News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Penyusutan Dana dan Qurban Si Darmin

Penyusutan Dana dan Qurban Si Darmin


KALTIMTODAY -- ‘IDUL ADHA adalah saatnya makan daging. Itulah yang sedari kecil menjadi anggapan Darmin. Daging menjadi makanan yang spesial karena hanya dapat dimakan setahun sekali. 

Makan daging buatnya merupakan cita-cita yang amat tinggi, karena untuk makan tempe tahu dan sambal terasi pun dia sudah sangat bersukur.

Karena itulah jika ada sisa hasil dari angon kambing milik Haji Tohir, selalu dia sisihkan demi harapan dia yang tinggi itu. Namun apa daya, kasih tak sampai, sedikit-sedikit dia harus bayar inilah itulah. Ya memang terutama untuk urusan sekolah Darmin tidak mau pelit, karena dia harus menunaikan wasiat almarhum bapaknya “orang yang berilmu akan diangkat derajatnya”. 

Penghasilan sang ibu yang cuma buruh tani juga tidak terlau bisa diandalkan, karena memang itu bukan bidang ibunya. Ditambah lagi masih ada adiknya yang duduk di bangsku SD.

Hari Raya Qurban akan kembali datang. Ini menjadi sebuah kesyukuran baginya dan sudah membayangkan tahun ini dia dan keluarganya jadi makan daging. Setiap ‘Idul Adha Haji Tohir yang juragan ternak biasannya nyembelih satu sapi dan dua kambing. Otomatis Darmin sebagai karywan akan dapat jatah dari bosya selain dari daging yang dibagikan masjid. 

Karena itulah mengapa Darmin rela bekerja keras sehabis pulang sekolah. Jika hari raya tiba Haji Tohir pun kebanjiran order, kambing-kambing yang cukup umurnya harus dikirim ke kota untuk dijual. Dalam hati Darmin, terbesit kegalauan, namun apa itu?

“Ji, biasanya kalo dikota satu kambing harganya berapa?" Tanya Darmin pada Haji Tohir.
Kalo yang kecil itu di kota bisa sampe 1,3 juta, Min” jawab Haji Tohir sambil menunjuk kambing warna coklat di belakang Darmin.
“Untungnya gede juga ya, ji?”
“Ya gitu, kalo udah mau lebaran gini jadi naek” Darmin pun manggut-manggut “Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Mau jualan kambing?”
“Eh, enggak Pak Haji, cuma mau nanya” Darmin pun kembali ke rumah.

Dalam dalam bekerja hari itu Darmin berfikir keras, bayangkan jika dia bisa dapat keuntungan juga dari jualan kambing. Bulan berikutnya dia bisa makan daging. Tanpa banyak pikir lagi, dia pun berputar arah.

“Ji, saya mau deh ikut jualan kambing ama sapi!!!” kata Darmin keras-keras keesokan harinya. Haji Tohir diam sejenak sambil mengelus-elus dada karena kaget dikira ada kambing atau sapi yang lepas lari ke arahnya.

“Ente ini, Min!” kata Pak Haji sambil menepuk pundak Darmin “Untung gak jadi copot aku punya jantung ini” Darmin jadi serba salah jadinya “ Ya, udah, besok kamu ikut Manto aja ke kota kecamatan ya, inget habis subuh dah harus berangkat”.

Betapa bahagia hati Darmin, rencana untuk makan daging bulan depan bisa terlaksana “Makasih banyak ya bos”. Darmin pun memeluk dengan erat bosnya itu, eh, Pak Haji Tohir maksudnya. Dia pun melangkah ringan menuju rumah. 

Esoknya dari lepas Subuh sampe sebelum masuk sekolah, dan sepulang sekolah sampai Asar dia ikutan jualan ternak. Setelah itu, dari Asar sampe Maghrib dia ngarit. Untunglah sekolahnya juga di kota kecamatan.

Aktifitas yang padat, dari jualan hewan kurban sampe ngarit dan ngangon membuatnya kelelahan, tak ayal lagi Darmin jadi sering ketiduran di kelas.

“DARMIN!” Brak, meja Darmin digebrak Pak Daus, guru ekonomi

“Eh, uh, mau beli kambing, ya?” Ha-ha-ha-ha, tawa pecah seketika. Darmin yang sedang gelagapan itu pun segera sadar kalau dia sekarang berada di kelas.

“DIAMMMM!” hap. Semua mulut yang terbuka lebar sekarang tertutup rapat semuanya. “Darmin, coba kamu jelaskan apa yang dimaksud penyusutan dana?”

Darmin garuk-garak kepala mencari-cari barang kali ada jawaban yang jatuh dari sela-sela rambutnya . “Emm, emmm, emmmm, emboten ngertos, Pak”.  Ha-ha-ha-ha, anak-anak kembali tertawa.

“DIAMMM!” sunyi senyap kembali melanda kelas. ”Mboten ngertos, mboten ngertos, sekarang kamu berdiri di lapangan terus bawa buku, cari sampai dapet apa itu penyusutan dana, jangan masuk kalo kamu belum hapal. Dan jangan ngelucu lagi, saya sudah tidak kuat nahan ketawa lagi!” ‘emph’ anak-anak sekuat tenaga menutup rapat mulutnya.

Di lapangan Darmin segera membuka-buka bukunya. Dana penyusutan adalah dana yang berasal dari penyusutan yang disisihkan untuk tujuan penyusutan harta tetap. “Susah juga, nih. Masuk aja ah dari pada gak paham”. Dia membatin.

“Jadi penyusutan dana itu dana yang disisihkan untuk mengganti barang atau harta yang habis umurnya, atau juga bisa untuk biaya perbaikan tersebut, contoh seperti motor, mobil, komputer, telepon dan lain-lain,” begitulah penjelasan pak Daus.  “Paham kamu, Darmin?!” Darmin pun manggut-manggut.

Syaraf-syaraf otak Darmin mulai berpacu, berarti penyusutan dan bisa berarti duit yang ditabung buat barang tertentu. Darmin melihat ke arah keluar, dia melihat kambing-kambing. Aha, tiba-tiba Darmin mendapat akal. Dia pikir-pikir daripada makan daging sendiri terus cuma dapet kenyang, lebih baik sekalian dapet pahala. Sepulang dari kota kecamatan dia akan menemui Haji Tohir. 

“Assalamu’alaikum, Pak Haji”
“Waalaikumsalam, Min. Alhamdulillah gak ada kambing yang lepas mau nyeruduk saya, ada apa kok tumben kalem begini?”
“Enak aja, itukan dulu. Gini ji, saya mau nanya, kalo kambingnya dijual di sini harganya berapa?”
“Berhubung sekarang mau lebaran jadi satu juta” wajah Darmin jadi pucat lesu. “Emang kenapa, Min?”
“Saya pengen beli kambing”
“Ooo, ente punya duit berapa?” 

Darmin segera membuka gulungan sarung yang dia pakai sebagai tempat dia menympan uang. Tumpukan uang kumal pun muncul. Setelah dihitung-hitung “Ada emapt ratus dua puluh delapan ribu” jawabnya.

“Itu mah cuma bisa buat beli cempe” kata Haji Tohir, wajah Darmin menjadi lesu kembali. “Udah berapa kambing yang kamu jual?”
“Udah enam belas”
“Alhamdulillah, banyak juga ya” Haji Tohir takjub dengan keahlian Darmin, “ya sudah ambil sana!”
“Maksudnya?”
“Itu ambil yang rada gedean!
“Kambingnya?” Haji Tohir mengangguk dengan mantap “Alhamdulillah!!!” syukur Darmin keras-keras sambil berusaha memeluk Haji Tohir tapi tidak jadi karena dia menodongkan tongkatnya.
“Awas kamu nyeruduk saya lagi!”
”Ya udah deh, cium tangan aja boleh?” tawar Darmin
Haji Tohir mengulurkan tangannya dengan hati-hati “Tapi inget, besok jualannya harus lebih laku lagi”
“Siap bos, jangan khawatir kalo perlu sampe yang jualan juga bakal laku”
“Maksudnya?” Haji Tohir tidak mengerti.
“Ya, masak kambing doang yang boleh laku. Saya kan pengen laku juga”
Ngarep aja ente, hehehehe” 
Darmin pun pulang denngan jingkrak-jingkrak.

********

Tanggal 26 Oktober 2012, di lapangan halaman masjid Ummul Quro yang cukup luas. Matahari pagi bersinar sangat lembut, tak terlalu panas, tak juga menyengat meski mentari sesekali dilingkupi gumpalan awan kecil. Ratusan orang berpakaian putih-putih di tanah duduk rapi di altar yang telah disediakan. Darmin juga ada di sana, bersama ibunya. 

Allahuakbar, Allahukbar, Allahuakbar, Laa Ilaaha Illaallahu Allahukbar, Allahuakbar wa lillahilhamd. Takbir Idul Adha tahun ini terasa sangat berbeda bagi Darmin karena lebaran sekarang dia sudah bisa berkurban. 

Hari itu ibunya pun bahagia sekali melihat namanya digantung di leher kambing yang dijadikan kurban hasil jerih payah anaknya tercinta. Mulai tahun ini Darmin bin Darman akan melakukan penyusutan dana guna berqurban InsyaAllah.


[Chaliph Rifat, penulis adalah peminat kajian sosial dan linguistik. Kini aktif di Forum Pelajar Islam Menulis (FORPIM)]


KETERANGAN:
Angon = mengembala
Ngarit= memotong rumput untuk makan ternak
Mboten ngertos= tidak tahu
Cempe= anak kambing

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.