News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Bagaimana Matematika Berkembang?

Bagaimana Matematika Berkembang?


KALTIMTODAY -- SIAPA yang tidak kenal dengan matematika, pelajaran yang banyak dijauhi oleh para pelajar karena membutuhkan keteltian berpikir sekaligus kecerdasan menghitung. 

Ketika salah metode dan rumusnya pasti jawabannya akan salah. Itulah matematika, pasti dan bisa dinalar logika.

Konon, sejak zaman Yunani, matematika telah dipelajari oleh para penyembah dewa itu. Tetapi perkembangan matematika menjadi begitu terasa dalam kehidupan manusia ketika peradaban Islam mulai mewarnai dunia.

Husain Heriyanto dalam bukunya “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” menegaskan bahwa perhatian sarjana Muslim terhadap matematika bisa dikatakan sangat istimewa.

Hampir semua sarjana Muslim dari berbagai jenis disiplin ilmu memiliki penguasaan dan apresiasi yang amat tinggi terhadap matematika. Para filsuf dan teolog seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Nashirudin al-Thusi dan Ibn Khaldun semuanya memiliki karya ilmiah di bidang matematika.

Dari para astronom dan fisikawan muncul nama al-Battani, al-Farghani, al-Biruni, al-Haitsam, al-Thusi, Qutb al-Din al-Syirazi, Ibn al-Syathir, Ulugh Beg yang terkenal dengan kemahirannya dalam matematika, yang merupakan ilmu alat untuk menguasai astronomi dan fisika.

Bahkan di antaranya, seperti al-Battani dan al-Biruni, berhasil memberikan kontribusi besar pada matematika dengan mempersembahkan beberapa penemuan teorema di bidang geometri dan trigonometri.

Seyyed Hossein Nasr (1968) dan K. Ajram (1992) menyebutkan beberapa matematikawan besar Muslim, yaitu al-Khawarizmi, Umar Khayyam, Abu al-Wafa’.

Sayangnya, kontribusi besar matematikawan Muslim yang direkam sejarah masih enggan diakui oleh para sarjana Barat. Padahal sarjana Muslim tetap menyebutkan secara eksplisit sumbangan dan pengaruh sejumlah tradisi peradaban pra-Islam. 

Seyyed Hossein Nasr menyebtukan bahwa matematikawan Muslim belajar dari karya-karya Yunani, Persia, India; yang pada gilirannya sarjana Muslim mampu mengembangkannya dan menemukan cabang-cabang matematika baru seperti aljabar, trigonometri, dan geometri alaitis.

Satu di antara sarjana Muslim yang berkontribusi besar bagi matematika adalah al-Khawarizmi. Gandz dalam bukunya The Source of al-Khawarizmi’s Algebra, mengatakan bahwa, ia dinobatkan sebagai Bapak Aljabar karena dia adalah matematikawan pertama yang mengajarkan Aljabar dalam bentuknya yang elementer serta penerapan yang berkaitan dengannya.

Dengan bukunya al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Buku Kesimpulan Proses Kalkulasi untuk Paksaan dan Persamaan), disingkat dengan al-Jabar wa al-Muqabalah (Aljabar dan Persamaan), Al-Khawarizmi berhasil menjadi pelopor perubahan konsep matematika Yunani kuno tentang sebuah semesta yang statis ke suatu konsep dinamis yang baru, yang merupakan titik pijak perkembangan Aljabar modern dan kalkulus.

Bahkan, buku-buku karya Al-Khawarizmi digunakan sebagai teks standar di berbagai pengajaran matematika di berbagai universitas Eropa selama 400 tahun. Sayangnya, kini masih banyak di antara kita yang belum antusias dalam belajar matematika. Kira-kira kenapa, ya?.


FOTO: Ilustrasi/cam.ac.uk

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.