News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Dari Telekomunikasi Hingga Egosentrisme

Dari Telekomunikasi Hingga Egosentrisme


KALTIMTODAY -- SUDAH saatnya jaringan telekomunikasi menjangkau pelosok kampung pedalaman. Zaman semakin canggih. Otomatis hidup pun dituntut untuk dapat menyesuai dengan kecanggihan yang ada. 

Hal ini setidaknya akan menutup segala pandangan miris terhadap masyarakat pelosok selama ini. Anggapan pengamat-pengamat ulung, selama ini bahwa masyarakat pelosok selalu memprihatinkan dengan beragam kekurangan di sana-sini. 

Jaringan telekomunikasi kini menjangkit sampai ke pelosok negeri. Bagaimana tidak, kebanyakan orang-orang pelosok merantau dari daerah asalnya yang pelosok ke daerah yang banyak mata pencahariannya. Seperti para transmigran yang merantau dari daerah pedesaan ke perkotaan, dengan tujuan untuk mencari mata pencaharian, bersekolah, kuliah dan lain sebagainya. 

Ini mungkin suatu hal biasa di mata masyarakat kita. Lapangan pekerjaan seakan menumpuk di kota. Membuat kepadatan penghuninya. Menjadi tidak seimbang komposisinta antara luas tanah yang dihuni dengan jiwa per-kepalanya. Keadaan inilah yang terus terjadi di lingkup masyarakat kita. 

Permasalahan tersebut harus secepatnya ditangani oleh pemerintah. Karena tidak saja dapat menghambat sampainya jaringan telekomunikasi di pelosok negeri. Tetapi juga akan memunculkan permasalahan baru, tak terduga, dan membuat banyak orang kewalahan. 

Pemerintah seharusnya mulai mengembangkan daerah pelosok, khususnya wilayah-wilayah tapal batas negara, menjadi daerah potensial dalam berbagai hal. Sehingga penghuninya tak melulu harus merantau hanya untuk mencari mata pencaharian. Sektor komunikasi pun demikian pula, harus dikembangkan, agar masyarakatnya tidak terkesan ketinggalan zaman yang sudah modern ini. 

Tapi terlalu banyak alasan mengapa pemerintah sekarang tak mau menyanggupi. Mulai dari utang negara yang belum terselesaikan, belum lagi pejabat negeri yang banyak korupsi, kasus suap-menyuap yang belum hilang. Semuanya adalah fenomena negeri yang menjadi adat budaya dan belum bisa dihilangkan sampai ke akarnya. Orang kaya makin kaya dan miskin makin miskin. 

Masalah hambatan telekomunikasi misalnya, jangan ditanya lagi, sudah sering kita dengar gonjang-ganjing pelosok negeri yang terjangkit wabah, marabahaya, penyakit, dan pencaplokan wilayah kita oleh bangsa lainnya, dan sebagainya. Ini jelas karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Bagaimana tidak ada kata hambatan, kalau seandainya pemerintah seperti ini. Selalu menjadi pahlawan kesiangan, terlambat respon, tidak maksimal dan terkesan tak bertanggungjawab. 

Egosentrisme
Keterbukaan serta jangkauan media informasi dan telekomunikasi seharusnya sudah banyak dinikmati setiap rakyat di daerah pelosok, sehingga penghuninya tidak harus ke kota sebagai jalan terakhir memecahkan persoalan. Jadi jika ada yang sakit, dan ingin disampaikan sanak keluarga di luar, tinggal menelpon di wartel. 

Atau, jika ada kabar yang ingin disampaikan, tinggal memakai jasa pos kilat atau bisa memakai surat elektronik, warnet media elektronik tanpa harus ke kota terdekat yang jaraknya berkilo-kilo jauhnya. Kemantapan jaringan informasi ini juga akan berperan serta membangun nasionalisme warga melalui saluran transmisi nasional milik negara yang bisa diakses di wilayah pelosok.

Berbagai hambatan yang ada sebenarnya bisa saja terselesaikan. Tapi kita tahu bahwa pemerintah juga manusia, geliatnya ada yang memang menguntungkan dan ada juga yang merugikan. Mereka juga tak mungkin silih terus-menerus menangani masalah demikian rumit seperti ini. Apalagi mereka (pemerintah) yang hanya mau tahu balasan berupa uang mungkin, naik jabatan mungkin. 

Faktanya, lihat saja, bagaimana hubungan pemerintah dengan warga negaranya. Ibarat kucing-kucingan, rakyat tak bersalah masih diincar, ditindas. Dijebloskan ke dalam terali besi pengap tanpa mendapat jawaban sepatah kata pun, Mengapa saya dipenjara? Apa salah saya?.

Terbangunnya keharmonisan antara warga negara dengan pemerintah, itu sebenarnya sudah cukup buat memajukan negeri ini. Negeri ini perlu belajar kembali, kesadaran masing-masing penghuninya. Pemerintah sudah saatnya berbuat adil, mengingat negeri ini selalu bergelimang kemunafikan satu sama lainnya. 

Jadi anggap saja kita sama-sama orang terbelenggu permasalahan serupa, maka sewajarnya kita juga wajib menyelesaikan permasalahan itu. Sehingga walaupun besar tidaknya permasalahan itu, akan membuat bergeming diri kita untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, baik bersamaan maupun menitik beratkan pada seorang, dua orang, beberapa orang yang mampu untuk menyelesaikannya. 

Pemerintah harus banyak-banyak belajar dengan keadaan bangsa ini di masa-masa lalu. Lewat bukan berarti terlupakan, kalaupun kita sudah melupakannya. Kita butuh penyetara, kaca perbandingan, penyeimbang, sebagai basis kegiatan kita nantinya. 

Sebagaimana seorang bijak menyatakan dengan gamblang, bahwa masa yang berlalu, akan kita kenang dengan berbagai macam rasa. Oleh karenanya, lalu adalah untuk diingat, bagaimanapun rasanya itu. Dengan kata lain waktu yang dahulu kita lalui menjadi sesuatu yang berharga untuk menjadi motivasi bekerja bagi kita, untuk menjadi kenyataan yang telah kita lalui dengan susah payah.

Untuk kita para warga negara yang baik, juga tak elegan kalau hanya terus menerus menyalahkan pemerintah. Undang-undang memang telah memposisikan kita sebagai “raja”. Sistem pemerintah yang kita pakai adalah sistem demokrasi merakyat. Rakyat berhak atas haknya, kita berhak memperoleh hak kita. Akan tetapi kita juga harus mengutamakan kepentingan lain, tidak terus menerus pada pemberolehan hak kita saja. 

Pada waktu yang sama, kita dapati banyak sekali pemangku amanah rakyat yang sebenarnya tak pantas memerintah atau memutuskan suatu perkara, seperti perilaku tak terpuji seorang Hakim Puji. Itu yang mestinya kita rombak, babat habis. Pemerintah kebanyakan ditangani oleh orang-orang yang tak pantas. 

Itulah sebabnya kemudian, mungkin, kita selalu menyalahkan pemerintah sebagai biang keladi dari segalanya. Namun dalam pemerintah juga, ada banyak orang yang pantas memerintah dan mereka orang yang baik. Itulah yang mesti dipertahankan.  

Akan tetapi sekarang, kita malah mempertahankan dan membela orang yang tidak pantas memerintah. Demi memperkaya diri. Demi keegoisan kelompoknya tiada habisnya. Mereka berbuat hanya demi untuk kemaslahatan dirinya sendiri dan tak pernah mau tahu keadaan rakyat lainnya. 

Itulah sebabnya kita saling menyalahkan, demi sesuatu yang sepele bahkan tak bernilai di mata Tuhan yang Esa, dan akhirat nantinya. Beginilah cara beprilaku orang-orang yang akal dan nuraninya telah tersumpal sampah kapitalisme dan egosentrisme. Semakin banyak orang baik, maka semakin banyak pula orang jahat bergentayangan. 

Ini yang harus kita cegah, karena kalau sudah menjangkiti maka kita akan kesusahan dan bahkan sama sekali tidak bisa lagi mengobatinya. Ini sudah menjadi hukum alam. Sebaiknya kita sadar dari kealfaan kita dan pemerintah seharusnya belajar. *** 
    


[Aba Idris Shalatan, penulis adalah alumni Pesantren Hidayatullah. Aktif di kajian ilmiah KOPI (Kajian Orang-orang Pinggiran), Komunitas Pena Dunia, dan Komunitas Sastra GEMMA. Mahasswa IDIA Prenduan Sumenep Madura. Kini menjadi Pimpinan Redaksi di Buletin Regional “Dakwah” dan Buletin “King Al-Ghoriezm”]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.