News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Geger Kitab Gangpitu di Sokoroso

Geger Kitab Gangpitu di Sokoroso

KALTIMTODAY -- NEGERI Tanpo Sokoroso hari itu geger. Penduduk negeri dihebohkan dengan beredarnya kitab baru bernama Gangpitu. Kitab yang ditulis oleh Sang Gae Odo-odo. Lelaki dari negeri seberang lautan itu pun menjadi topik pembicaraan hangat di mana-mana.

Menurut kabar burung yang beredar di masyarakat Sokoroso, kitab Gangpitu mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan penduduk negeri yang selama ini “terpenjara”. Alhasil, orang-orang pun beramai-ramai mengaji Kitab Gangpitu. Dan benar saja, mereka mengaku merasakan sensasi yang lain saat merapal mantra-mantra di dalamnya.

Jika mereka terbiasa duduk bersila saat membaca kitab Kalimasada, kini kitab ajaib yang harus dibaca dengan gerak tangan dan kaki mirip sapi kesemutan itu membuat efek kecanduan yang ruarrrr biasa!.

Para Pakubumi bingung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana mengatasi demam mantra Gangpitu yang melanda. Puncaknya, mereka sowan [1] kepada Eyang Resi, pimpinan mereka yang menyepi di Gua Topobratan.

Duh Eyang Resi, suara bising terdengar di mana-mana. Manusia-manusia bergerombol sembari berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa. Ajakan kami untuk kembali merapal Kalimasada tidak digubris lagi,” keluh mereka.

“Mengapa terjadi kerusuhan seperti itu, Pakubumi? Apakah kalian tidak mengajarkan kitab Kalimasada dengan benar?” tanya Eyang Resi balik.
“Sudah, Eyang. Segala tenaga, upaya, dan biaya sudah kami senyawakan semaksimal mungkin. Tapi arus pengikut Kitab Gangpitu membadai, sulit kami tahan,” keluh salah satu Pakubumi yang diiyakan oleh empat yang lain.

“Mungkin, Eyang sendiri yang harus turun tangan menyelamatkan umat manusia. Mereka dalam bahaya besar, Eyang. Sebab setiap saat Nogo Samber Jiwo datang menyerang akibat kegaduhan yang mereka buat,” kata Pakubumi dengan wajah cemas.
“Baiklah, aku turun sekarang,” kata Eyang Resi akhirnya.

Dengan tongkat di tangan dia berjalan terbungkuk-bungkuk menuruni Gua Topobratan. Para Pakubumi mengawalnya di belakang dan siap setiap saat menopang tubuh sang guru jika sewaktu-waktu jatuh dan pingsan.

Maklum, umurnya sudah uzur, dan selama ratusan tahun Eyang Resi bertapa di guanya untuk mendoakan manusia agar selamat dari Nogo Samber Jiwo, dan dapat kembali pada Sang Hyang Gawe Gesang dengan selamat sentausa menuju nirwana. Sesampainya di lembah, dia temui manusia-manusia yang baginya adalah anak-anaknya.

“Wahai anakku, ada apakah gerangan? Kitab apa yang sedang kalian baca?” tanyanya kalem.
“Eyang, lihatlah! Telah turun nabi baru dari negeri seberang lautan. Dia mengirimkan kitab ini untuk kita. Kitab Gangpitu namanya,” jawab salah satu dari mereka.
“Anakku, bukankah sudah kukatakan sejak dulu, kitab kita hanya satu, Kitab Kalimasada. Tak ada yang lain …,” jawab Eyang Resi, pelan.
Alah … kitab itu sudah ketinggalan jaman, Eyang. Nggak up to date. Lihat saja di luar sana, nggak ada lagi yang baca Kalimasada. Eyang mau coba Gangpitu bersama kita?” jawab yang lain lagi.
Geeeerrrrrr! Tawa bergemuruh. Mereka membayangkan bagaimana jadinya jika Eyang Resi yang bertapih kafan putih itu berjingkrak merapal Gangpitu.

Eyang Resi tetap bersabar. Wajahnya tetap tenang, sebening tetes embun pagi di dedaunan. Dulu, anak-anaknya adalah anak-anak yang patuh, manut, dan ngerti unggah-ungguh[2]. Mereka berbicara dengan sopan, bahkan munduk-munduk[3] tanda penghormatan. Setiap ucapan Eyang Resi ibarat wahyu yang harus ditaati. Apalagi jika dia bercerita tentang Nogo Samber Jiwo. Semua khidmat mendengarkan agar terselamatkan dari semburan apinya yang berkobar-kobar.

“Ketahuilah wahai anakku, hanya mantra Kalimasada yang mampu menyelamatkan kita dari Nogo Samber Jiwo, bukan kitab dari Sang Gae Odo-odo, atau kita siapa pun …,” kata Eyang Resi mengingatkan.

Eyang Resi sudah berulangkali mengingatkan anak-anaknya tentang Nogo Samber Jiwo. Ular raksasa dengan mata merah selebar tampah itu bercokol di gunung Jabal Kat. Dia tertidur pulas dalam guanya karena mendengar rapalan mantra-mantra dari Kitab Kalimasada. Naga raksasa itu sudah tertidur ribuan tahun, sejak jaman moyang Eyang Resi. Dapat dipastikan, betapa laparnya dia jika sampai terbangun nanti.

Selama ini, setiap kali matanya hendak terbuka, selekas pula ia mendengkur lagi karena mendengar anak-anak Eyang Resi merapal Kalimasada. Begitu tenang, meneduhkan. Kantuknya kembali menyerangsang. Begitu seterusnya. Menurut Eyang Resi, jika naga raksasa itu bangun, dia bisa memangsa negeri mereka beserta seluruh isinya. Tanpa ampun, tanpa petung[4]. Semua yang dilaluinya akan mumur terbakar semburannya.

“Eyang, kami tak percaya lagi dengan Nogo Samber Jiwo yang selalu Eyang ceritakan. Itu kan mitos belaka …,” teriak yang lain gempita.
“Sudahlah, Eyang. Kami ingin menikmati hidup. Sudah waktunya kami keluar dan meninggalkan kehidupan jaman purba yang Eyang ajarkan. Merapal Kalimasada, membosankan. Masak kami harus mandi kembang tujuh rupa untuk bersuci hanya untuk memegangnya, harus memakai tapih panjang menjulur-julur untuk menutupi badan kami. Nggak seru …! Teriak anak wanita Eyang dari barisan belakang.

Eyang gedheg-gedheg[5]. Dia pun berlalu dengan perasaan silu. Dia berjalan pelan mengamati keadaan anak-anaknya. Semakin parah! Dimana-mana Gangpitu dielu-elukan. Eyang Resi ngenes[6]. Batinnya tersayat-sayat. Duh, perih ….

Dulu, mantra Kalimasada mereka percaya sebagai penawar segala macam penyakit. Anak-anaknya yang terkena semburan nafas Nogo Samber Jiwo hingga membuat mereka mabuk, muntah-muntah dan hilang ingatan, akan sembuh perlahan-lahan dengan terapi rapalan Kalimasada.

Pun saat Nogo Samber Jiwo bersin dalam tidurnya lalu menyemburkan butiran-butiran upil yang bernama narkoba, mantra Kalimasada pulalah obatnya. Mantranya yang menyejukkan bagaikan ainun jariah yang melindapkan hawa panas dalam tubuh mereka akibat racun naga itu. Jadilah, di mana-mana di segala penjuru negeri mantra Kalimasada-lah yang didengung-dengungkan.

Eyang Resi tak putus asa. Dengan dikawal Pakubumi, dia mendatangi cucu-cucunya. Keadaan tak jauh beda. Mereka tengah asyik mengaji Kitab Gangpitu dengan tangan dan kaki bergerak kesana kemari. Eyang Resi mengelus dada.

“Cucuku, ayo gantian mengaji Kitab Kalimasada. Jangan tergoda dengan kitab lain, Cu. Kitab itu bukan jalan untuk melawan Nogo Samber Jiwo …,” katanya kalem.
Lalu cucu-cucunya menjawab serempak,”Emang masalah buat loe ….” Eyang Resi kembali gedheg-gedheg. Tapi ia belum mau putus asa. Diingatkannya mereka tentang nirwana yang lezat tak terkira.

“Cu, hanya tinggal menunggu sebentar saja kita sampai di nirwana. Jangan sampai keduluan naga jahat itu bangun dan memangsa kita. Ingat ya Cu, nirwana itu indaaaahhhh tiada tara. Apapun yang kalian inginkan, ada di sana. Tapi jika naga itu bangun dan memangsa kita, pupuslah semuanya. Kalian akan mati sia-sia sebab berakhir dalam perutnya yang busuk dan berlendir,” terang Eyang Resi.
Lagi-lagi, cucu-cucunya koor bersama,”Terus kami musti bilang WOW, gitu?!”

Eyang semakin sedih. Anak dan cucunya tak lagi peduli kata-katanya. Dengan langkah lunglai dia kembali ke gua Topobratan.

*******


SUATU hari, kabar besar berhembus santer. Sang Gae Odo-Odo akan berkhutbah di negeri Tanpo Sokoroso. Orang-orang begitu antusias untuk mendengar dan melihat langsung performa panutan baru mereka itu.

Para Pakubumi pun panik. Mereka takut mereka akan semakin larut dalam fatamorgana Sang Gae Odo-Odo. Tanpa dia saja negeri itu menjadi demikian gaduh dan hilang ketenangan, bagaimana jika pentolannya itu malah datang untuk ngompori? Wah, gawat maliwat-liwat!, pikir mereka. Para Pakubumi itu pun kembali menemui Eyang Resi di guanya untuk meminta petuah.

Akhirnya, pada hari H, turunlah Eyang Resi dengan dikawal para Pakubumi. Eyang Resi mengamati sekeliling. Pamflet, baliho, dan poster-poster besar bergambar Sang Gae Odo-Odo bersebar di mana-mana. Tapi rumah-rumah penduduk terlihat sepi. Suwung![7]

“Kemana perginya anak-anakku, Pakubumi?”
“Mungkin mereka berkumpul di alun-alun, Eyang. Disanalah Sang Gae Odo-Odo akan berkhutbah.”
“Mari kita ke sana.”
Sendika dawuh[8], Eyang.”

Dan benar saja. Mereka menyemut memenuhi alun-alun. Sebuah panggung berdiri megah lengkap dengan 100 corong pengeras suara. Melihat kondisi demikian, Eyang Resi begitu kuatir. Suara gaduh mereka sama saja dengan mengundang Nogo Samber Jiwo. Jika makhluk mengerikan itu bangun, tamatlah semuanya …

Dengan segenap kekuatannya, Eyang Resi pun berkhutbah.
“Anak-anakku, kembalilah ke rumah kalian masing-masing. Bacalah kembali Kitab Kalimasada, dan tenangkan diri kalian. Jangan sampai perhelatan besar kalian ini menjadi bumerang yang akan membuat kalian celaka. Jangan sampai nafas kalian berakhir dalam terkaman Nogo Samber Jiwo, dan bukannya melayang menuju  nirwanaloka. Pulanglah kalian …!”

Tak ada yang menggubris. Berkali-kali Eyang mengulang perintahnya. Begitu juga para Pakubumi. Namun suara mereka sekejap hilang tertelan derup massa yang terus berdatangan. Alun-alun pekak. Orang-orang berlarian berebut tempat paling depan. Eyang pun tertabrak-tabrak. Meski dilindungi para Pakubumi, tak urung tubuh rentanya terjerembab ke bumi. Terinjak-injak. Masai. Dengan susah payah, para Pakubumi mengeluarkan Eyang dari kerumunan dan membawanya kembali ke gua.

Di dalam sana, Eyang Resi dan para Pakubumi merapal mantra Kalimasada. Sepenuh jiwa. Syahdu. Silu. Hanya itu yang mampu mereka lakukan untuk menahan Nogo Samber Jiwo dalam lelap peraduan. Mereka terus merapal, siang dan malam hingga tak suara tak lagi keluar. Mereka terus membaca hingga perlahan lebur dalam keheningan. Abadi. Moksa. Tinggallah enam buah Kitab Kalimasada di atas meja batu bundar. Tak terjamah, berdebu, penuh sawang. Buram.

Dan di negeri Sokoroso, khutbah terus berlanjut. Suara hentakan-hentakan dan rapalan mantra Kitab Gangpitu menggelora. Orang-orang bersorak merayakan penghormatan. Dengan tawa berderai-derai mereka ikuti setiap gerak Sang Gae Odo-Odo sebagai bentuk penyucian jiwa model baru, meninggalkan kekunoan yang diajarkan Eyang Resi. Seluruh negeri bergetar karenanya.

Gunung Jabal Kat pun turut bergetar. Nogo Samber Jiwo menggeliat-geliat karenanya. Tubuhnya yang sebesar terowongan kereta bawah tanah London Underground itu mulai bergerak-gerak tak nyaman. Matanya membuka. Merah memberanang. Nafasnya mendengus-dengus. Asap hitam menyembur dari lubang hidungnya yang sebesar kepala orang. Api menyembur ke udara saat mulut baunya menguap lebar-lebar.

Dilihatnya di bawah sana manusia-manusia tengah menghentak-hentak bumi. Laki-laki dan perempuan berpadu padan. Tiba-tiba lapar menyerang. Apalagi saat dilihatnya daging segar dari paha-paha putih mulus tanpa bungkus. Semakin menjadilah bulur melintar. Perlahan, tubuh panjang dan besar itu merayap turun dengan liur melinang-linang.



[Nimas Kinanthipenulis adalah peminat bahasa dan sastra. Alumni Univeristas Brawijaya Malang ini juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)]


Keterangan:
[1] = menghadap
[2] = tata krama
[3] = merunduk
[4] = perundingan
[5] = mengangguk-angukkan kepala
[6] = sedih
[7] = sepi
[8] = iya, perintah dilaksanakan


Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.