News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ketika Golok Berpindah ke Tas Pelajar

Ketika Golok Berpindah ke Tas Pelajar

KALTIMTODAY -- KECEWA. Itulah mungkin ungkapan hati bagi kita yang pernah muda. Kita dulu remaja yang tentu juga pernah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Namun hari ini berbeda. Dahulu, ketika berangkat ke sekolah, yang kita bawa adalah tas yang di dalamnya terdapat buku pelajaran, alat tulis, untuk di gunakan sebagai media belajar. Namun, di era yang katanya modern sekarang, tradisi itu pun berganti. Siswa ke sekolah membawa clurit, gear, golok, bahkan samurai.

Mereka tidak sedang akan melakukan training di ruang praktik kerja di sekolah mereka. “Perlengkapan” sekolah itu akan mereka gunakan untuk mengumbar kengerian di jalan-jalan. Tawuran pelajar. Memang, tak semua sekolah di negeri ini bergaya koboy seperti ini, tapi ini sungguh memprihatinkan.

Maraknya pertikaian antar remaja, antar anak sekolah, bukanlah situasi yang bagus. Bahkan ini bertanda sangat buruk bagi bangsa ini. Ke mana kita kelak mencari generasi yang santun lagi beradab jika ini terus dibiarkan?. Tercatat dalam dua hari bulan ini saja (25/26) kita menyaksikan laga sekelompok pelajar saling serang. Korban bertumbangan, menggelepar, bahkan ada yang tewas mengenaskan.

Sudah pasti hal ini merupakan tanda, bahwa telah berlangsung kegagalan besar dalam praktik dunia pendidikan kita. Sekolah, aparat, dan berbagai instansi pemerintahan, baru mulai turun tangan setelah tawuran tersebut memakan korban, tak ada usaha preventif sebelumnya.

Sebelum ada peristiwa, pada cuek semua. Mereka seperti pura-pura lupa kalau tradisi tawuran antar pelajar sudah merupakan warisan turun temurun. Lalu, kenapa baru sekarang semua turun tangan untuk mencari akar masalahnya. Bahkan saling tuding sebagai biang awal perseteruan.

Memang cukup ironi, seragam sekolah pelajar hari ini tak selalu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka mempunyai prestasi akademik. Seragam mereka sudah berorientasi pada kultus prestise semata untuk manandakan keperkasaan kelompok. Bahkan mereka merasa perlu mencari musuh yang mengunakan seragam dari sekolah lain.

Dengan begitu, mereka merasakan seolah-olah telah sampai pada puncak ekstase di saat pelajar lain tidak lagi berdaya dan terkapar berdarah-darah. Dengan berbangga hati sambil menyeringai, mereka berkata: “Kami adalah jagoan yang wajib kalian semua takuti, dan inilah sekolah kami”.

Jika kasus tawuran satu tak segera dituntaskan, dikhawatirkan akan ada tawuran susulan yang diakibatkan dari ketidakpuasan pelajar lain. Tak hanya sampai di situ, mediasi harus terus dilakukan kepada para pelajar yang berada di sekolah masing-masing. Agar ada ikatan emosional bahkan bahkan yang sangat perlu membiasakan mereka untuk meningkatkan daya spiritual.

Usia pelajar adalah umur-umurnya remaja, mereka membutuhkan bimbingan yang masih begitu besar. Anak remaja sudah kodratnya masih dominan sifat ego ketimbang nalarnya. Juga merupakan pembawaannya bahwa di usia-usia mereka ini selalu ingin dipandang hebat oleh orang lain. Maka demikian, orangtua tak boleh meninggalkan mereka untuk mengarahkan potensi intelektual, spiritual, dan juga fisikalnya.

Kita berharap tidak ada lagi korban  berjatuhan karena adanya tawuran antar pelajar. Pelajar harus sadar dan juga disadarkan bahwa mereka adalah aset bangsa yang begitu bernilai. Mereka bisa membuktikan, bahwa pelajar itu mampu menunjukkan prestasi, bukan emosi. *


[Muhammad Adianto, penulis adalah peminat buku dan kajian bidang filsafat, sosial-politik, wacana publik, dan agama]

Foto: Ilustrasi/Blogspot.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.