News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Ultah Televisi dan Kualitas Siaran

Ultah Televisi dan Kualitas Siaran

Oleh Beddu Mikhail Basayev*

KALTIMTODAY -- ENTAH disengaja atau hanya kebetulan, beberapa waktu lalu, ramai-ramai stasiun televisi merayakan hari lahir (ulang tahun) mereka masing-masing. 

Gemerlap, itu sudah pasti. Diantaranya ada yang berulang tahun yang ke 23 tahun, 22 tahun, 17 tahun, 10 tahun, dan lain-lain. Mungkin kita pun ikut senang dan terhibur.

Siapa pun tentu boleh saja mengklaim diri sebagai yang terbaik, sebagaimana telah digaungkan korporasi stasiun-stasiun televisi kebanggaan kita di periode emasnya itu.

Namun, ada pola yang saya lihat cukup menarik di sini. Bahwa semakin ke sini, tayangan televisi kita hari ini tampak semakin tak elok dan mulai tak nyaman ditonton. Jelas, tentu tak semua tayangan.  

Coba kita kilas balik, di era tahun 1990-an, kita langka sekali menemukan sinetron percintaan (iya, percintaan!) di televisi yang menyasar anak-anak SD dan SMP. Keadaan itu terus bisa bertahan hingga tahun 2000-an. 

Tapi kini, mungkin karena dalih mengikuti kecenderungan pasar dan transisi gaya hidup serta perkembangan industri elektronik yang memang luar biasa, tayangan-tayangan "agak dewasa" untuk anak SD dan SMP pun sudah kian santer dan terasa liar menyatroni.

Coba saja setiap waktu pukul 18:00 Anda nyalakan TV. Nyaris semua stasiun televisi pada jam-jam ini menayangkan sinetron-sinetron anak sekolah dari SD hingga anak kuliahan yang berbumbu gaya hidup “macho”, juga percekcokan, dan tentu saja: asmara!.

Memang terkesan sepele dan tidak penting serta terlampau sewot menyoal tayangan televisi yang mungkin bagi sebagian orang ini hanya hiburan semata. Namun, kalau kita merujuk pada Undang Undang Pokok Pers Nomor 40 tahun 1999, dengan jelas disebutkan bahwa media (saluran transmisi baik cetak maupun elektronik) merupakan salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara, media televisi menjadi saluran transmisi yang paling mudah dijangkau oleh kalangan mana pun.

Lalu bila demikian, kita akan coba bertanya, apakah visi dan misi sinetron remaja yang, maaf, sarat dengan nada-nada “alay” dan asmara itu? Apakah benar visinya adalah benar dalam rangka mencerdaskan bangsa? Menceraskan bangsa seperti apa?.

Ketertegunan tak hanya merayapi pikiran saya pada waktu petang. Di pagi hari pun saya acapkali bingung memikirkan anak-anak usia remaja yang meminjam istilahnya comic kondang, Soleh Solihun, pagi-pagi sudah “ngondek” di acara musik pagi. Ngondek, maksudnya, tangannya melambai-lambai seperti kondektur angkutan umum, mereka sebenarnya sedang berjoget. Lah, apakah mereka tidak sekolah pada jam-jam itu?.  

Sebagai konsumen dan sekaligus sebagai warga negara, kita ingin menanyakan statemen televisi yang ada itu, apakah benar sudah menayangkan konten-konten yang berkualitas dan mencerdaskan, sebagaimana telah diklaim?. Berkualitas dari segi apa?. 

Tentu kualitas sebuah siaran tak dinilai hanya dari aspek kualitas player effect, angle gambar, dan sejenisnya. Jangan lupa, sisi moral dan edukasi selain juga humanitas, tak bisa diabaikan merupakan sisi kualitas lain yang sama sekali tak bisa diabaikan dari sebuah tayangan.

Bahwa ada stasiun televisi telah menayangkan siaran yang berkualitas, itu jelas tidak kita nafikkan. Namun lebih dari itu, kita mengharapkan kehadiran siaran yang mencerdaskan, menguatkan, mengokohkan, dan menggerakkan komitmen kita sebagai bangsa yang besar dan hebat untuk benar-benar melakukan perubahan ke arah yang lebih baik baik dari aspek intelektual, emosional, juga spiritualitas moral.

Selain telah dinukil dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers Bab II Pasal 4 bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran dan mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. 

Posisi pers nasional selain sebagai media informasi, hiburan, dan lembaga ekonomi, pers juga berfungsi sebagai media pendidikan dan kontrol sosial. Namun sayangnya posisi media, khususnya media elektronik, sebagaimana yang disebut pada dua poin terakhir rasanya mulai sedikit susah dikontrol.

Standar kualitas
Berkomitmen menghadirkan tayangan-tayangan berkualitas. Itulah kalimat yang rajin hadir di ruang dengar kita, yang disampaikan oleh pihak stasiun televisi akhir akhir ini. Stasiun televisi saling berebut pengaruh dalam helatan ulang tahun yang serempak ini.

Sampai di sini, ada satu pertanyaan yang mencuat, bagaimana sih tayangan yang berkualitas itu? dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Pusat Bahasa Diknas, frase “kualitas” diterjemahkan sebagai tingkat baik buruknya sesuatu; kadar. Ia juga berarti derajat atau taraf dan mutu. Dan, sementara itu, sampai sejauh ini saya belum menemukan satu standar baku bahwa siaran yang berkualitas itu adalah seperti ini, seperti itu. Jadi masih rancu.

Sehingga kualitas di sini akhirnya menjadi berdiri sendiri. Artinya, kualitas sebuah tayangan dapat ditentukan oleh siapa saja, ia ditentukan oleh penonton, produser, pokoknya bisa oleh siapa saja.

Lalu, jika kemudian dikatakan yang menjadi standar kualitas siaran adalah UU seperti telah disebutkan di atas, maka pertanyaan selanjutnya batasannya seperti apa. Sebab setiap kepala dapat saja berbeda dalam mendefinisikan tentang pengertian “tayangan mendidik dan mencerdaskan” itu.

Akhirnya ketentuan kualitas tayangan pun akan menjadi bias. Stasiun televisi boleh dan sah mengatakan bahwa tayangan yang mereka siarkan berkualitas. Itu definisi pihak televisi. Sehingga tak perlu kaget apabila tayangan berkualitas sering kali dikaitkan dengan rating yang tinggi, meski pun kemudian tayangan tersebut tak jarang memantik protes. Ini misalnya terjadi pada salah satu siaran di sebuah stasiun televisi yang rajin menyentil dengan joke olok-olok fisik.

Masyarakat yang lain pun demikian. Ia bisa saja berpendapat bahwa sebuah siaran itu tidak berkualitas dan tak bagus ditonton, meskipun tayangan tersebut berkualitas menurut pihak televisi, mungkin salah satunya karena klaim ratingnya yang tinggi. Tapi yang pasti, masyarakat tak punya hak untuk menghentikan apalagi membredel. Ia hanya bisa melaporkan keberatan dan kritik terhadap suatu siaran.

Yang jelas pada akhirnya masyarakat nampaknya telah “dipaksa” menerima semua siaran “berkualitas” yang berseliweran. Segala dampak positif dan negatifnya ditanggung sendiri oleh khalayak masyarakat sebagai permirsa.

Abai?
Memang sangat menjemukan apabila di ruang pandang kita kerap muncul tayangan yang mengadegankan ketelanjangan, jalinan asmara "anak anak balita", kekerasan, permisifme, dan kampanye kemewahan.

Namun, oleh sebagian kalangan, menganggap tak ada perlunya sibuk mengkritik resistensi industri televisi dengan dalih bahwa segalanya kembali kepada pribadi individu masing-masing. Jika tak suka, ya, nggak usah nonton, matikan tivi! Selesai. Begitulah kata kunci mereka yang ogah menyoalnya. 

Padahal, industri bidang ini begitu dinamis lagi progresif yang pengarunya kemudian tak hanya ke kita, tapi juga ke anak cucu kita kini dan masa mendatang. Ia akan terus berkembang, maka dari itu dibutuhkan filtering.

Yang tak boleh dilupakan, bahwa televisi sebagai media yang mentransmisikan konten-konten audio visual memiliki posisi yang strategis sebagai alat kontrol sosial. Pengaruhnya pun luar biasa besar. Sehingga dengan posisinya yang demikian maka sudah selayaknya kita sebagai konsumen harus cerdas dan tak lupa selalu memberikan saran-saran dan kritik yang membangun.

Jelas kita tidak boleh membiarkan tayangan yang tak memiliki visi yang jelas untuk mencerdaskan bangsa senantiasa bergentayangan. Apalagi yang sama sekali tidak memiliki nilai ekudasi. Sebab sesuatu yang keliru, jika terus disosialisasikan sebagai sesuatu hal yang wajar, maka pelan tapi pasti ia bisa mewujud menjadi sebuah konsensus massa bahwa sesuatu itu boleh dan wajar.

Posisi media, seperti kata Stuart Hall, memang memiliki peranan penting dalam membentuk konsensus. Konsensus sendiri dibentuk melalui praktik sosial, politik, disiplin legal, dan bagaimana kelas, kekuasaan, dan otoritas ditempatkan. Konsensus tidak timbul secara alamiah dan spontan tetapi terbentuk lewat proses yang kompleks melibatkan konstruksi sosial dan legitimasi.

Media tidaklah secara sederhana dipandang sebagai refleksi dari konsensus, tetapi media mereproduksi dan memapankan definisi dari situasi yang mendukung dan melegitimasi suatu struktur, mendukung suatu tindakan, dan mendelegitimasi tindakan lain. Demikian diujar Stuart Hall dalam bukunya “The Rediscovery of Ideology”.  

Bangsa Indonesia selamanya tak akan maju dan kuat selama televisi sebagai pionir utama penggiring opini massa tak secara serius menghantar masyarakat menjadi manusia-manusia pekerja, ulet dan berjiwa besar. Seraya kita juga mesti mewaspadai gerakan tentang apa yang dikatakan Stuart sebagai “pemapanan definisi”.

Kita sangat berharap siaran televisi, apalagi yang sudah hadir sejak bertahun-tahun lalu, dapat menghadirkan tayangan-tayangan yang mencerdaskan dan berkualitas dalam arti yang sebenar-benarnya.

Yang tak kalah penting adalah mengharapkan keberimbangan media secara umum. Terkhusus media elektronik yang cepat saji, dalam mempublish liputan-liputan sensitif yang boleh jadi tak lepas dari hidden agenda pembentukan konsensus massa. Selamat berulang tahun televisi tanah air!  

*Beddu Mikhail Basayev, adalah penulis blog di www.kaltimtoday.com



Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.