News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Siapa Mau Berselimut Api?

Siapa Mau Berselimut Api?

KALTIMTODAY -- Mungkin di antara kita pernah bingung melihat realita yang tidak simetris. Misalnya, ada seorang pelajar yang selalu juara dan menjadi bintang di sekolahnya, tiba-tiba saat menghadapi Ujian Nasional ia gagal lalu frustasi lalu bunuh diri. 

Tidak masuk akal (tidak simetris) tetapi itulah fakta. Di dunia lain, terkadang orang yang sejak lama mengejar cita-citanya untuk meraih popularitas, tiba-tiba seketika bunuh diri justru disaat semua yang diimpikan orang telah digenggamnya.

Itulah satu kondisi yang mungkin cukup marak terjadi di dunia modern ini. Bahkan, yang lebih ironi lagi adalah, pakar hukum melanggar hukum. Kira-kira ini semua bermakna apa, ya?

Orang cerdas secara akademik ternyata tak menjamin seseorang menjadi arif bijaksana. Pantas jika kemudian Serena Williams justru menganggap kesuksesan itu dari sisi banyaknya seseorang mengalami kesulitan (kegagalan) tetapi sebanyak itu pula ia mampu bangkit dan berprestasi kembali.

Jadi, ternyata manusia tidak cukup hanya cerdas kognitif, tetapi juga cerdas hati. Inilah yang disebut oleh Paul G. Stoltz dalam karyanya Adversity Quotient: Tuning Obstacles into Opportunities, memaparkan bahwa manusia membutuhkan kecerdasan hati untuk bisa menghadapi tantangan dan kesulitan dalam kehidupan.

Orang yang tidak memiliki Adversity Quotient cenderung akan kehilangan kendali tatkala menghadapi guncangan-guncangan besar dalam hidupnya. Kecerdasan kognitif dan banyaknya harta, tidak akan pernah bisa menghalanginya dari berbuat destruktif bagi dirinya sendiri.

Anehnya, tidak sedikit manusia yang hidup biasa saja, tidak terlalu intelek, tetapi mampu hidup bersahaja, jujur, ulet dan bermental kerja keras. Aneh, bukan? Nah, kita ketahui kemudian ternyata dalam Adversity Quotient, manusia diklasifikasikan dalam tiga kelompok. yaitu;
  1. Quitters, orang yang memilih mundur dalam menghadapi kesulitan atau tantangan.
  2. Campers, orang yang memilih mencari tempat pelarian agar dirinya tetap aman dan nyaman dan menghindar sejauh mungkin dari kesulitan dan kepayahan.
  3. Climbers, nah ini yang harus ada pada diri kita. Orang klasifikasi ini adalah orang sukses yang sebenarnya. Sesulit apapun tantangan dan kesulitan dalam kehidupan, sama sekali tidak memberikan ruang dalam akal dan hatinya untuk berhenti, mundur, apalagi kabur.

Ini berarti, kita semua, dan khususnya pembaca kaltimtoday.com yang baik hatinya, harus berupaya dengan penuh kesungguhan untuk bisa menjadi manusia tipe Climbers. Ya, manusia yang tidak akan pernah menyerah kepada siapapun, kecuali kebenaran.

Manusia Climbers inilah mungkin yang dimaksud oleh seorang Muhammad Iqbal dari Pakistan dalam salah satu bait puisinya. “Jadilah seperti Ibrahim, bungkus dirimu dalam api. Jangan pernah menyerah kepada apapun kecuali kebenaran”. 

Di saat orang banyak yang menghindarkan diri dari “api”, Iqbal malah mendorong kita untuk membungkus diri dalam api. 

Aneh ya, tapi itulah fakta. Sebuah pedang tidak akan pernah ada di dunia tanpa bara api yang menyala dan kekuatan sang empu untuk memukul dan terus memukul hingga sempurna bentuknya untuk disebut sebagai sebuah pedang. 

Jadi, ayo bongkar kebiasaan lama. Apabila ada kesulitan hadapi dan bersikaplah bijak, jangan ditinggal lari!.

Foto: Ilustrasi/fansshare.com

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.