News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ingatlah! Siapa Menanam, Dia yang Menuai

Ingatlah! Siapa Menanam, Dia yang Menuai

KALTIMTODAY -- ADA banyak orang yang meyakini masa depan sebagai sesuatu yang misterius. Sebagian memahami kata misterius dengan hidup asal-asalan, sebagian malah acuh tak acuh, yang penting happy.

Ungkapan bahwa masa depan adalah misterius tidak bisa disalahkan. Faktanya memang tidak satu pun manusia, atau pun ilmu pengetahuan yang mampu menjabarkan tentang masa depan.

Tetapi, jika kita lakukan pengkajian secara mendalam terhadap seluruh aspek kehidupan, maka makna misterius itu tidak seharusnya mendorong kita hidup tanpa arah dan tanpa tujuan. Apalagi memilih hidup dengan prinsip yang penting happy.

Prinsip hidup yang penting happy atau asalkan senang ini belakangan banyak dianut oleh kaum muda di tanah air. Mulai dari kalangan muda yang di pedesaan hingga kaum muda yang berjas almamater perguruan tinggi plus jas organisasi pergerakan.

Hari ini sebagian besar aktivis kampus seolah tidak mampu melihat hakikat di balik fakta atau peristiwa. Mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi kemahasiswaan biasanya rela hidup dengan tidak memiliki idealisme yang bagus. Hal ini yang menjadikan kenapa banyak organisasi kemahasiswaan yang belakangan kurang produktif dalam melahirkan kader mahasiswa yang kritis dan visioner.

Berbeda dengan aktivis mahasiswa pada empat dekade silam yang sangat konsen dalam kajian ideologi, idealisme dan perjuangan. Hari ini kebanyakan aktivis mahasiswa menghabiskan waktunya untuk kesana-kemari tanpa arah dan tujuan. Tanpa basis ideologi, idealisme dan tanpa basis prinsip perjuangan.

Umumnya aktivis mahasiswa sekarang sudah menggadaikan dirinya dalam berbagai macam “program” dangkal yang jika dilihat secara lebih jernih akan menjerumuskan mereka pada pola pikir pragmatis. Mereka merasa nyaman dengan fasilitas yang berlebihan dari para senior yang telah menjadi orang. 

Hampir setiap hari ucapan dan cerita yang dibanggakan adalah, “Saya pernah ketemu pejabat A”, “Saya sangat dekat dengan pengusaha B”, dan “Saya sekarang tidak perlu repot. Ingin ini ingin itu tinggal kontak saja pejabat C” dan ucapan-ucapan kebanggaan absurd lainnya. 

Situasi ini tentu tidak semata-mata karena mental mahasiswa yang mulai rentan dengan serangan pragmatisme. Tetapi juga karena budaya bangsa kita sekarang yang sangat toleran terhadap kecurangan. Menganggap ketidakbaikan sebagai lumrah dan pelanggaran sebagai kelaziman.

Sekarang kembali kepada para kaum muda tanah air. Memilih pragmatis atau idealis. Prinsipnya siapa menanam dia menuai. Siapa yang masa mudanya habis untuk membangun idealisme untuk menata masa depan, tentu ia akan menjadi pemenang. Sebaliknya, siapa yang menghabiskan masa mudanya untuk foya-foya dengan selimut organisasi, maka ujungnya adalah kesengsaraan.

Dengan demikian, maka masa depan itu misterius harus disikapi dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Sebab rumusnya jelas, ribuan buah rambutan dalam sebuah pohon berasal dari sebuah biji rambutan yang ditanam, dirawat dan dipelihara hingga dewasa. 

Dan, ini yang tidak boleh dilupakan, bahwa tidak ada prestasi tinggi kecuali dicapai dengan susah payah dan penuh pengorbanan!.

Foto: Ilustrasi/HDwallpapers.in

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.