News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

I Love You, Jadi Harus Bilang Wow, Gitu?!

I Love You, Jadi Harus Bilang Wow, Gitu?!


KALTIMTODAY -- Pacaran, sekalipun bukan tradisi tanah air, tetapi kini telah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat kita. 

Awalnya, tidak sedikit masyarakat yang menolak tradisi negatif muda-mudi itu, tetapi karena di media massa sering menampilkan film dan sinetron cinta dan pacaran, secara perlahan namun pasti, masyarakat kini oke-oke saja dengan pacaran. 

Maka tidak heran kalau kita lihat sekarang generasi muda bangsa banyak yang asyik jalan berdua dengan pacarnya masing-masing. Jika sendirian, mereka pasti asyik menatap layar handphone. Dan, itu mampu dilakukannya dari pagi hingga pagi kembali.

Di akhir pekan, tempat-tempat publik ramai dikunjungi muda-mudi usia sekolah dan mahasiswa. Mereka bangga dengan pasangannya masing-masing hilir mudik mengitari tempat keramaian. Di hati mereka hanya ada satu kata cinta, cinta, dan cinta.

Tetapi pernahkah kita berpikir, apakah cinta itu memang seperti itu? Bergandengan tangan, berpelukan, dan seterusnya ML (making love), tanpa sebuah ikatan pernikahan, komitmen dan tanggung jawab? Jika memang pengertian cinta itu seperti itu, lalu apa makna keluarga dalam kehidupan ini?

Sebagai generasi muda kita harus menemukan jawaban atas fenomena ini. Setidaknya kita tidak terjebak melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti akar masalah dan alasannya yang mendorong kita untuk melakukan itu semua.

Seperti kebanyakan sahabat-sabahat remaja kita yang melakukan sesuatu tanpa mengerti alasan yang mendorongya. Jika dilontarkan pertanyaan, kenapa melakukan ini dan itu, sering kali jawaban yang diucapkan hanya, “Banyak temen-temen seperti itu, ya udah aku ikut aja”.

Termasuk ketika memutuskan untuk berpacaran. Jawabannya sama, “Temen-temenku pada punya pacar. Masak sih saya jomblo, nggak lucu, kan,” kilah mereka tanpa beban. Parahnya, pacaran hari ini banyak yang sudah tidak wajar, sebagian sudah banyak yang melampaui batas. 

Hal ini tentu harus dipahami dengan benar. Tidak bisa kita hidup hanya dengan argumen orang lain pada begitu. Karena, masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Nah, bagaimana jika kita melakukan sesuatu hanya karena banyak orang melakukan itu. Pacaran misalnya, tentu tidak rasional, kan?

Pacaran juga tidak dikenal dalam peradaban Timur, apalagi dalam tradisi bangsa, dan ajaran agama. Pacaran secara nalar bisa dipahami dengan pasti bukan sebagai wujud cinta yang sesungguhnya. 

Pacaran lebih merupakan pelampiasan hawa nafsu birahi yang awalnya dikendalikan. Tetapi ketika terbiasa, ia menjadi liar dan terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari MBA (Married by Accident), sampai putus sekolah karena hamil di usia sekolah. Bahkan virus mematikan, AIDS [Baca di sini berita selengkapnya].

Seindah apapun cerita tentang pacaran, akhirnya tidak sedikit yang kandas. Seorang pakar cinta pernah berseloroh; “Enam tahun pacaran, begitu menikah, enam bulan kemudian bercerai!”.

Mengapa demikian, karena proses mereka saling mengenal terlampau lama dan interaksi yang dijalani pun terkadang berlebihan. Pada saat yang sama itu semua dilakukan tanpa ikatan, komitmen, dan tentu tanggungjawab.

Maka, tatkala mereka masuk dunia cinta yang sesungguhnya yaitu pernikahan, cinta yang mengharuskan komitmen dan tanggungjawab, mereka tidak siap. Karena pada dasarnya cinta mereka memang tidak dilandasi oleh ketulusan hati, melainkan ketampanan, kecantikan, kekayaan, dan sebagainya yang intinya adalah bukan dasar nalar dan pengetahuan. 

Oleh karena itu, mari kita jauhi tradisi yang tidak seharusnya tumbuh subur di negeri ini. Selagi masih muda perbanyaklah belajar dan berkarya. Sebab kita hidup bukan untuk urusan cinta belaka, apalagi cinta yang dipahami remaja hari ini, yang tak lebih dari sekedar rasa dan nafsu belaka. 



Foto: Ilustrasi

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.