News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

“Aku Bukan Untukmu, Mas”

“Aku Bukan Untukmu, Mas”

KALTIMTODAY -- “KAMU itu bagaimana sih mas, sudah tau istri banyak kerjaan, masih saja sibuk ngurus orang lain. Aku ini kan istrimu, mestinya kamu duluin aku dong mas, baru yang lain. Gak peka banget kamu mas,” kesal seorang istri kepada suaminya, sembari menangis tersedu-sedu.

“Bingung aku, harus gimana,” keluh sahabatku, Donny, kepadaku menuturkan kemelut rumah tangganya yang dihadapainya semalam itu. Tak hanya itu, aku Donny, kemelut serupa sudah berkali-kali ia alaminya. Ia mengaku kesal dengan sikap istrinya yang selalu ingin diperhatikan lebih dari biasanya. Salah sedikit, marah, nangis, ngomel-ngomel

Ternyata, tidak cuman sahabatku yang sudah dua tahun menikah itu yang mengeluhkan istrinya. Teman-teman sekantorku juga mengaku bernasib sama. Istrinya suka marah, ngomel, dan sebagainya. 

“Telat sedikit sudah curiga, rapat akhir pekan apalagi. Belum lagi kalau gaji tidak cukup, wah, rame pokoknya rumahku,” kata Donny sembari melempar kertas di tangannya ke meja.

Dalam hati aku berdoa, semoga istriku tidak seperti itu. Selama ini sih memang aman-aman saja. Tapi nggak tau nanti kalau ada masalah sedikit saja, bisa nggak ya istriku mengerti, aku membatin.

*****

DI LUAR sana masih gelap. Hanya tampak percik lampu di setiap teras rumah komplek rumahku, terseling daun pepohonan nan rimbun. Dini hari itu seperti biasa, di tengah selimut malam yang pekat nan dingin, aku terbangun. Secepat kilat mataku melihat jam dinding, oh sudah jam 4 pagi ternyata. Waktunya sujud, sudah injury time lagi!. 

Segera kusingkap selimutku dan beranjak menuju kamar mandi. Kutinggalkan istriku yang baru saja lelap setelah sepanjang malam berjibaku dengan bayi mungilku yang tak kunjung menutup mata. Kasihan dia, rasanya ku ingin tetap di sampingnya.

Tetapi, aku harus bangkit untuk segera tersungkur di hadapan-Nya. Injury time sudah kian rapat, kalau kutunda, pasti aku akan kehilangan momentum berharga yang hadir di setiap penghujung malam itu. 

“Siapa yang memohon ampunan-Ku akan Ku-ampuni,” demikian sebuah firman Al Aziz yang disebut orang sebagai Hadits Qudsi. Segera aku bangkit, dan membasuh wajah, tangan, kepala, telinga, dan kedua kakiku. 

Kuraih sajadah merah yang sudah mulai tampak lusuh itu yang terletak di sisi meja kerjaku di ruang tamu, lalu terhampar. Kuangkat kedua tanganku, dan Allahu Akbar

Tidak banyak rakaat yang kutegakkan, hanya dua kali berdiri. Ya, dua rakaat. Tetapi itu kulakukan di setiap penghujung malam. Kadang aku berpikir, ya Tuhan, apakah sholatku ini berkualitas, tapi Nabi mengingatkanku, amalan yang baik itu adalah yang sedikit tetapi tak pernah berhenti. Aku yakin, amalan ini adalah sangat baik.

Aku masih duduk bersimpuh. Tak lama lagi azan Shubuh berkumandang, aku rutinkan kembali memohon ampun sebanyak-banyaknya dengan istighfar. Tak lama kemudian, azan shubuh pun mendayu-dayu menembus dinding tembok rumahku. Suara azan nan syahdu.

Supriadi, ya suara adzannya mengingatkanku pada kampung halamanku. Suaranya yang merdu dalam melantunkan adzan, membawa khayalku pada 25 tahun silam di kampung kelahiran, indah sekali adzan itu. Belum kulupakan langgamnya, masih sangat khas.

Azan masih berlangsung. Aku menatap layar monitor, ada sesuatu yang ingin kupersembahkan kepada orang banyak, kepada republik ini, kepada bangsa dan negaraku. Meskipun entah siapa yang akan menerima karya anak ingusan seperti aku. Aku tak peduli, diterima atau tidak, aku harus bekerja dan berkarya. 

Ku tak kan pernah bisa melupakan pesan nenek yang setiap hari memandikanku kala mau ke sekolah saat SD dulu. “Jadilah kamu seperti pohon pisang dalam menuntut ilmu. Jangan berhenti, jangan mati, kecuali engkau telah memberikan buah masakmu,” itu yang menjadi program tetap nenek setiap pagi.

Terdengar dari kejauhan Supriadi sudah memungkasi azannya dengan shalawat Nabi jelang iqomah seperti biasa. Aku pun segera beranjak dan menyusuri jalan kecil menuju masjid. Kali ini aku harus tersungkur lagi. Oh, aku pun terngiang, kenapa ya kok harus bersujud terus. Begitu dulu waktu aku berumur 10 tahun kerap bertanya-tanya. 

Belakangan aku mengerti karena memang hakikatnya diriku ini bukan siapa-siapa, diriku bodoh dan tak berdaya. Jika tidak menyungkurkan diri di hadapan Penguasa Alam, lalu kepada siapa aku memohon pertolongan. Sekarang aku memang harus tersungkur kembali. Allahu Akbar!.

Usai menghamba, memohon, merintih dan meratap kepada penguasa alam, aku pun beranjak dari rumah-Nya. Di luar masjid, aging berhembus cukup kencang. Menusuk-nusuk. Aku segera beranjak menuju pulang.

“Assalamu’alaikum,” seruku seraya membuka pintu yang memang tidak pernah dikunci kala aku menyambut seruan adzan Shubuh. Tidak biasanya, istriku mestinya menjawab. Aku merasa ada yang aneh. Seketika kulangkahkan kakiku menuju kamar tidur. 

Astaghfirullah, mata istriku masih terlelap sambil sesekali menarik napas ke hidung tampak sesak napas. Kudekati dan ku pegang keningnya, Masya Allah, istriku panas tinggi!.

Sekejap kemudian aku berfikir Ini harus segera dibawa ke bidan, istriku tidak boleh sakit. Ada banyak urusan umat yang aku harus kuselesaikan. “Dik, bagaimana, pusing berat ya,” tanyaku kepadanya dengan lembut. “Iya mas, kepala adik sakit, badan terasa pegal-pegal, dan panas, mas,” jawabnya lirih.

“Ya sudah, kalo begitu sekarang berjuang dulu untuk bangun, sholat shubuh, kalau tidak sanggup nanti duduk saja,” sahutku. Dengan sedikit bantuanku, ia mencoba melawan sakitnya untuk bangun. Alhamdulillah masih mampu.

Lama kulihat ia bersujud, terlihat ia menikmati sekali sholat dalam kondisi badan yang sakit itu. Alhamdulillah, meski sakit ia tetap bisa beribadah dan mengingat-Nya. Meskipun tampak masih pusing berat karena panas kepala yang mendera dini hari itu. 

“Adik bagaimana, hari ini mas harus ke tempat kerja, ada beberapa tugas yang tidak bisa diwakilkan,” kataku usai dia berdoa. “Nggak apa-apa mas, berangkat saja,” jawabnya pelan. 

“Lalu bagaimana nanti kalau ada apa-apa, dik?” tanyaku memastikan. “Sudahlah mas berangkat saja. Insya Allah, adik baik-baik saja. Ini cuma demam biasa. Jangan terlalu khawatir. Kehadiran mas di tempat kerja jauh lebih utama,” jawabnya penuh keteguhan.

“Mas jangan lupa, pesan mas dulu, “aku bukan untukmu,” begitu kan? Jadi berangkatlah, Allah akan bersama mas, bersama adik dan bersama keluarga kita semua. Anak-anak, Insya Allah, juga akan baik-baik saja,” paparnya meyakinkanku.

Subhanallah, istriku memang super sekali, meminjam ungkapan Bapak Mario Teguh. Istri yang tidak pernah cengeng, merengek, apalagi meminta perhatian berlebihan. Jiwanya seperti karang di Pantai Lamampu Batu Hidup di Pulau Sebatik, Kaltim, itu. Ruhnya bak mentari yang terus menyinari akal dan hatinya. 

Aku sering kali berfikir, ia adalah kiriman Tuhan untuk mendukung visi dan misiku menyelamatkan rakyat Indonesia. Membangun Indonesia memang sudah menjadi spirit dan jiwa besarku. Subhanallah, luar biasa sekali. Kira-kira bagaimana ya kalau aku seperti Nabi Ibrahim yang punya Siti Hajar, atau Nabi Muhammad yang didampingi Siti Khadijah dan Siti Aisyah. 

“Lah, berat bisa seperti dua manusia mulia itu, sementara akal, hati, jiwa dan ragaku belum sepenuhnya kupersembahkan untuk-Nya,” pikirku sembari meringis menertawakan khayalanku yang tak mungkin kuraih. Seperti ini saja sudah membahagiakan. 

“Siapa yang bersungguh-sungguh menyerahkan jiwa raganya untuk-Nya, maka Ia akan mengirimkan sesautu yang mendukungmu untuk-Nya,” itu pesan guru terbaikku kala duduk di bangku SMA dulu. 

Jadi, apalagi, utamakan masyarakat, prioritaskan rakyat banyak, maka istri dan kelurgamu akan mengerti bahwa kamu bukan untuknya. Pesan itu tak bisa kulupakan, setip waktu selalu terbesit dan ia menguatkanku.

Sekarang aku baru mengerti pesan guru SMA-ku dulu yang mengatakan padaku bahwa kalau kamu cari istri, carilah yang ia melihatmu bukan sebagai miliknya, tetapi wanita yang melihatmu sebagai milik-Nya. 

“Dengan begitu kamu bisa menjadi lelaki yang berguna bagi bangsa dan negara, karena istrimu tidak pernah bertanya kepadamu tentang harta benda, tetapi akhlak dan kepribadianmu, sudah cukup membuatnya bahagia dunia akhirat,” begitu pesannya.



[BANGUN BUMIGIRI, penulis adalah peminat kajian sastra dan bahasa. Pria yang besar di Tenggarong ini saat ini sedang dalam proses penerbitan buku pertamanya]  


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.