News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Biasnya Desakan Kesetaraan Gender

Biasnya Desakan Kesetaraan Gender

KALTIMTODAY -- Perempuan dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia. Dihormati, dihargai, dan dijaga harkat dan martabatnya. Nilai-nilai ajaran yang terkandung di dalamnya tidak sedikitpun yang berimplikasi pada tindak diskriminatif jika diketahui hikmah di balik syariat tersebut.

Tapi, oleh para pengusung paham feminisme atau kesetaraan gender (gender equality), hukum syariat yang sudah mapan itu hendak dirombak (dekonstruksi), karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakat sekarang.

Misalnya saja, dalam pembagian waris, kaum perempuan sudah mampu mencari nafkah sendiri, mengapa laki-laki mesti mendapat lebih banyak, begitu kilahnya.

Ataukah dalam pernikahan, kalau laki-laki bisa menikahkan dirinya sendiri, mengapa perempuan dilarang, dan mesti izin walinya. Kalau laki-laki dapat menikahi perempuan ahli kitab, mengapa sebaliknya, perempuan diharamkan menikah dengan orang non-Muslim.

Ya, begitulah logika berpikir kaum liberal, yang sebenarnya banyak dipengaruhi oleh tradisi keilmuan Barat.

Dalam tulisan singkat ini, penulis tidak akan memaparkan kekeliruan-kekeliruan mereka kemudian mengkritisinya. Tapi, hanya mengajak kepada para pembaca semua melihat dan membandingkan bagaimana peradaban-peradaban sebelum Islam memperlakukan kaum Hawa, yang dari sejarah tersebut melatarbelakangi munculnya paham kesetaraan gender (feminisme).

Membaca sejarah kehidupan kaum perempuan di masa lampau, sepertinya kita sepakat bahwa keberadaan mereka membawa cerita duka. Hal ini ditegaskan Anna Mariana dalam bukunya, Ketika Allah SWT Lebih Menyayangi Wanita. Bahwa, dari keluar rahim, hingga akhir hidupnya, tidak mengenal kata “hak” bagi mereka.

Dalam masa peradaban tinggi sekalipun yang dilakukan oleh kaum laki-laki, ternyata kehadiran wanita tidak lebih sebagai benda mati yang tidak berharga. Untuk dapat sejajar dalam rumah tangga pun hanya sebatas impian.

Mari kita tengok sejarah banga-bangsa besar yang menguasai sebagian besar wilayah bumi, seperti bangsa Yunani, Romawi, Mesir Kuno, dan tidak terkecuali bangsa Arab. Bangsa Arab yang masih memiliki sejarah keturunan dari para penyampai risalah Tuhan terdahulu pun, tidak luput dari kisah kelam dalam memandang kaum wanita. (Anna Mariana, 2011: 2).

Mari kita lihat satu persatu!

Pandangan Bangsa Yunani
Kaum perempuan bangsa Yunani bagaikan hidup di dalam penjara. Mereka yang berasal dari kalangan bangsawan disekap di dalam istana-istana, sedangkan yang dari kalangan bawah yang sudah berkeluarga berada dalam sekapan para suami. Sisanya lebih menyedihkan lagi. Mereka diperjualbelikan bagaikan benda mati.

Pada masa itu, perempuan tidak mengenal hak-hak untuk dapat hidup layak sebagai perempuan terhormat. Hingga pada puncak peradaban, keadaan mereka tidak menjadi lebih baik. Walaupun mereka mendapatkan kebebasan, tetapi sesungguhnya mereka hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu laki-laki. (Inayati Ashriyah, Ibadah Ringan Berpahala Besar untuk Wanita, 2012: 48).

Pandangan Bangsa Romawi
Kondisi kaum wanita bangsa Romawi di masa lampau sungguh mengenaskan. Layaknya sebuah piala bergilir, penguasaan atas mereka dimulai dari ayah mereka dan kemudian dialihkan kepada para suami. Sebagai penguasa, para lelaki berhak untuk menjual, mengusir, menganiaya, bahkan membunuh mereka. Kalaupun hidup, mereka tampil sebagai obyek kemesuman.

Panggung teater pada masa itu diramaikan oleh kontes wanita telanjang. Kebiasaan mandi bersama pun menjadi aktifitas rutin yang dapat disaksikan oleh banyak orang. Kondisi tersebut berlangsung terus hingga abad ke-6. (Nur Faizin Muhith, Perempuan: Ditindas atau Dimuliakan, 2010: 5-6).

Pandangan Masyarakat Persia
Persia dikenal mempunyai otoritas dalam menentukan perundang-undangan dan sistem sosial di negeri jajahannya. Namun sayang sekali, hukum yang berlaku terasa berat sebelah dan zalim karena menindas hak-hak wanita. Jika wanita melakukan kesalahan, hukumannya bisa sangat berat dibandingkan dengan hukuman yang diberlakukan kepada laki-laki yang memiliki kebebasan.

Para lelaki Persia bebas melakukan apapun yang mereka kehendaki, sehingga hidup mereka layaknya sang raja yang senantiasa dilayani dan bebas melakukan kehendaknya. Sedangkan para wanitanya terbelenggu, apalagi mereka dalam kondisi haid. Mereka diisolasi di tempat yang jauh dan sulit dijangkau oleh orang-orang. dengan begitu, para perempuan tidak mendapatkan haknya untuk bersosialisasi dengan orang-orang. (Inayati Ashriyah, 2012: 49).

Pandangan Masyarakat Cina
Dalam masyarakat Cina zaman dahulu, kaum perempuan sama sekali tidak memiliki peranan dalam menentukan arah peradaban. Hanya laki-lakilah yang berkuasa untuk melakukan segalanya, termasuk dalam hal menguasai harta warisan.

Masyarakat Cina menganggap perempuan sebagai makhluk yang rendah yang dapat merusak kebahagiaan dan sumber kemiskinan. Banyak anak yang tidak menganal siapa ayahnya karena gaya hidup mereka yang jauh dari norma dan etika. Mereka bebas berpasangan dengan siapa pun tanpa aturan dan rasa malu.

Petuah sejaran Cina Kuno mengatakan bahwa racun, ular, dan api tidak lebih jahat daripada perempuan. Dan, sebuah petuah Cina diajarkan bahwa siapa pun boleh mendengarkan pembicaraan perempuan, tetapi jangan sekali-kali mempercayai kebenarannya. 

Hak hidup seorang wanita bersuami harus berakhir ketika suaminya meninggal dunia. Ia ikut dibakar hidup menemani jenazah suaminya. Kondisi demikian berlangsung hingga abad ke-17 Masehi. (Inayati Ashriyah, 2012: 50).

Pandangan Masyarakat India
Tidak berbeda jauh dengan masyarakat Cina, masyarakat India pun memiliki pandangan yang menghinakan kaum perempuan. Tidak ada hak apa pun yang diberikan kepadanya karena mereka hanya dianggap sebagai sumber dosa, kerusakan akhlak, dan pangkal kehancuran jiwa.

Jika sang suami meninggal, sang istri harus ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah suaminya. Perempuan dianggap sebagai budak dan laki-laki adalah tuannya. (Inayati Ashriyah, 2012: 50).

Pandangan Bangsa Yahudi
Ajaran Yahudi menganggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah penyebab Adam diusir dari surga. Kondisinya memang tidak lebih baik dari peradaban Yunani, Romawi, dan Cina. Dia dianggap sebagai pembantu dan pelayan.

Jika dia tidak memiliki saudara laki-laki, sang ayah berhak menjualnya. Lagi-lagi perempuan dianggap barang yang tidak berharga. Dia benar-benar dihinakan. (Inayati Ashriyah, 2012: 50).

Pandangan Nasrani
Dalam pandangan para pemuka agama nasrani, perempuan dianggap sebagai senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Bahkan hasil pertemuan yang membahas apakah perempuan punya ruh atau tidak, jawabannya sungguh mengejutkan bahwa wanita tidak mempunyai ruh yang suci.

Pada abad ke-6 Masehi kembali diselenggarakan pertemuan yang membahas apakah perempuan dianggap manusia atau bukan. Keputusan terakhir disimpulkan bahwa ia diciptakan sebagai manusia semata-mata hanya untuk melayani laki-laki. Dengan anggapan seperti itu, perempuan berada pada fase menghinakan.

Umat Nasrani di masa lampau mempunyai pandangan bahwa hubungan seksual di antara laki-laki dan wanita termasuk perbuatan kotor yang harus dijauhi walaupun dilakukan dengan cara yang benar, yaitu melalui pernikahan yang sah. Orang yang membujang menunjukkan ketinggian akhlak. Oleh karena itu tidak mengherankan banyak yang memutuskan untuk membujang seumur hidup. (Inayati Ashriyah, 2012: 51).

Pandangan Masyarakat Arab Jahiliah
Sekali lagi, wanita benar-benar dihinakan. Ia tidak lagi memiliki hak apa pun. Ketika sang suami mengirimkan istrinya kepada laki-laki lain untuk mendapatkan bibit unggul, tidak dibenarkan sang istri menolaknya. Jika ia ditinggal suaminya, ia layaknya benda yang dapat diwariskan kepada anak laki-lakinya untuk dinikahi tanpa mahar.

Masyarakat Arab jahiliah memiliki tradisi yang sadis. Anak perempuan yang lahir dari seorang perempuan dianggap sebagai malapetaka besar. Oleh karenaya sang bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Perilaku seperti ini pantas disebut sebagai puncak kekerasan hati, kasarnya perangai, dan puncak kekejaman. (Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam, 2009: 9).

Jadi, nampak jelas bagaimana perlakuan peradaban dahulu sebelum Islam terhadap perempuan. Tanya diri kita kemudian kaum feminis, apakah di dalam Islam, perempuan diperlakukan seperti itu? Justru sebaliknya, Islam datang untuk menghapus itu semua dan memuliakan kedudukan perempuan.

Belum lagi jika membaca bagaimana perempuan pada masa hegemoni Gereja pada abad pertengahan dengan mahkamah inquisisinya. Sungguh mengenaskan nasib mereka. Kondisi inilah kemudian yang melatarbelakangi perempuan di luar Islam menuntut persamaan, hak-hak kemanusiaannya, dan kebebasan (liberal).

Lantas, mengapa hal itu hendak diterapkan di dalam Islam yang ajarannya telah mapan dan sempurna. Ironisnya, ajaran tersebut dianggap bentuk penindasan baginya (diskriminasi). Wallahu a’lam.

 
(Azhari, penulis adalah blogger asal Kaltim, kandidat master Studi Pemikiran di Universitas Ibn Khaldun Bogor).

Ilustrasi: HowStuffWorks.com

========
KONTRIBUSI ANDA: Anda warga Kaltim? Punya gagasan seputar isu-isu aktual masalah sosial kemasyarakatan, nasional, politik , agama, dan lain-lain? Jangan hanya disimpan di kepala. Berbagilah dengan yang lain, kirimkan ide Anda ke [email protected]. Panjang naskah 1 halaman A4 kuarto.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.