Beginilah Manusia Dijajah Materialisme!

KALTIMTODAY -- Manusia sejatinya adalah makhluk merdeka. Ia punya alat, perangkat dan metode untuk memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sekaligus tidak membahayakan orang lain. Fitrahnya, manusia akan senang dan antusias dengan kebenaran.

Tetapi, semua akan berubah tatkala manusia tidak benar-benar mengoptimalkan kemampuan alat yang dimiliki berupa indera, perangkat yang ada berupa rasio dan hati, serta metode yang seharusnya, mengutamakan kebenaran dan berpegang teguh di atasnya, manakala manusia terjebak pada materialisme.

Mengapa seorang professor atau guru besar di kampus ternama justru bertindak jahat ketika menjadi seorang pejabat? Tiada lain karena jiwa, akal dan hatinya telah tunduk pada kepentingan materi.

Jika ditelusuri berdasarkan fungsi dasar penciptaan manusia, maka segala bentuk perilaku manusia yang mengarah pada kerusakan, tiada lain karena pembunuhan terhadap potensi akal dan hati nurani. Pakar hukum yang melanggar hukum adalah contoh manusia yang telah kehilangan akal dan hati nuraninya.

Tidak saja mereka yang elit yang biasa mengalami gangguan seperti itu. Kalangan biasa, bahkan pelajar pun tidak bisa lepas dari keterjajahan materialisme. Lihat saja perilaku pelajar di tanah air. Mayoritas, di mana ada kesempatan, bahkan di dalam kelas sekalipun, mereka asyik otak-atik alat komunikasi.

Bahkan tidak jarang yang ke sekolah hanya untuk bertemu pacar. Berangkat berboncengan, pulang bermesraan. Itulah yang dilaluinya hampir setiap saat selama menyandang status pelajar. Baginya, bersenang-senang adalah dunianya. Akibatnya mereka menjadi pendusta. Berseragam tetapi tidak belajar, membawa tas tetapi tidak membawa ilmu.

Ya, materialisme memang menjangkiti hampir semua kalangan dan usia di dunia ini, termasuk di Indonesia. Semua ingin memuaskan keinginan syahwatnya terhadap materi. Manusia-manusia seperti itu tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka hidup dalam keterjajahan, bukan karena manusia yang menjajah, tetapi karena akal sehatnya tunduk pada hawa nafsu.

Padahal cinta materi sendiri terbukti merusak jika tidak terkendali. Menarik apa yang ditulis oleh Bryan S. Turner, dalam bukunya, Religion and Social Theory. Bahwa konsumsi manusia terhadap materi harus dibatasi. Hal ini telah lama eksis dalam ajaran agama, tetapi tidak pada materialisme.

Materialisme, baru menyadari perlunya pengendalian konsumsi tatkala manusia banyak mengalami obesitas, penyakit yang aneh, dan gangguan kesehatan yang serius karena konsumsi yang tidak terkendali, hingga akhirnya muncullah konsep diet.

Diet sangat populer di abad 17 dan 18. Hal itu didasarkan pada suatu premis bahwa setiap manusia harus memelihara tubunya. Penyalahgunaan tubuh, untuk dimakan umpamanya, sama dengan bunuh diri, demikian tutur Turner.

Kebiasaan diet akhirnya meluas ke kalangan aristokrat yang kaya raya yang cenderung taat dan sangat perhatian pada sikap diet yang cocok, adalah gambaran bahwa ajaran agama ternyata lebih rasional dari pada imajinasi kaum materialis.

Pantas jika kemudian George Cheyne mengatakan begini, “Orang-orang kaya, para pemalas, orang yang bermewah-mewah, dan orang yang tidak aktif, mereka yang hanya ongkang-ongkang kaki dan hidup santai, mereka yang dimanjakan kedudukan, persediaan makanan yang melimpah dan anggur-anggur yang enak, akan sangat mudah tergoda Hasrat, Indera, dan Hawa Nafsu dalam bentuk yang sangat menyakitkan”.

Maka dari itu, bangkitlah dan jadilah manusia merdeka. Manusia yang rasional dan sehat jiwa dan raganya. Tidak tunduk kepada apapun kecuali aturan Tuhan (Kebenaran).

Persembahan Kaltimtoday.com
Foto: Ilustrasi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel