Sudahkah Anda Membaca Buku Bergizi?

KALTIMTODAY -- Membaca buku merupakan aktivitas mulia. Tetapi mendapatkan dan membaca buku bergizi sungguh sangat penting.

Sebagaimana makanan bergizi, buku bergizi akan memberikan “nutrisi” yang dibutuhkan oleh seluruh elemen penting manusia untuk bernalar guna menguatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan.

Lalu, seperti apa itu buku yang bergizi? Menurut Hernowo dalam karyanya “Mengikat Makna Update”, buku yang bergizi dapat dilihat pada susunan kata-katanya, bukan temanya.

Sebagus apapun buku jika tidak menghadirkan kaidah-kaidah reasoning (penalaran) maka buku itu tidak akan pernah mampu memberikan manfaat signifikan bagi pembacanya. Jadi, buku yang bergizi adalah buku yang bahasanya bernalar.

Dan, lebih dari itu, tulisan yang baik menurut Anton M. Moeliono, adalah tulisan yang tidak menghadirkan salah nalar. Salah nalar artinya gagasan, perkiraan, kepercayaan, atau simpulan yang dihadirkan keliru atau sesat. Berarti seorang pembaca harus punya pengetahuan tentang benar dan sesat.

Namun kriteria yang paling sederhana dan mudah untuk digunakan untuk menilai sebuah buku bernalar atau tidak, dapat dilihat dari kalimat-kalimat di dalamnya. Jika kalimat-kalimatnya mendorong pembaca untuk bergerak menuju kebenaran, maka itulah buku yang bergizi.

Apabila kalimat-kalimat dalam sebuah buku telah memenuhi kaidah-kaidah kebahasaan, namun kalimat-kalimat itu hampa, tentu saja buku itu belum termasuk buku yang bergizi. Sebaliknya, jika ada buku yang membuat pembacanya bernalar dan bergerak, sekali lagi, itulah buku bergizi.

Untuk memudahkan kita mendapatkan buku bergizi, kriteria yang dibuat oleh Hernowo tampaknya cukup bagus untuk kita jadikan sebagai acuan. Menurutnya, buku yang bergizi itu adalah:

  1. Buku yang bahasanya bernalar.
  2. Kalimat-kalimatnya bisa menggerakkan atau memberikan kebermaknaan pada pembacanya.
  3. Kalimat-kalimatnya dapat menyentuh emosi pembacanya.
  4. Memberikan “kesehatan” dan tambahan “kekuatan” bagi ruhani pembacanya.
  5. Memasok kata-kata yang bergizi atau berkualitas agar pembacanya dapat mengeluarkan diri yang berkualitas lewat kegiatan menulis.
  6. Mampu menggerakkan pikiran pembacanya untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru dan segar.
  7. Mampu dan berhasil mengajak pembacanya untuk berpikir dalam tingkat yang sangat tinggi.


Perlu ditegaskan disini bahwa bahasa yang bernalar adalah bahasa yang bening dan jernih. Bahasa itu tidak meruwetkan pikiran. Apabila bahasa itu dibaca, bahasa itu memunculkan semangat dan gariah pembacanya untuk berpikir.

Dalam dunia jurnalisme, seorang editor senior biasanya mengatakan kepada juniornya seperti ini; “Tulisanmu bisa dianggap baik jika pembacanya bisa menangis, marah, emosional, terprovokasi, dan tercerahkan”. 

Nah, sahabat, selamat menemukan dan menikmati buku yang bergizi. Dan, selamat berkarya dan terus berbuat baik -yang tentu saja tak hanya menulis- dalam rangka menyebarkan “gizi” sehat untuk masyarakat luas.

Foto: Ilustrasi/DailyMobile


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel