua atasan. Lalu siapa yang jadi bawahan"

Demikian lirik lagu Perbedaan karya Rhoma Irama. Menarik, tapi mungkin lebih tepatnya mengagetkan. 

Bagaimana tidak, Balikpapan yang sudah memiliki cukup banyak mall masih akan membangun sebuah proyek “super” mall. Ironisnya, lahan yang akan digunakan untuk mall terbaru itu merupakan bekas pusat kajian Islam.

Dengan optimisme yang tinggi Gubernur Kaltim Awang Faroek menyatakan bahwa keberadaan mall akan memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan daerah sekaligus penanggulangan pengangguran. Dikatakan tidak kurang 7000 tenaga kerja akan terserap dalam proses pembangunan mall baru di kota minyak itu.

Mall memang menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban modern. Masyarakat Tenggarong misalnya, agak kurang PD (percaya diri) ketika ada orang dari daerah lain berkunjung ke kotanya kemudian bertanya di mana pusat perbelanjaan berada. 

Selama saya berada di Tenggarong, mall memang belum ada hingga saat ini. Seorang sahabat menyatakan kepada saya, Tenggarong perlu punya mall sendiri, agar perputaran uang di Tenggarong tidak melompat ke Balikpapan dan Samarinda. 

Tetapi bagi saya ketiadaan mall di kota ini justru adalah sebuah kebaikan. Karena pasar tradisional, dan penduduk lokal bisa lebih menumbuhkembangkan usahanya tanpa dibayang-bayangi dominasi industri kapitalisme. Meskipun ide seperti ini cenderung tidak populis.

Ide pengembangan pasar tradisional akan dianggap lucu dan tidak modern. Apalagi secara empiris, pasar tradisional ditinjau dari sisi kontribusi penerimaan pajaknya bagi pemerintah daerah tidak sebesar pasar modern. Selain itu mall lebih menjanjikan, bersih, rapi, tertib dan indah. Dengan fasilitas-fasilitas modern, bagaimanapun orang pasti lebih nyaman berbelanja di mall daripada pasar tradisional yang manual, kotor, kurang teratur, dan panas bahkan becek.

Perbedaan yang mencolok tersebut tentu membuat pemerintah lebih tertarik dengan mall meskipun masih sangat terpaksa harus mempertahankan pasar tradisional. Tetapi jika dikaji secara objektif, pasar tradisional pun bisa sama seperti mall jika pemerintah terlibat aktif dalam pemenuhan fasilitas pasar. Logikanya sederhana, jika swasta mampu membangun pasar modern, mengapa pemerintah tidak?.

Paradigma Pembangunan
James Madison mengatakan; “If men were angels, no government would be necessary”. Artinya, perbedaan pendapat terhadap satu masalah pasti terjadi. Karena mustahil manusia seperti malaikat. Tetapi pernyataan tersebut menurut saya adalah pernyataan yang tidak realistis. 

Analogi jika manusia seperti malaikat adalah utopis. Sangat tepat bila dikatakan, karena manusia memiliki iman, akal, panca indera, dan hati, maka semestinya manusia bisa menyelesaikan setiap permasalahan-permasalahan pokok dalam kehidupan. 

Faktanya sekarang, bangsa Indonesia belum benar-benar memaksimalkan potensi iman, akal, panca indera, dan hatinya untuk membangun bangsa dan negara di atas landasan historisitas, identitas, dan potensi sumber daya alamnya. Berhadapan dengan globalisasi, mayoritas berpikir bahwa jika bangsa ini ingin maju, harus mengadopsi apa yang dilakukan oleh negara-negara maju.

Akhirnya, sekalipun tidak semua elemen bangsa sepakat dengan pandangan seperti itu, karena gelombang globalisasi menerpa terus-menerus, bangsa ini pun mulai secara liar mengadopsi paradigma pembangunan modern dengan basis pemahaman kapitalisme. Sebuah paradigma pembangunan yang ekonomistik yang cenderung destruktif bagi aspek kehidupan lainnya.

Langkah semacam ini menjadikan paradigma pembangunan kaum elit sama dengan paradigma pembangunan kapitalisme. Sepintas mungkin menjanjikan keuntungan dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap untuk mendirikan pusat perbelanjaan. Tetapi lambat laun, keuntungan sepintas itu tidak berbanding dengan resiko yang akan diterima dalam beberapa tahun kemudian.

Dari sisi mental, masyarakat akan semakin menjadi konsumtif, pasif, dan reaktif. Sementara itu, secara horizontal juga akan mengundang kecemburuan sosial karena tidak semua masyarakat bisa berbelanja di pasar modern. 

Di sisi lain, produk lokal biasanya akan gulung tikar karena kalah bersaing, dan para pengusaha kecil yang berada di sekitar pasar modern pun secara perlahan namun pasti akan tutup usaha. Pengangguran pun akan terjadi dan terus bertambah. Inilah paradigma pembangunan yang memprioritaskan kaum elit dan menegasikan rakyat bawah. 

Situasi dan kondisi seperti itu disebut oleh Karl Marx sebagai alienasi. Yaitu situasi dan kondisi yang menampilkan adanya kehilangan diri (self) yang dijelaskannya dalam Economic and Philosphical Manuscripes, 1844.

Adalah merupakan fakta bahwa kerja bersifat eksternal bagi buruh. Artinya, kerja bukan milik dirinya yang paling berharga sebagai manusia. Oleh sebab itu, dia tidak mampu menyatakan diri dalam kerja, tetapi justru menyangkal keberadaan dirinya sendiri, merasa sedih dan tidak bahagia, tidak mengembangkan mental dan energi yang bebas, namun justru mematikan tubuh dan menghancurkan pikirannya (lihat Sociology The Key Concepts, editor John Scott).

Faktanya memang tidak jauh, hingga saat ini, nasib buruh memang belum terperhatikan secara layak. Inilah alasan kuat mengapa Karl Marx bersusah payah membangun teori evolusi, komunisme, dan revolusi demi terwujudnya masyarakat tanpa kelas; sama rata, sama rasa. Sebuah upaya ekstrem yang menurut kaum liberalis sebagai tujuan yang utopis dan menurut saya cenderung destruktif.

Bangun Kesejahteraan
Namun demikian harus dipahami bahwa dunia ini faktanya paradok; ada terang ada gelap, ada panas ada dingin, ada kemarau ada hujan. 

Pembangunan mall tidak mutlak merugikan, namun juga tidak mutlak menguntungkan. Disinilah tugas pihak terkait, stakeholder di Kaltim, dan pihak yang disebut oleh Gaetano Mosca sebagai kaum elit, harus bekerja secara serius untuk menghindari terjadinya pengulangan goncangan psikologi sosial yang tidak perlu seperti terjadi di Eropa masa silam sebagai akibat dari penerapan paradigma pembangunan yang tidak humanis dan tidak realistis meskipun sangat menjanjikan secara ekonomi.

Pandangan pembangunan yang ekonomistik mengharuskan industrialisme. Sementara itu, sejak lama Emile Durkheim memberikan peringatan penting yang sangat menakutkan terkait dengan industrialisme modern yang faktanya lebih berpotensi menghasilkan patologis keinginan konsumen yang tamak dan merusak tatanan dasar moral sosial. 

Bahkan sejatinya industrialisme juga mengancam tradisi, budaya, identitas, falsafah negara sekaligus kedaulatannya. Hal ini terbukti dari penambangan sumber daya alam di Indonesia. Tambang emas, batu bara, minyak bumi ada di bumi pertiwi, tetapi negara (baca: rakyat) tidak menjadi pihak yang menentukan malah cenderung selalu dikendalikan asing.

Tetapi, kita tidak perlu reaktif untuk terburu-buru melakukan generalisir bahwa industri itu tidak baik, seperti yang telah dilakukan oleh Karl Marx. Industri dalam kehidupan manusia tetap diperlukan, tetapi jangan bersifiat ekonomistik yang mengabaikan aspek kehidupan lainnya yang tidak boleh hilang dalam perjalanan hidup manusia itu sendiri; agama, budaya, identitas, sejarah, termasuk ideologi.

Mall Khas Kaltim
Ide kreatif itu sangat penting dan mendesak di era globalisasi ini. Terutama untuk tidak tertinggal dengan konsep pembangunan modern. Kreatif di sini adalah melakukan adapsi konsep pembangunan ekonomi yang secara sekaligus juga memberdayakan sumber daya di Kalimantan Timur sendiri. 

Misalnya, Kaltim mencanangkan proyek pembangunan mall murni hasil pertanian Kaltim. Mulai dari padi gunung, sayuran, buah, ikan, amplang, dan berbagai jenis komoditi lainnya yang sepenuhnya murni hasil bumi Kaltim. Proyek semacam ini akan menjadikan masyarakat Kaltim lebih berdaya, atau dalam bahasa saya, menjadi Superman!. Luar biasa, bukan?.

Tentu dengan begini akan sangat membanggakan. Pemprov Kaltim dapat dinobat telah terbukti bertanggung jawab, pelaku pertanian juga terlayani, dan masyarakat akan bangga dengan daerahnya. 

Tapi kalau kemudian membangun mall di Kaltim sama dengan mall di Jakarta dan Surabaya yang menyediakan hasil industri modern di mana umumnya masyarakat tidak terlibat dan menikmati hasilnya, maka saya rasa tidak perlu ada mall di Kaltim. 

Sebab, itu sama saja dengan menerbangkan dana yang mestinya berputar di Kaltim ke daerah lain yang notabene tidak berdampak signifikan bagi pembangunan Kaltim. Prinsipnya sederhana, silakan bangun apa saja, demi kesejahteraan masyarakat seutuhnya bukan industrialisme yang didominasi sebagian besar kaum elit.

Jika dikembalikan pada lagu Perbedaan-nya Rhoma Irama kita bisa katakan, kalau semua kebutuhan hidup disediakan oleh mall lalu ke mana nasib pasar tradisional? Kalau semua konsep pembangunan harus ekonomistik, lalu ke mana akal dan pikiran manusia?.


*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel