News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Dia Selalu Bangun Kesiangan

Dia Selalu Bangun Kesiangan

KALTIMTODAY -- Penghargaan atau apresiasi seorang guru yang diberikan terhadap anak didiknya umumnya identik dengan keistimewaan-keistimewaan positif dalam perkembangan mental kepribadiannya. 

Tapi, apa jadinya jika penghargaan tersebut, yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai tindakan negatif dan mematikan kreatifitas? Ya, demikianlah yang terjadi pada keistimewaan yang diberikan pada diri filsuf ini. 

Anak belia ini, karena kecerdasan otak yang dimilikinya, membuatnya sangat dikagumi dan mendapat hak keistimewaan untuk bangun terlambat di pagi hari. 

Sepertinya para Yesuit (guru-guru pendidik dalam Gereja Katolik) memaklumi bahwa anak yang berotak encer ini sering menemukan gagasan briliannya selagi di atas ranjang. Bahkan konon, sampai usia tua ia masih meneruskan kebiasaan “negatifnya” tersebut untuk terlambat bangun pagi.

Rene Descartes (1596-1650). Itulah nama filsuf yang mendapat keistimewaan unik tersebut. Ia sangat masyhur di kalangan ilmuwan sebagai Bapak Filsafat Modern. Lahir dengan setting sosial-historis pergolakan pemikiran antara saintis (scientific) dengan hegemoni Gereja. Fase awal zaman modernitas di Barat.

Descartes lahir di kalangan borjuis yang sedang mekar saat itu, di kota La Haye, wilayah Touriane, Prancis. Ayahnya adalah seorang pengacara yang aktif berpolitik, sedangkan ibunya meninggal saat kelahirannya. 

Singkat kisah, kesehatan Descartes pun memburuk. Seumur hidupnya, ia kerap diganggu sakit batuk yang tak kunjung sembuh, sementara ia sendiri enggan berurusan dengan dokter. (Lihat: F. Budi Hardiman: 2011: 30).

Salah satu ungkapannya yang sangat populer adalah "Cogito ergo Sum". Bagi yang pernah menggeluti filsafat, ungkapan latin tersebut tentu sudah tak asing lagi. "Aku berpikir maka aku ada". 

Demikianlah artinya, yang menggambarkan peran vital rasio dalam menetukan eksistensi kewujudan dalam segala hal, termasuk Tuhan, yang diolah dalam bentuk kesadaran-kesadaran diri manusia.

Dalam pandangan Descartes, sesuatu itu dianggap "ada" kalau merasuki entitas pikiran manusia dalam keadaan yang sadar, yang berarti ia ada kalau dipikirkan. Jadi, yang ada hanyalah di pikiran kita.

Logika berpikir inilah yang mendasari munculnya "Le doute Methodique", metode kesangsian atau keraguan. Untuk menentukan titik kepastian, hendaknya diawali dengan sebuah keraguan dulu terhadapnya. Semakin kita menyangsikan segala sesuatu, termasuk menyangsikan bahwa kita tidak dapat menyangsikan, semakin mengokohkan adanya kita (exist). Justru kesangsianlah yang membuktikan pada diri kita bahwa kita ini nyata.

Bagi penulis Discours de la Methode (1637) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641), yang dengan karya itu mempengaruhi gerak zaman modern, menyangsikan atau ragu  adalah berpikir, maka kepastian akan eksistensi seseorang  dicapai dengan berpikir. Itulah makna ungkapan "Cogito ergo Sum"; Aku berpikir maka aku ada. 

Sehingga, menurut Descartes, wahyu atau ilham yang didapat dari metode intuisi, kebenarannya mesti diragukan karena tidak melalui metode yang rasional, yaitu berpikir.

Demikianlah pemahaman pencetus aliran rasionalisme ini. Rasio dan berpikir, menurutnya, adalah segala-galanya dengan mengabaikan metode lain yang dianggap bertentangan. Ia juga menegaskan sistem keraguan dalam prinsip keilmuan. Ia berpandangan, sebelum melihat segala hal, seseorang mesti ragu dulu.

Dalam pandangan alam Islam (Islamic Worldview), akal dan rasio memang dihargai, tapi tidak lantas didahulukan di atas segalanya. Masih ada sumber-sumber kebenaran lain yang lebih otoritatif seperti wahyu dan ilham Ilahiyah. Tidak juga sepenuhnya dibenarkan bahwa memandang sesuatu itu mesti didahului dengan keraguan. 

Justru sebaliknya, dalam Islam, keyakinan dan keimananlah yang wajib diutamakan seorang Muslim. Berawal dari yakin untuk mencapai haqqulyakin, tidak dimulai keraguan diakhiri dengan skeptis dan kebimbangan.

Di akhir hayatnya, filsuf yang juga terkenal dengan Dualisme Cartesian, yang memisahkan antara jiwa dan jasad ini menghembuskan nafas terakhirnya di kota Stockholm, Swedia tahun 1650. 


[Azhari, penulis adalah blogger asal Kaltim, kandidat master Studi Pemikiran di Universitas Ibn Khaldun Bogor].


Foto: Ilustrasi/MoreIntelligentLife.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.