News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Internet Setajam Silet, Bisa Melukaimu!

Internet Setajam Silet, Bisa Melukaimu!

KALTIMTODAY -- BEBERAPA waktu lalu, orang-orang di sebuah kampung dikejutkan dengan peristiwa yang cukup membuat geger. Seorang wanita sudah baya, sebut saja namanya Bu Fulanah, kedatangan serombongan tamu tak diundang dari luar kota. 

Tanpa terlalu banyak berbasa basi, juru bicara tamu-tamu tersebut dengan bahasa yang santun, mengatakan bahwa cucu Bu Fulanah telah lahir seminggu yang lalu. 

Bu Fulanah terkejut bukan kepalang sebab belum satupun dari ketiga anaknya yang telah menikah. Dengan wajah penuh emosi Bu Fulanah memaki tamu-tamunya tersebut dan menuduh mereka mengada-ada. 

Untuk menjernihkan suasana yang tiba-tiba mulai memanas itu, salah seorang dari tamu-tamu tersebut meminta Bu Fulanah memanggil Fulanto, sebut saja begitu, putra sulungnya. Bu Fulanah memenuhi permintaan mereka dan Fulanto pun hadir di tengah-tengah pertemuan itu. Wajah Fulanto menyembul dan terlihat pucat pasi dengan keringat dingin mengucur di dahinya. 

Usut punya usut, ternyata Fulanto adalah bapak dari si jabang bayi yang diklaim sebagai cucu Bu Fulanah. Bu Fulanah yang semula meledak-ledak hanya bisa menangis sesenggukan ketika Fulanto dengan nada gemetar mengakui perbuatannya. 

Berawal dari perkenalan via situs jejaring sosial Facebook, Fulanto mengenal Bunga, sebut saja demikian. Dari komunikasi yang intens dilakukan, benih-benih cinta pun bersemi di hati kedua muda-mudi yang masih tercatat sebagai siswa SMA kelas 2 itu. Janji untuk bertemu pun dibuat. 

Dan selanjutnya, dapat ditebak. Keduanya meresmikan diri sebagai sepasang kekasih. Pertemuan demi pertemuan dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua masing-masing, hingga akhirnya memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan [tapi mereka berdua menginginkan]. 

Bunga pun hamil karena pergaulan bebas yang mereka lakukan. Sementara itu, Fulanto terus saja menghindar dan mengulur-ulur waktu ketika Bunga meminta pertanggungjawaban. 

Pada puncaknya, ketika bayi dalam perut Bunga lahir. Kesabaran Bunga dan orangtuanya habis sudah. Dengan dikawal oleh beberapa perangkat desa, berangkatlah keluarga Bunga ke rumah orang tua Fulanto untuk menuntut pertanggungjawaban.

Singkat cerita, rencana pernikahan pun segera dirancang secepat mungkin. Dengan sangat disayangkan pula, sekolah merekapun harus putus sebab pihak sekolah tidak bersedia lagi menerima mereka sebagai siswa dengan alasan menjaga nama baik sekolah.

Setajam Silet!
Alangkah tragis kejadian di atas. Rasanya, apa yang menimpa Fulanto dan Bunga bukan hanya milik mereka. Seringkali kita mendengar adanya kasus serupa yang dimuat oleh  media cetak maupun media elektronik di tanah air. Kasus siswa yang minggat bersama kekasihnya yang  dikenal lewat dunia maya, kasus pelecehan seksual, dan juga tersebarnya video porno dengan pemeran siswa-siswi sekolah.

Masyarakat awam cenderung menyalahkan internet sebagai media yang membidani lahirnya berbagai hal negatif yang marak terjadi saat ini. Internet menjadi kambing hitam yang keberadaannya patut dipersalahkan. Benarkah demikian? Marilah kita berpikir lebih terbuka tentang hal ini. 

Yang pertama, apakah perbedaan internet dengan manusia? Internet adalah benda mati yang tidak dapat melakukan apa-apa tanpa adanya komando dari manusia. Internet tidak akan dapat melakukan fungsinya tanpa adanya intervensi dari penggunanya yang dalam hal ini adalah manusia. 

Ibarat sebilah pisau. Dalam keadaan tidak difungsikan, setajam apapun sebuah pisau, bahkan lebih tajam dari silet, tetap tidak akan muncul daya gunanya. Tapi ketika tangan manusia menggunakannya untuk mengiris, barulah pisau tersebut berfungsi. Begitu juga dengan internet.

Sedangkan manusia adalah makhluk hidup yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. Manusia memiliki kemampuan untuk beraktifitas, berkreasi, mencipta, serta memiliki kemampuan untuk berpikir atau memiliki akal. Manusia dapat memilah apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari karena melanggar norma yang berlaku baik norma agama maupun norma sosial kemasyarakatan.

Kembali saya ibaratkan dengn sebilah pisau. Manusia dapat berpikir apa yang harus dilakukannya dengan sebilah pisau. Ketika manusia memanfaatkannya untuk mengiris sayur-sayuran atau menguliti buah-buahan, tentu saja akibat positif yang didapatkannya. 

Tapi, ketika manusia menggunakan sebilah pisau untuk melukai orang lain, maka akibat buruk yang dia terima. Dia akan mendapat sangsi setimpal atas perbuatannya yang tercela yaitu masuk penjara sebagai seorang tahanan.

Demikian juga dengan internet yang menyediakan data dengan sangat cepat dan tanpa batas. Pemanfaatan internet sudah menjangkau ke seluruh lini kehidupan manusia saat ini. Ketika manusia memanfaatkan internet untuk hal-hal yang baik, maka akibat baik pula yang didapatkannya. Seperti kita ketahui, internet adalah sumber informasi yang tidak terbatas. 

Informasi apapun dapat kita akses dari internet. Manusia yang bijak, akan menggali sebanyak-banyaknya informasi dari internet untuk menambah ilmu dan wawasan. Seorang guru dapat mengakses berbagai informasi tentang perkembangan pendidikan, seorang siswa dapat mengakses situs-situs tentang pembelajaran, seorang penulis dapat mempromosikan buku-buku hasil karyanya, bahkan seorang ibu rumah tanggapun dapat mengakses resep-resep masakan mutakhir sebagai variasi menu makan keluarga. 

Tapi, ketika manfaat internet disalahgunakan, maka akibat negatifnya tentu saja akan mengikutinya. Kemudahan pengaksesan informasi di satu sisi menguntungkan, namun di sisi lain cukup mengkhawatirkan bagi pengguna internet yang tidak memiliki filter cukup untuk menyaring informasi yang menguntungkan. 

Hal tersebut seperti yang terjadi pada generasi muda kita saat ini. Menjamurnya warung internet (warnet) di mana-mana, dan kemudahan mengakses internet via ponsel, menggoda mereka untuk mendapatkan informasi yang tidak pada porsinya. Umumnya, situs-situs yang berbau pornografi adalah favorit mereka. Tontonan tidak layak ini menjadi faktor pemicu utama terjadinya kasus-kasus pelecehan seksual, kehamilan di luar nikah, bahkan perkosaan.

Penyebab berikutnya adalah penyalahgunaan media jejaring sosial yang merupakan salah satu produk berbasis internet dengan pengguna mayoritas. Pertemanan lewat dunia maya yang menjadi wadah terciptanya silaturahmi secara luas tanpa harus bertemu muka. Fasilitas chatting menjadi pilihan dominan untuk berkomunikasi dengan siapapun dengan jarak sejauh apapun. Sangat fleksibel, efektif, dan murah meriah. 

Tapi -lagi-lagi- pemanfatan yang salah dari fasilitas ini akan berakibat fatal. Banyak orang-orang yang menjadikan jejaring sosial sebagai media untuk melakukan penipuan, tak terkecuali di kalangan pelajar. Umumnya mereka menjalin hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan dengan lawan jenisnya. 

Komunikasi yang hanya dilakukan lewat dunia maya memberikan keuntungan tersendiri sebab seseorang dapat mengatakan apapun tentang dirinya dengan “aman” terlepas hal tersebut nyata ataukah tidak alias berbohong. Pasanganpun dibuat tergila-gila padanya, hingga puncaknya mereka melakukan kopi darat, dan kebablasan hingga melakukan hal-hal tidak selayaknya dengan mengatasnamakan cinta mereka.

Salah Siapa?
Anda mungkin sedang bertaruh penilaian, siapakah yang patut disalahkan atas maraknya kejadian pelecehan seksual yang terjadi dari dunia maya?  

Ketika sebilah pisau melukai jari pemakainya karena kekuranghati-hatian, manakah yang lebih bijak untuk dilakukan? Menggunakan pisau tersebut dengan lebih berhati-hati ataukah membuang pisau tersebut agar tidak melukai lagi?. 

Perumpamaan tersebut berlaku juga untuk internet. Apakah internet harus dihindari atau dinonfungsikan? Tentu tidak, bukan?. Beginilah setidaknya jawaban mayoritas masyarakat.

Menghindari keberadaan internet sama halnya dengan menutup diri dari perkembangan yang terus bergerak cepat. Akibatnya, kita seperti katak dalam tempurung yang ketinggalan informasi di segala bidang. Bagaimana kita bisa memajukan kehidupan dengan kondisi demikian? 

Ketika keberadaan internet memberikan efek negatif terhadap pemakainya, sudah selayaknya diadakan reformasi dalam penggunaan internet. Pengguna internet harus lebih berhati-hati dan selektif dalam mengambil informasi yang didapatnya sehingga internet dapat memberikan manfaat secara optimal dalam kehidupan. 

Yang perlu dicatat baik-baik, bukan internet yang patut disalahkan atas kasus-kasus yang terjadi akibat penyalahgunaan informasi darinya sebab internet hanyalah benda mati belaka. Manusia selaku penggunalah yang wajib memiliki filter agar dapat memilih informasi yang patut diterimanya.***


[Nimas Kinanthi, penulis adalah blog writer www.kaltimtoday.com. Peminat bahasa dan sastra ini kini sedang proses menyelesaikan buku perdananya. Ia juga aktif di forum Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.