Mau Jadi Orang Menyesal Selamanya?

KALTIMTODAY -- Semua kita pasti pernah berputus asa, atau setidaknya menyesali sesuatu. Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena keteledoran, ketidaksigapan, ketidakseriusan, dan mungkin karena keragu-raguan.

Menyesal itu biasa, tetapi jangan sampai menjadi terbiasa dan akhirnya kebiasaan. Namun sesungguhnya, penyesalan tidak akan pernah datang melanda apabila kita mampu bersabar. Yaitu bersabar dalam bertindak, bekerja, dan juga berfikir. Prinsipnya, menanamkan rasa penyesalan sejak dini sebelum penyesalan sesungguhnya tiba.

Dalam artian, karena telah menyesal lebih dahulu, maka dia selalu mengoptimalkan potensi diri agar tak menyesal kemudian. Selalu bergiat dalam setiap usaha dan tindakannya, baik untuk jangkauan dunia maupun akhirat. Sebagaimana kata pepatah, menyesal kemudian tiada guna.

Jika kemudian apa yang telah diusahakan tak sampai memenuhi target, mereka tak perlu lagi menyesal karena memang mereka telah berusaha maksimal. Sebaliknya, ia kembali bangkit lagi, bergerak lagi, dan lagi.

Singkat kata, orang yang selalu menyesal dalam hidup sudah pasti ia adalah manusia enggan bertindak meskipun di kepalanya tumbuh bertumpuk-tumpuk gagasan.

Dan, tidak ada penyesalan untuk mereka yang terus berbuat, terus berusaha, selalu bangkit. Sementara orang yang dirundung kemurungan karena tak tega menerima kenyataan di depan mata adalah mereka yang AKAN BERBUAT, TETAPI TIDAK PERNAH BERBUAT.

Penyesalan hanyalah untuk mereka yang disebut David J. Scwartz dalam bukunya, The Magic of Thinking Big, sebagai kelompok Pasivasionis. Dan sebaliknya, mereka yang optimis dan selalu bertindak dikelompokkan sebagai manusia-manusia Aktivasionis.

Perbedaan di antara Aktivasionis dan Pasivasionis tampak melalui dari segala bentuk perilaku. Aktivasionis menyelesaikan semua yang ingin diselesaikan, dan sebagai produk sampingannya mereka mendapatkan kepercayaan diri, perasaan aman dalam batin, dan capaian-capaian yang lebih besar dan nyata. 

Sementara, Pasivasionis tidak menyelesaikan segala yang ingin diselesaikan karena ia tidak mau bertindak. Ia kehilangan kepercayaan diri, merusak keyakinannya dan hidup biasa-biasa saja.

Maka betul pula kata Scwartz, bahwa semua orang pasti ingin menjadi Aktivasionis lalu kemudian mereka mendapatkan kebiasaan bertindak. Namun mayoritas justru menjadi Pasivasionis karena mereka bersikeras menunggu hingga segalanya 100 persen menguntungkan sebelum mereka mengambil tindakan.

Kesempurnaan memang sangat diinginkan siapa saja. Akan tetapi, tidak ada buatan atau rancangan manusia dalam kehidupan ini yang benar-benar sempurna. Maka, tetap menunggu agar kondisi yang sempurna tercapai sama juga dengan menunggu selamanya!.

Pembaca kaltimtoday.com yang baik, kita menyadari tidak ada gunanya penyesalan. Itulah mengapa kita dituntut untuk terus bertindak, dalam hal ini senantiasa berusaha maksimal sesuai kemampuan.

Ide atau gagasan yang bagus saja tidak cukup. Gagasan sederhana yang dilaksanakan, dan terus dikembangkan, adalah seratus persen lebih baik daripada gagasan hebat yang mati karena tidak ditindaklanjuti.

Siapa pun mengerti bahwa tidak ada yang datang pada diri kita cukup hanya dengan memikirkannya. Semua memerlukan tindakan untuk mendapatkannya. Berawal dari gagasan, lalu segera berbuat.

Karena sangat jelas. Semua yang kita miliki di dunia ini, dari satelit hingga pencakar langit, makanan bayi, hingga seperangkat komponen yang Anda gunakan untuk membaca tulisan ini, hanyalah hasil dari suatu GAGASAN yang DILAKSANAKAN.

Persembahan Kaltimtoday.com
Foto: Ilustrasi/fooyoh.com
   

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel