News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Di Tapal Batas, Indonesia Sudah Tewas!

Di Tapal Batas, Indonesia Sudah Tewas!

KALTIMTODAY -- DIA bernama Sebatik. Sangat eksotik. Mungkin tak banyak orang yang mengenalnya. Boleh jadi orang Kalimantan Timur sendiri bahkan tak tahu apa itu Sebatik. Penduduk bangsa kita hari ini memang kadang-kadang sudah tak mau tahu. Acuh tak acuh.

Sebatik adalah sebuah pulau di ujung Utara provinsi Kalimantan Timur yang terbagi atas dua negara yakni Indonesia-Malaysia. Luas wilayah Sebatik sendiri sekurang-kurangnya 414,16 km2 dan dengan perkiraan jumlah penduduk sedikitnya 13.776 jiwa.

Pulau bagian Indonesia ini terbagi ke dalam lima kecamatan yaitu Kecamatan Sebatik Induk, Sebatik Timur, Sebatik Utara, Sebatik Tengah dan Sebatik Barat di bawah Pemerintah Kabupaten Nunukan. Sebatik yang santer dicanangkan menjadi kota otorita ini diapit oleh tiga kota yaitu Tarakan, Nunukan dan Tawau. Kota terdekat adalah Nunukan dan Tawau.

Dalam letak geografisnya seperti itu, interaksi pun terjadi antara warga Sebatik dengan dua kota terdekatnya, Nunukan dan Tawau. Dalam posisinya, Nunukan menjadi Ibu Kota Kabupaten di Indonesia, sementara Tawau menjadi salah satu kota terbesar di wilayah Sabah, Malaysia.

Namun, Anda mungkin kaget jika mengetahui ternyata interaksi dan relasi yang terbesar justru terjalin antara Sebatik Indonesia dan Tawau, Malaysia, bukan dengan Nunukan yang justru menjadi urutan berikutnya. Interaksi sosial, sektor ekonomi, pertanian, perikanan, bahkan kesehatan seakan telah digantungkan pada negara tetangga itu.

Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya kesadaran pemerintah untuk lebih serius memperhatikan wilayah ini. Degradasi nasionalisme melalui pengikisan rasa percaya diri sebagai warga Negara Republik Indonesia jelas terjadi di sini. Masalah ini, dalam pandangan sebagian besar masyarakat Sebatik, disebabkan oleh tidak kuatnya intervensi Pemerintah Indonesia dalam membangun pengetahuan warganya tentang bangsa yang besar ini khususnya di Pulau Sebatik.

Dibandingkan dengan Malaysia, intervensi kepada warganya membangun kesadaran mencintai negaranya terus bergulir dan dipromosikan. Melalui medianya yakni RTM atau Radio Televisi Malaysia, adalah ujung tombak intervensi pemerintah kepada warganya. Sehingga warganya sedikit sebanyak dibentuk oleh pendidikan yang disampaikan melalui media mereka.

Transmisi nilai-nilai nasionalisme ala Malaysia ini berkelindan mulai dari tentang Rukun Negara (sama dengan Pancasia di Indonesia), lagu-lagu nasional, Bajet (Anggaran Negara), wacana-wacana pemerintah, peraturan lalu lintas, jadwal sholat, iklan-iklan pemerintah, tempat-tempat wisata, seni budaya, harga-harga komoditas, dan lain-lain. Semua dipaparkan melalui melalui media RTM.

Namun, yang menjadi masalah kemudian, adalah tayangan-tayangan tersebut rupanya tidak hanya dinikmati warga Malaysia saja, warga di tapal batas Sebatik khususnya, telah ikut menikmati tayangan-tayangan ini selama bertahun-tahun dengan kualitas siaran bisa diterima dengan baik oleh televisi dan radio-radio warga di Sebatik tanpa diimbangi oleh penetrasi pancaran siaran radio dan televisi nasional kita seperti Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Sementara itu, televisi kabel baru ada di Pulau Sebatik sekitar tujuh tahun yang lalu. Untuk stasiun radio, Sebatik Indonesia memiliki dua stasiun radio swasta yaitu Nusantara FM dan SDB2 FM yang tergolong masih amatir dan siarannya tidak menjangkau seluruh wilayah Sebatik karena keterbatasan sumber daya. Televisi kabel dan dua stasiun radio itu menjadi alternatif pilihan untuk melepas diri dari hiruk pikuk transmisi media Malaysia yang massif.

Akan tetapi, jika televisi kabel dan stasiun radio tersebut mengalami masalah, maka harus dengan senang hati warga Sebatik Indonesia kembali menikmati RTM. Memang tampak sekali ada kesenjangan perhatian dari kedua negara ini dalam masalah pengembangan wilayah perbatasan, khususnya dalam bidang transmisi informasi dan komunikasi.

Di sini, Anda bisa menyaksikan keberadaan stasiun radio di Sebatik Indonesia yang notabene adalah wilayah Indonesia, sangat memprihatinkan dengan pemancar radio yang hanya ditancapkan dengan pipa panjang dan hanya dapat dinikmati oleh penduduk di sekitar stasiun radio saja. Itu pun dengan acara radio yang bisa dikatakan jauh dari memadai.

Warga Sebatik Indonesia selalu berharap ada peningkatan siaran ke-Indonesia-an di wilayah ini. Tapi faktanya, siaran RRI di Pulau Sebatik hanya dapat dinikmati di wilayah Sebatik Barat yaitu RRI Nunukan dengan kualitas acara yang bisa disebut tak terlalu menggembirakan. RRI Tarakan sebenarnya dapat dinikmati di Pulau Sebatik, tetapi sayang seribu sayang, ia berada di gelombang AM yang relatif susah dijangkau.

Miris juga rasanya. Zaman sekarang dengar radio produksi negeri sendiri diharuskan masuk dulu ke gelombang AM. Sementara radio Malaysia seperti Tawau FM, Sabah FM, Muzik FM, Nasional FM, Nasional Klasik FM, Traxx FM, dan dua radio berbahasa Cina dan salah satu bahasa Suku di Malaysia dapat dinikmati walau dengan hanya memakai HP Nokia type jadul. Pun sangat mudah, Anda tinggal pilih stasiun radio Malaysia mana yang ingin didengar.

Di di samping kegetiran itu, kita tetap patut bersyukur. TVRI Nasional dan TVRI Kaltim, Alhamdulillah, masih bisa menembus hingga ke wilayah Sebatik Timur dan Utara tapi hanya sekitar 7 jam setiap hari dari jam 16.00-22.00.

Bagaimana dengan siaran televisi swasta Indonesia yang sudah beken namanya seperti TVone, MetroTV, atau MNC? Televisi swasta Indonesia bisa menjadi sajian siaran favorit warga Sebatik Indonesia saat ini, tapi harus dengan membayar Rp.20.000 perbulan.

Akan tetapi, warga Pulau Sebatik Indonesia yang memang mayoritas masih berada dalam kelas ekonomi di bawah rata-rata, mereka lebih memilih menikmati siaran Televisi Malaysia: TV1, TV2, dan TV3 dengan GRATIS dan dengan kualitas gambar dan siaran yang sangat bagus pula. TVRI sendiri, walau hanya hadir selama 7 jam dalam sehari, jauh dari kualitas siaran yang RTM miliki.

Tiadanya Kepedulian?
Sedikit mengenai RTM, televisi Malaysia itu bersiaran secara variatif. Ada yang tayang 24 jam dan ada yang tidak. Siarannya dapat dinikmati melalui gelombang VHF. Hanya dengan memasang antena yang terbuat dari penutup periuk alumunium, Anda pun sudah mendapat gambar yang bening. Ketiga stasiun TV Malaysia tersebut memiliki program siaran yang saya nilai sangat rapi.

Di awal pagi, ketiganya menyiarkan berita secara bersamaan, begitu pula siang dan malam. Jika kita simak betul-betul, ketiga stasiun tersebut mewakili tiga bangsa besar di Malaysia yaitu Melayu, Cina dan India. Di TV1 lebih banyak menggunakan bahasa Melayu, TV2 gabungan antara Cina, India dan Bahasa Inggris, dan TV3 bebas, bahkan TV3 memiliki acara sinetron seperti halnya Indonesia.

Sinetron yang ditayangkan televisi Malaysia ini sinetron Indonesia juga, diantaranya yang telah tayang: Bawang Merah, Bawang Putih; Malin Kundang; dan sekarang sedang berlangsung Putri yang Ditukar. Selama bersiaran, lagu nasional mereka diputar disela-sela program televisi, seperti setelah berita usai, setelah azan, atau disela waktu menunggu acara selanjutnya.

Hal ini tak kalah menariknya dengan radio mereka. Radio malaysia seperti sebuah jaringan yang saling terhubung. Jika ingin ikut berpartisipasi dalam acara radio, pendengar cukup menggunakan satu nomor saja untuk mengirim pesan ke radio-radio mereka. Misalnya, jika ingin mengirim pesan ke Radio Tawau cukup mengetik TFM <Pesan> kirim ke 32770, ke Sabah FM cukup mengganti TFM menjadi SFM <Pesan> kirim ke 32770 begitu pula seterusnya.

Radio Tawau FM beroperasi di Tawau, Sabah FM di Kota Kinabalu, Nasional Klasik FM, Nasional FM, Musik FM, Traxx FM dan dua radio bahasa Cina dan Etnik letak stasiunnya di Kuala Lumpur. Mereka dapat di akses dengan satu nomor saja hanya dengan mengganti password. Acara pun sama halnya dengan televisi, sangat rapi.

Melihat mantapnya sistem transmisi Malaysia itu, akhirnya kita hanya bisa menunggu dan melihat RRI dan TVRI yang sungguh jauh ketinggalan. RRI dan TVRI jika dibandingkan dengan RTM sama halnya dengan musium peninggalan Belanda yang tak terawat, kumuh, dan berdebu atau sebuah KRI hibah yang sudah ketinggalan zaman, dan atau kapal Pelni yang kumuh, kotor, dengan awak kapal yang tidak disiplin membuang sampah sembarangan ke laut.

Sementara, di waktu yang sama, RTM bak menara kembar Petronas yang berdiri gagah mencakar langit Malaysia, serapi kota Malaka, sebagus kapal pesiar dengan gaya hidup berkelas, seelit prajurit Malaysia dengan gaji tinggi, dan semakmur PNS Malaysia. Begitulah perumpamaannya.

Fakta memang sudah tak dapat disangkal. Radio Televisi Malaysia telah mendapat tempat di hati warga Sebatik. RTM telah menemani warga Sebatik Indonesia dari zaman P.Ramlee dengan televisi hitam putih sampai saat ini Siti Nurhaliza dengan Televisi LCD.

RTM mampu mempopulerkan figur Senario sebagai grup lawak kondang Malaysia yang tak asing lagi di kalangan warga Sebatik Indonesia, tetapi TVRI kita nyaris tak berdaya untuk mampu mempromosikan Campursari dan Ngelaba sebagai grup lawak Indonesia di kalangan warga Sebatik apalagi Tawau.

RTM mampu mendidik warga Sebatik Indonesia menghapal Rukun Negara dan lagu-lagu nasional Malaysia. Sementara RRI dan TVRI kita ikutan sibuk dengan lagu Girl Band-Boy Band, dan bertahan dengan presenter lanjut usia yang kadang salah membacakan berita. Seharusnya mereka sudah diberi ruang untuk pensiun dan diberikan layanan asuransi dan dana pensiun yang menggembirakan.

Tak dapat dipungkir bahwa lemahnya kualitas siaran nasional kita, khususnya di tapal batas, menjadikan Pancasila hanya untuk anak sekolah yang ditempel di dinding kelas, lagu nasional hanya untuk upacara setiap hari Senin pagi dan ketika acara TV atau radio berakhir jauh di tengah malam.

RTM berhasil dan telah sukses memahamkan warga Sebatik Indonesia tentang makna slogan “1 Malaysia”, sementara hiruk pikuk peringatan semangat “Sumpah Pemuda” hanya menjadi peringatan tahunan dan jarang yang tahu maknanya.

Kurang mampunya RRI dan TVRI merebut tempatnya di Sebatik dan menjangkau seluruh wilayah Sebatik seharusnya dipahami bahwa Kedaulatan NKRI telah terpenggal di sisi ini dan takluk oleh Malaysia. Kedaulatan tak hanya batas tanah jika yang di atas tanah tidak lagi berdaulat.

Tanah kita berdaulat tetapi sisi ini telah dirampas, Maknanya adalah peperangan baru saja di menangkan oleh Malaysia. Dan, kita harus menerima kekalahan dengan “tewasnya” RRI dan TVRI di tanah kita sendiri tanpa imbang. [Foto Ilustrasi/sumber: Wikipedia]



[Yahya Hasan, penulis adalah blog writer di www.kaltimtoday.com. Putra asli Pulau Sebatik Indonesia ini kini masih menjalani pendidikan keperawatan di Universitas Borneo, Tarakan, Kalimantan Timur. Penulis juga merupakan anggota dari Himpunan Pemuda Sebatik (HPS) yang merupakan wadah kawula muda Pulau Sebatik Indonesia]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.