Apakah Tuhan Telat Mati?

KALTIMTODAY -- BAGAIMANA seandainya jika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa Tuhan telah mati. Hal ini tentu tidak masuk akal dan keliru. Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Hidup, kekal dan abadi, yang menciptakan manusia dan alam semesta, malah dianggap telah mati.

Berbeda halnya dengan filsuf Barat yang satu ini. Dengan rangkaian karier keilmuan yang telah ditempuh, mengantarkannya sampai pada satu gagasan pemikiran yang ekstrim; memproklamirkan bahwa tuhan telah mati (god is tott—bahasa Jerman).

“Tuhan telah mati, dan kita telah membunuhnya”, begitulah pernyataannya yang sangat populer. Siapakah gerangan manusia lancang itu? Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche, filsuf besar akhir abad modern, yang oleh James Garvey dalam bukunya 20 Karya Filsafat Terbesar, disebut idenya berbahaya dan menjadi salah satu sebab munculnya pandangan Nasionalis Sosialis Hitler.

Laki-laki yang masa kecilnya berperangai halus dari sebuah keluarga Protestan Lutheran ini lahir pada tanggal 15 Oktober 1844 di Roecken wilayah Sachsen, Jerman. Karena ayahnya adalah seorang pastor Lutheran, maka tak heran jika teman-temannya di sekolah menjulukinya “Si Pastor Kecil”, walaupun sebenarnya Nietzsche membenci agama leluhurnya tersebut (Kristen).

Dalam buku Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (dari Machiavelli sampai Nietzsche), F. Budi Hardiman menegaskan, Nietzsche termasyhur sebagai seorang yang paling sengit mengoyak-ngoyak segala sesuatu yang dinilai suci dan luhur dalam agama Kristen dan kebudayaan Barat. Bahkan, ketika beranjak dewasa, penulis Also Sprach Zarathustra (Demikianlah Sabda Zarathustra), Der Antichrist (Antikristus), dan Ecce Homo (Itulah Manusia) ini telah mejadi ateis.

Lantas pertanyaannya, Tuhan siapa yang dianggap mati oleh Nietzsche ini? Apakah tuhannya orang Islam, yaitu Allah, dan tentunya hal ini pasti mustahil. Ataukah, hanya pergolakan pemikiran ateismenya yang menafikan tuhan karena truma dengan sejarah kelam keagaaman Kristen pada zaman kegelapan (The Dark Ages).

Dengan merujuk kajian literatur filsafat dan pemikiran, sepertinya analisis yang kedua di atas ini ada benarnya. Yang dianggap mati adalah konsep Tuhan yang ada pada Kristen-Gereja. Nietzsche menyatakan, dengan sebab “kematian tuhan” terbukalah horizon seluas-luasnya bagi segala energi kreatif untuk berkembang penuh.

Artinya, tidak ada lagi larangan dan perintah, dan kita tidak lagi menoleh ke dunia transenden. Ini adalah zaman kreativitas dan kemerdekaan. Merdeka dari belenggu hegemoni Gereja. Ide tuhan dalam agama Kristen, bagi Nietzsche, adalah memusuhi dan memerangi kehidupan dan alam. Agama Kristen hanyalah vampirisme.

Luar biasa pemberontakan pemikiran yang dilontarkan Nietzsche di atas. Ternyata, “teriakan” kematian tuhannya itu ditujukan kepada Kristen-Barat yang punya sejarah kelam keagamaan. Tapi, bagi seorang Muslim, tentu ia akan bersyukur dengan keislamannya tersebut dan tidak perlu meniru Nietzsche untuk melawan agamanya hingga menjadi sekular  dan liberal, apalagi tidak bertuhan (ateis).

Di akhir hayatnya, filsuf yang terkenal dengan logika aforisme-aforisme ini bernasib kurang menggembirakan. Karena ketegangan mental dan semangat yang menggebu-gebu untuk menyanjung dirinya, akhirnya pada bulan Januari 1889, Nietzsche menjadi gila.

Filsuf yang juga populer dengan kritik moralitasnya ini (Genealogi Moral), menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 25 Agustus 1900 di Weimar.

 
(Azhari, penulis adalah blogger asal Kaltim, kandidat master Studi Pemikiran di Universitas Ibn Khaldun Bogor).

Ilustrasi: NewClearVision.com


========
KONTRIBUSI ANDA: Anda warga Kaltim? Punya gagasan seputar isu-isu aktual masalah sosial kemasyarakatan, nasional, politik , agama, dan lain-lain? Jangan hanya disimpan di kepala. Berbagilah dengan yang lain, kirimkan ide Anda ke [email protected] Panjang naskah 1 halaman A4 kuarto.  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel