News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Indonesia Akan Miskin Selamanya?

Indonesia Akan Miskin Selamanya?


KALTIMTODAY -- Kemiskinan di negeri ini masih bisa dikatakan belum teratasi dengan baik, bahkan sangat parah. Terdapat banyak bukti untuk menunjukkan bahwa negeri ini masih dilanda kemiskinan. 

Umumnya semua partai di negeri ini mengusung jargon pengentasan kemiskinan, tetapi hingga sekarang kemiskinan tak kunjung terselesaikan. Sebaliknya, kian banyak sekali kemiskinan terjadi. Di beberapa tempat kemiskinan telah mengundang munculnya kerusuhan dan kericuhan sosial.

Para politisi negeri ini juga belum seluruhnya konsen membela kepentingan rakyat. Di antara mereka masih banyak yang sebatas bersuara namun tidak bertindak apa-apa. Dalam beberapa kasus, kemiskinan justru dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok dan individu tertentu.

Entah sampai kapan negeri ini akan terus dilanda kemiskinan di tengah limpahan kekayaan sumber daya yang ada. Untuk itu, mungkin kita perlu mengkaji dan meneladani apa yang telah dilakukan oleh Muhammad Yunus.

Pria kelahiran Chittagong, 24 Juni 1940 Bangladesh itu telah berhasil memberikan kontribusi dan solusi konkrit bagi pengentasan kemiskinan di negerinya. 

Pria lulusan Vanderbit University, Belanda, itu mendirikan usaha yang diberi nama Grameen Bank. Usahanya memberantas kemiskinan dengan Grameen Bank yang didirikannya, mengantar Muhammad Yunus berhasil meraih Nobel perdamaian 2006. 

Keseriusannya dalam mengentaskan kemiskinan benar-benar terbukti. Ia telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin. 

Atas usahanya itu, eks Sekjen PBB, Kofi Annan menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan memberikan akses kredit mikro kepada rakyat miskin benar-benar telah mampu memotong lingkaran kemiskinan yang membelit rakyat.

Sebagai seorang professor, Yunus tidak berpuas diri dengan bekerja di balik meja. Bersama para mahasiswanya di Chittagong University, ia terjun langsung ke desa-desa. Yunus terperangah tatkala melihat rakyat di negerinya banyak yang hidup di bawah kelayakan.

Bahkan tidak saja terperangah, sebagai orang terdidik ia merasa berdosa jika tidak melakukan bantuan apapun terhadap rakyat yang setiap hari ada yang sekarat karena menahan lapar. 

Akhirnya, Yunus tidak lagi menggunakan konsep ekonomi kapitalis yang menyengsarakan rakyat. Bahkan, ia tidak lagi mengajar mahasiswanya dengan teori ekonomi yang membumbung ke langit.

Kini, usaha Muhammad Yunus mulai diakui dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia. bahkan, Bank Dunia yang sebelumnya memandang program itu dengan sebelah mata, belakangan ikut mengadopsi gagasan kredit mikro yang digagas Yunus. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia terbantu dengan program kredit mikro Yunus.

Sayangnya, ketenaran Muhammad Yunus tidak begitu disambut antusias oleh akademisi di Indonesia. Sampai sekarang rakyat miskin sangat kesulitan untuk mendapat akses kredit mikro. Ironisnya, mengapa pemerintah RI juga belum tertarik menerapkan konsep Muhammad Yunus ini. 

Apakah pemerintah merasa dirinya yakin bisa mengatasi kemiskinan lebih dari yang dilakukan Muhammad Yunus? Atau, justru malah tidak begitu semangat bahkan lupa untuk mengentas kemiskinan? Semoga saja tidak.


Foto: Ilustrasi/mangde.wordpress

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.