News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Beli Pulsa Setiap Waktu, Buku Nanti Dulu!

Beli Pulsa Setiap Waktu, Buku Nanti Dulu!


KALTIMTODAY -- BUKU adalah jendela dunia. Membaca buku berarti menjelajahi dunia. Itulah mengapa, para ahli selalu menganjurkan agar sejak dini anak diperkenalkan pada buku. Dan, memang terbukti bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca buku.

Orang Yunani Kuno mengatakan Verba volant scripta manent, “Ucapan akan hilang tulisan tetap abadi”. Jadi membaca buku mengajak kita untuk mengerti dunia secara gamblang dan utuh. Bahkan peradaban yang eksis hingga hari ini adalah peradaban yang selalu cinta buku.

Wajar jika kemudian muncul ungkapan sederhana namun jelas dan tegas. “Sulit membangun peradaban, tanpa budaya tulis dan baca.”  demikian ungkap penyair Inggris, TS Eliot (1888-1965).

Buku, tak satu pun manusia asing dengan benda itu. Sayangnya, sekalipun semua orang mengerti akan manfaat buku, tidak banyak orang yang mau membeli buku. Berbicara mengenai masalah ini kita tidak perlu data perpustakaan, cukup dengan memperhatikan budaya masyarakat.

Jangankan mereka yang sudah memiliki banyak anak dan pekerjaan, kalangan siswa bahkan mahasiswa saja masih banyak yang ogah berakrab ria dengan buku. Ada banyak pertimbangan ketika hendak membeli buku. Mulai dari harganya yang mahal, kurang minat, hingga alasan masih ada keperluan lainnya.

Tetapi, berbeda ketika berbicara tamasya, jalan-jalan, atau yang paling sering terjadi di sekitar kita, membeli pulsa. Ya, untuk urusan pulsa, nampaknya generasi muda adalah kelompok yang paling boros dengan penggunaan yang boleh jadi mayoritas kurang terarah.

Tidak sedikit anak-anak muda yang bangun tengah malam hanya untuk bertelpon ria dengan lawan jenisnya. Bahkan ada yang hampir setiap saat, handphone tidak pernah renggang dari telinganya. Ooh, ternyata dia sedang bertelpon ria. Jika pulsa sekarat, biasanya dia akan minta orang tua untuk kirim pulsa, bahkan ada yang berani meminjam uang untuk beli pulsa.

Begitu berhadapan dengan buku, mereka seperti sangat benci dengan ilmu. Padahal, logika mereka menerima bahwa buku adalah satu jendela ilmu yang paling berharga. Tetapi karena kebiasaan salah mengatur hidup, barang yang berharga pun enggan untuk dimilikinya, padahal jika mau berusaha, setiap orang,  sangat mungkin bisa memilikinya.

Lalu, kenapa bangsa Indonesia, terutama mayoritas generasi mudanya masih tidak gemar membeli apaagi membaca buku? Padahal, bangsa-bangsa terdepan di dunia hari ini, maupun peradaban yang masih eksis hingga hari ini, dikarenakan mereka memiliki tradisi membaca buku yang mengagumkan.

Dr. Abdullah Sahab, seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), pernah menyatakan dalam sebuah kesempatan diskusi ilmiah bahwa, Barat bisa menjadi negara maju karena generasi mudanya mampu belajar selama 8 jam di luar jam formal. Dan, mereka mengabaikan apa saja yang menyenangkan dirinya jika sudah tiba saatnya belajar.

Jika dalam pembelajaran ada buku yang harus dibeli, maka mereka bekerja keras agar segera mendapatkan buku yang diperlukan itu. Bahkan mereka rela bekerja lebih berat asalkan dapat membeli buku untuk belajarnya di kampus. 

Sayangnya generasi muda Indonesia saat ini, lebih suka belanja hura-hura daripada belanja produktif. Membeli buku adalah belanja produktif dan merupakan investasi masa depan yang paling baik. Jika bangsa ini ingin maju, maka generasi mudanya harus gemar membaca buku, dan suka membeli buku.

Pepatah mengatakan, buku memang tidak dibuat untuk dijadikan perabot rumah, tetapi tidak ada benda lain yang lebih bagus menghiasi rumah ketimbang buku. Demikian ungkap Henry W. Beecher. 

Nah, kalau begitu, yuk! Mulai sekarang kita biasakan diri untuk selalu membeli buku dan membacanya. Minimal satu dalam sebulan.


Foto: Ilustrasi/Tqn.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.